Air Matamu adalah Lukaku
Oleh: DANDS MANN DIAMONDS
Api cinta Susan kepada David tidak padam oleh pengkhianatan, melainkan oleh sesuatu yang lebih sunyi: rasa iba yang mengendap pada Raka. Dalam diri Raka, Susan melihat bayangan hidupnya sendiri—rapuh, terabaikan, dan diam-diam menemukan rasa senasib seperjuangan.
***
Sore itu, di kafe tempat Susan bekerja paruh waktu, ia duduk di samping Raka, menatap layar ponsel yang memantau pesanan ojek daring. Di sela bunyi notifikasi dan aroma kopi, Susan memecah hening yang menggantung di antara mereka.
“Bagaimana kalau kita serius,” katanya pelan, lalu berhenti sejenak, “ayo… kita nikah?”
Raka menatap bola mata Susan—bening, sayu, namun menyimpan binar yang sulit diabaikan.” Cahaya lembayung senja menyelinap ke dalam ruang kafe, menerpa wajah Susan yang tampak anggun sekaligus rapuh, menahan pandangan Raka.
“Kamu anugerah terbaik bagiku. Kita berjuang bersama,” ucap Raka. Kalimat yang menguatkan harapan Susan yang terbelah diam-diam di dadanya.
Saat itu juga, Susan menelepon David. Dengan air mata yang berurai, ia memutus ikatan cinta—mengabaikan perasaannya sendiri demi keputusan memilih Raka.
Suaranya bergetar. “David, maafkan aku. Kita putus.” Telepon ditutup. Tanpa penjelasan. Tanpa memberi ruang bagi David untuk bertanya.
Raka merasakan getaran tubuh Susan. Ia tahu, di hati Susan masih ada nama David—seperti cintanya sendiri dulu, yang kandas oleh alasan serupa: hubungan yang tak sebanding, selalu menyisakan pilu yang sukar dijelaskan.
Notifikasi di ponsel Raka berbunyi. Ia berpamitan. Pandangan Susan mengikuti punggung Raka yang menjauh. Ada kerapuhan yang beririsan dengan nasib dan keprihatinan hidup. Ia ingin percaya bahwa rasa iba kelak dapat tumbuh menjadi cinta, meski di lubuk hatinya keyakinan itu belum sepenuhnya utuh.
Susan berbisik, seolah menitipkan pesan pada semilir angin yang menyapa David,
“Biarkan cintamu kusimpan sebagai kenangan. Maafkan aku. Aku tak cukup berani hidup di antara kemegahan yang selalu menaungimu.
***
Beberapa bulan kemudian, Susan dan Raka menikah. Hajatan itu berlangsung sederhana—tanpa gemerlap berlebihan, namun sarat harapan. Di antara senyum para tamu dan denting sendok yang beradu pelan, bayangan David kembali menyelinap ke ingatan Susan, samar tetap menyala, seperti bara kecil yang enggan sepenuhnya padam. Cinta, rupanya, tidak selalu berakhir; ia kadang berubah rupa, bersembunyi sebagai kenangan yang diam-diam bertahan.
Di pelaminan, Susan dan Raka berpegangan tangan, mengikat janji untuk saling menjaga hati dan setia menempuh hari-hari ke depan.
Senyum Susan terbingkai rapi, langkahnya mantap di hadapan orang banyak. Namun jauh di sudut batinnya, ada kegamangan yang belum menemukan kata—sebuah tanya yang terus berdenyut pelan: apakah keputusan ini sungguh tepat, atau sekadar jalan yang dipilih agar luka tak semakin dalam?
Setelah menikah, mereka hidup di rumah kontrakan. Penghasilan Raka tidak menentu. Janji setia membuat segalanya terasa mungkin, meski sederhana adanya. Mereka bertahan dalam keterbatasan yang kelak disadari akan menguji perjalanan hidup.
Susan memutuskan berhenti kuliah. Ia menumpahkan perhatiannya pada urusan keluarga dan membantu menopang dapur rumah tangga. Sementara itu, atas dukungan Susan, Raka tetap melanjutkan kuliah demi masa depan keluarga yang mereka impikan bersama. Jalan ke depan masih panjang.
Setahun kemudian lahirlah putri pertama mereka. Suka cita mulai terasa, mengisi rumah dengan tangis kecil yang menenangkan. Putri kedua lahir pada tahun keempat. “Dua anak cukup, laki atau perempuan sama saja,” tekad Susan, memastikan pendidikan anak-anaknya kelak.
Kesibukan Susan bertambah. Justru Raka perlahan berubah—kurang peduli pada pekerjaan rumah tangga, tak lagi menemani Susan seperti dulu ketika segalanya masih sederhana dan penuh kedekatan.
Raka masih berkutat di pangkalan ojek daring dan merasa frustasi dengan pekerjaan yang tak sebanding dengan ijazahnya. Hidup terasa mandek, tanpa peningkatan penghasilan. Pikirannya kusut, gelisah, mudah tersulut emosi. Perjalanan hidup kian melelahkan.
Setiap Susan membicarakan keuangan, Raka merasa itu sindiran. Setiap Susan bercerita tentang penghasilannya dari toko online, Raka tersinggung. Percikan kecil perselisihan bermunculan, mengeraskan suasana hati.
Ketulusan Susan disalahartikan sebagai tekanan halus pada harga diri Raka. Kebahagiaan perlahan memudar. Pengorbanan Susan terasa sia-sia.
Pertengkaran sering terjadi tanpa solusi, membuat rumah tangga terasa hampa, seolah menyisakan ruang kosong yang tak lagi bisa saling mengisi.
Suatu hari, kakak Susan berkunjung. “Beruntung punya istri yang rajin mengurus rumah tangga dan pintar cari uang.” Kalimat itu tertinggal seperti palu godam, menghantam batin Raka. Ia teringat keluarga mantannya dulu—memandang sebelah mata, menganggapnya tak sebanding. Luka lama itu kembali menganga.
Susan yang dulu gemar bercerita kini lebih sering diam. Raka makin banyak menghabiskan waktu di luar rumah, berlindung pada alasan “nambah orderan”. Ia menyembunyikan rasa rendah diri yang semakin menghujam.
Komunikasi membeku. Serumah, tetapi hidup seolah di dunia berbeda. Ruang tamu berantakan. Dapur kacau. Kamar tidur kehilangan kerapian. Rumah menjadi cermin retaknya kehangatan.
Suatu malam Susan berkata lembut, “Aku cuma ingin kita saling terbuka. Aku lelah menebak apa yang kamu mau.”
“Kamu tidak akan pernah paham!” bentak Raka.
Susan terabaikan oleh jarak yang tak pernah ia ciptakan. Raka tertekan oleh kegigihan yang tak pernah ia minta. Hal-hal kecil menjelma pertengkaran.
Di kesunyian malam, sebuah unggahan lama mendapat tanda suka dari David. Hati Susan bergetar. Ia teringat sosok David—mapan, penuh cinta. Namun ia segera menepisnya. Tidak. Aku sudah memilih Raka.
***
Hari itu Susan menambah stok barang toko onlinenya. Pertengkaran besar meledak.
“Kamu boros! Toko online tidak butuh stok barang!” bentak Raka.
Susan menahan air mata. “Aku ingin branding yang baik. Kamu tak pernah memperhatikan tren pasar!”
“Kamu tidak mengerti perasaanku!” Raka pergi. Susan terpaku, memeluk bayinya. Anak pertamanya menangis ketakutan.
Setiap nada tinggi Raka melukai hati Susan. Rumah terasa seperti neraka. Apakah cinta yang lahir dari iba hanya akan berujung luka? tanyanya dalam hati.
Hubungan membatu. Raka sering pulang malam. Alasan klise menambah jarak yang makin sulit dijembatani.
***
Kabar gembira datang. Raka dinyatakan lolos seleksi CPNS. Pengumuman itu adalah harapan yang selama ini ia dambakan.
Raka sengaja tidak memberi tahu Susan. Ia ingin menunjukkan dirinya dapat berhasil tanpa keterlibatan Susan. “Akhirnya aku bekerja di pemerintahan, posisi yang membuatku tak lagi dapat dipandang sebelah mata oleh siapapun,” ujarnya dengan bangga yang nyaris meledak dari dadanya.
Raka bergegas pulang. Wajah Susan tanpa riasan terlihat tampak kusam dan lelah. Raka duduk mendekat. “Sus… maafkan, aku mau bicara serius.”
Susan berharap—dengan sisa keyakinan yang masih ia genggam—bahwa Raka akhirnya meminta maaf dan mau mengubah sikap, lebih memperhatikan keluarga.
Lama saling diam, udara terasa berat menekan. “Aku mau kita berpisah,” bicaranya tersekat. “Banyak ketidakcocokan di antara kita,” tambah Raka, dengan suara yang terdengar jauh dari apa pun yang Susan bayangkan.
Kata itu seperti guntur tanpa mendung. Susan tak percaya. “Apa maksudmu?”
“Aku… sudah mantap. Aku jatuhkan talak tiga,” ucapnya, yakin tak bergeming, setegar tembok yang tak memberi celah.
Dunia seakan berhenti seketika. Susan terjatuh berlutut, air mata mengalir deras, diikuti tangisan anaknya dalam gendongan. Semua yang diperjuangkan—tahun-tahun penuh pengorbanan, malam-malam panjang demi Raka—runtuh seketika, meninggalkan kehancuran yang menusuk hingga terasa meremukkan tulang dadanya. Sakit tak terkira. “Kamu tega. Anak-anak butuh figur kasih sayangmu.”
***
Berita talak menyebar cepat. Di media sosial, wajah Susan muncul di berbagai akun komunitas perempuan. “Istri setia dicerai, setelah suaminya diterima PNS.”
Narasi simpati mengalir deras, dibanjiri dukungan warganet dari berbagai penjuru. Viralitas itu menampakkan Susan sebagai perempuan yang sabar dan tabah. Di balik layar gawai, Susan membaca satu per satu pesan—sebagian menguatkan, sebagian hanya ikut berduka—namun semuanya mengabarkan hal yang sama: ia tidak sendirian.
Banyak orang menawarkan kerja sama usaha—dari butik, kuliner, sampai produk kecantikan.
Wajahnya kembali dirias semakin cantik, bukan untuk menutup luka, melainkan menandai keberanian baru. Bantuan dan modal datang tanpa diminta, seolah semesta memberi ganti atas deritanya. Dari titik paling rapuh itu, perlahan terbuka jalan baru. Susan terpuruk, lalu bangkit. Ia simbol perempuan tangguh: dikhianati, namun tak runtuh; disakiti, tetapi justru bertumbuh.
***
Titik balik justru terjadi pada Raka. Ia kehilangan segalanya—pekerjaan, keluarga, dan kehormatan. Instansi pemerintah membatalkan SK karena masalah moral dan beritanya viral.
Rasa sesal membuat Raka—dengan hati yang porak-poranda—ingin rujuk demi alasan anak-anak.
Tapi dunia sudah berubah. Bukan Susan yang menjawab, melainkan jagat maya. Netizen yang dulu membela Susan kini menjadi benteng sosial digital yang menghadangnya tanpa kompromi.
Setiap kali Raka muncul, komentar pedas menghujani—seperti gelombang yang tak memberi ruang napas, menampar nuraninya. Serangan netizen benar-benar tanpa ampun.
Susan memilih diam, tak membalasnya. Ia tahu, beberapa luka tak menuntut jawaban tergesa, melainkan kedewasaan untuk ditimbang perlahan.
Dukungan warganet mengalir seperti pagar tak kasatmata—menguatkan, sekaligus mengikat. Menerima kembali Raka berarti melukai banyak simpati yang telah ia jaga; menolak sepenuhnya pun berarti mengingkari harapan kecil yang diam-diam masih berdenyut di dadanya.
“Biarlah waktu yang membuktikan,” bisik hatinya lirih, “siapa yang sungguh mencintai tanpa syarat, dan siapa yang mampu menerima kita apa adanya.”
***
Berita viral itu menyentuh David. Kenangan cinta lama menyelinap halus—bukan sebagai luka yang menuntut kembali, melainkan sebagai ingatan akan ketulusan yang pernah ia jaga sepenuh hati. Ia membaca seluruh kisah Susan. Diam-diam mengakui bahwa perempuan itu pernah menjadi arah masa depannya.
Kini David berkeluarga. Sebagai CEO agensi kreatif yang mapan, seluruh perhatiannya tertambat pada rumah tangga yang ia rawat dengan penuh tanggung jawab. Namun dari kedewasaan cinta itu, lahirlah empati yang tak berisik. Atas izin istrinya, ia menyumbangkan sebuah rumah—bukan sebagai pengganti masa lalu, bukan pula isyarat kembali—melainkan sebagai bentuk kasih yang telah berubah rupa.
David hanya ingin Susan bahagia, tanpa pamrih dan tanpa nama. Sebab bagi cinta yang pernah tulus, kebahagiaan orang yang pernah dicintai tak perlu lagi dimiliki. Cukup dipastikan ia tak lagi menangis—karena dahulu, dan mungkin selamanya, air matamu adalah lukaku.
***
Penulis : DANDS MANN DIAMONDS
Editor : Didik PW
Sumber Berita: Dands Mann Diamonds











