Menulis Serenyah ‘Kerupuk’, Bagimana Langkahnya?

- Publisher

Rabu, 1 Januari 2025 - 16:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO : Dokumentasi Ustadz Khairul Hibri saat memberikan sharing santai bersama puluhan jurnalis dan wartawan media nasional Suara Utama (Mas Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

FOTO : Dokumentasi Ustadz Khairul Hibri saat memberikan sharing santai bersama puluhan jurnalis dan wartawan media nasional Suara Utama (Mas Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

Oleh: Khairul Hibri, Dosen STAI Luqman Al – Hakim, Surabaya, Jawa Timur

SUARA UTAMA Pada Ahad 29 Desember 2024, ane diminta untuk sharing dengan puluhan wartawan dari media nasional Suara Utama dan pegiat literasi.

FOTO : Dokumentasi Ustadz Khairul Hibri saat memberikan sharing santai bersama puluhan jurnalis dan wartawan media nasional Suara Utama (Mas Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)
FOTO : Dokumentasi Ustadz Khairul Hibri saat memberikan sharing santai bersama puluhan jurnalis dan wartawan media nasional Suara Utama (Mas Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

Tema besarnya, mengupas rahasia di balik ‘kerenyahan’ karya tulis. Titik tekannya, ada pada kata ‘renyah.’ Kalau merujuk KBBI, kata itu (renyah) memiliki arti; kering, rapuh, dan mudah remuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau diistilahkan cemilan, tak ubahnya kerupuk atau peyek. Menu pelengkap ini memiliki tiga sifat di atas. Karenanya, kalau digigit, kita tak perlu tenaga kuat-kuat. Cukup buka mulut, taruh kerupuk di gigi, tutup mulut, maka akan keluar suara kriuuukkk, tanda krupuk telak pecah, terpotong di dalam mulut. Segitu mudahnya.

Kira-kira, karya tulis semisal itulah yang ingin dihasilkan. Asyik dinikmati sajian tulisannya. Ringan untuk dicerna isinya. Nikmat merasakan nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Saking asyik menikmati, ingin segera ‘melahap’ sesegera mungkin. Bahkan, tak mau berhenti sebelum tuntas.

Lalu, dari mana kita memulai tulisan nan demikian? 

Tulisan itu tak ubahnya pembicaraan. Semua akan terasa ringan dan diserap oleh lawan bicara (pembaca), bila muaranya datang dari hati. Dari ketulusan jiwa. Maka, niatlah yang pertama yang perlu dijaga.

BACA JUGA :  Lahan 80 Hektare Raib Tanpa Hasil, Ahli Waris Gandeng DPD LSM BAKIN Jambi Laporkan Kasus ke Mabes Polri

Orang yang tulus, maka bawaannya akan tenang. Tak ada beban di hatinya. Yang ada, malah berbunga-bunga, karena ingin berbagi informasi kepada pembacanya.

Cobalah lihat ibu-ibu kompleks yang tengah mengerumpi. Begitu ekspresif si penyampai berita memberitakan informasi. Dan begitu antusia si pendengar mendengarkan. Padahal itu perkara ghibah, yah.

Kalau kita gunakan rumus kebalikannya (dalam istilah ilmu ushul fiqh ‘marhum mukhalafah’); suasana demikian pula yang akan terjadi, bila kita sampaikan kebaikan (informasi positif) dari hati. Dalam konteks pembahasan kita, via tulisan.

Agar pikiran tidak terlalu ditunggangi beban dalam menulis, maka mulailah tulisan itu dari apa yang dikuasai/diketahui. Tidak perlu bermuluk-muluk dulu.

Ketika seseorang sukanya melancong ke pegunungan, misalnya, maka mulailah menulis dengan membuat catatan perjalanan. Dibuka dari titik start, jumlah anggota yang ikut serta, lika-liku perjalanan, gambaran eksotisme pemandangan, hingga akhirnya sampai di garis finish.

Agar tulisan tidak hanya mengandung informasi, tapi juga terdapat nilai-nilai kehidupan, maka selipkan pula dalam karya itu ‘mutiar-mutiara’ yang bisa diambil dari proses pelancongan itu. Mustahil tidak ada. Tinggal kita merenung sedikit, maka akan kita akan dapati pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanan yang dilalui.

BACA JUGA :  Badan Usaha Milik Daerah(BUMD) Masuk Rapor Merah KLHK, Ada Apa dengan PT IPB?”

Menulis dengan pola ini, sejatinya, strategi produktif berkarya yang diberikan oleh Buya Hamka kepada salah seorang anaknya, bakda melakukan perjalanan ke Jepang.

Saat itu sang Buya dibuat penasaran, perihal sang buah tak kadung menyetorkan tulisan catatan perjalanannya, untuk media yang beliau kelola. Setelah ditelusuri, didapati alasan dari sang anak;

“Aku tengah mengumpulkan data-data, ” ucapnya.

Maka, terkait dengan alasan sang putra tercinta ini, Buya menasehati; “Mulailah menulis dari apa yang engkau ketahui. Baru setelah itu, sempurnakan dengan data-data (yang dibutuhkan).”

Hal lain yang patut diperhatikan, ialah pilihan kata-kata. Namanya saja sajian ‘kerupuk,’ maka sebisa mungkin kita pilih kata yang ringan-ringan saja. Mudah difahami oleh khalayak umum. Hatta tukang ojek yang melek aksara, bisa mengerti tulisan kita. Salah satu sebabnya, karena pilihan kata yang ‘sederhana.’

Tips ini pernah dikemukakan oleh seorang wartawan senior Suara Hidayatullah, ketika dalam suatu kesempatan bersua. Saat itu, emang diskusi terkait dengan teknik membuat judul tulisan.

BACA JUGA :  Diduga Telah Terjadi Praktek Pungli Dana Bantuan PIP di SMA Hayatul Islam Desa Roto Kecamatan Krucil 

Rumusan dasarnya, beliau menyarankan, tidak usah memilih kata yang berat. Meng-inggris-inggris. Agar dibilang keren. Sederhana saja. Mudah difahami orang.

“Jangan sampai dalam membuat judul, sekedar mengucapkannya saja, pembaca kesulitan. Karena pilihan katanya asing. Apalagi memahami artinya,” ucap beliau.

Lalu, tulisan siapa yang bisa dijadikan rujukan dalam hal ini? 

Ane merekomendasikan (salah satunya) tulisan pak Dahlan Iskan. Gaya yang beliau sajikan sangat sederhana. Meski yang dikupas tema berat. Politik, misalnya. Beliau piawai dalam mencari sudut pandang (angel) yang berbeda. Bahkan, bisa dibilang tak lazim.

Coba baca tulisan beliau yang berjudul ‘Politik Ular.’ Sudut pandang yang dipilih terkait perseteruan Hasto-Megawati-Jokowi sangat ‘jenaka.’ Dan sekali lagi, pilihan bahasanya ala ‘wong cilik’ banget.

Apalagi kalau kupasannya tentang perjalanan beliau, yang sering berkunjung ke luar negeri. Lebih ‘renyah’ lagi.

Sudah barang tentu, apa yang diturai pada ulasan ini bersifat subjektif. Kalau punya pandangan berbeda, tak mengapa. Poinnya, mari kita aktif menulis. Seiring waktu, kepiawaian itu akan terasah. Kerenyahan itu akan hadir. Tepung tidak akan pernah menjadi kerupuk yang bisa dinikmati, selama tidak diolah, digoreng dan disajikan. Maka, menulislah.

Penulis : Robinsah

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Redaksi Suara Utama

Berita Terkait

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Posbankum Jadi Jembatan Keadilan, Bapelkum dan BNN Ajak Warga Lawan Narkoba
Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Jelang HUT Bhayangkara ke-80, Polres Maros Ziarah ke TMP Maccopa
Kepolisian Resor (Polres) Berau bersama tim gabungan lintas instansi, Sidak terkait dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Berita ini 91 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Rabu, 24 Juni 2026 - 03:03 WIB

Posbankum Jadi Jembatan Keadilan, Bapelkum dan BNN Ajak Warga Lawan Narkoba

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:43 WIB

Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berita Terbaru

Berita Utama

Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:43 WIB