Wall Street Terperosok, Tarif Baru Trump Picu Kepanikan Pasar Global

Sabtu, 11 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar ekonomi dan perpajakan, Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, memberikan pandangan mengenai gejolak pasar saham Amerika Serikat (AS) usai pengumuman tarif baru terhadap China. Koreksi tajam di Wall Street dipicu kekhawatiran eskalasi perang dagang dan melemahnya sentimen investor global.

Pakar ekonomi dan perpajakan, Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, memberikan pandangan mengenai gejolak pasar saham Amerika Serikat (AS) usai pengumuman tarif baru terhadap China. Koreksi tajam di Wall Street dipicu kekhawatiran eskalasi perang dagang dan melemahnya sentimen investor global.

SUARA UTAMA – Jakarta, 11 Oktober 2025 – Pasar saham Amerika Serikat (AS) terguncang tajam pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif besar-besaran terhadap impor dari Tiongkok. Indeks utama Wall Street kompak melemah, menandai hari terburuk sejak April tahun ini.

Indeks S&P 500 anjlok 2,7%, Nasdaq Composite jatuh 3,6%, sementara Dow Jones Industrial Average turun sekitar 1,9%. Saham-saham teknologi seperti Nvidia, Apple, Tesla, dan Amazon menjadi korban utama aksi jual massal investor.

 

Fundamental: Ketegangan Dagang dan Valuasi Mengkhawatirkan

Penyebab utama penurunan tajam ini berasal dari ketegangan perdagangan AS–Tiongkok yang kembali memanas. Trump mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100 persen pada produk impor strategis dari Beijing, terutama di sektor teknologi dan manufaktur.

Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran baru atas rantai pasok global, terutama bagi perusahaan semikonduktor dan industri elektronik yang bergantung pada bahan baku dan komponen asal Tiongkok.

Selain itu, sejumlah analis menilai valuasi saham-saham teknologi sudah berada di zona gelembung, dengan harga yang jauh melampaui kinerja fundamental perusahaan.

“Kombinasi antara valuasi tinggi, kebijakan proteksionis, dan suku bunga yang belum turun membuat pasar berada di wilayah berisiko,” kata analis pasar dari Bank of America, dikutip Sabtu (11/10).

Bank sentral AS, The Federal Reserve, juga belum memberikan sinyal jelas mengenai pemangkasan suku bunga, yang membuat biaya modal tetap tinggi dan menekan prospek pertumbuhan korporasi.

 

Teknikal: Sinyal Negatif dari Grafik Harga

Dari sisi teknikal, pelemahan tajam ini memperlihatkan tembusnya level support penting di area 50-day moving average untuk S&P 500, yang selama ini menjadi indikator psikologis investor. Penembusan tersebut diikuti oleh lonjakan volume jual hingga dua kali lipat dari rata-rata harian, menunjukkan tekanan jual yang kuat.

Beberapa indikator momentum seperti Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan kondisi oversold, menandakan potensi rebound teknikal dalam jangka pendek, meski arah utama masih menurun (bearish).
Jika tekanan berlanjut, indeks S&P 500 berpotensi menguji support berikutnya di kisaran 6.350 poin, sedangkan resistance jangka pendek berada di 6.700 poin.

BACA JUGA :  Diduga Jadi Penampung Emas PETI, Aktivitas di Rumah Ateng Desa Langling Disorot Warga

 

Komentar Ahli: Risiko Global Bisa Merembet ke Indonesia

Menurut Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, praktisi pajak dan analis ekonomi, gejolak di Wall Street berpotensi memberikan efek rambatan ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Koreksi saham AS bukan hanya soal ketegangan politik, tetapi mencerminkan kecemasan investor terhadap arah ekonomi global. Indonesia bisa terkena imbas melalui dua jalur: arus modal asing dan tekanan nilai tukar,” ujar Yulianto kepada SUARA UTAMA, Sabtu (11/10).

Lebih lanjut, Yulianto menjelaskan bahwa jika tekanan berlanjut, investor asing cenderung menarik dana dari pasar saham dan obligasi negara berkembang untuk mengamankan aset dalam dolar AS.

“Bank Indonesia perlu waspada terhadap volatilitas pasar global. Fundamental kita masih cukup kuat, tapi gejolak eksternal bisa menekan rupiah dan memperlambat investasi,” tambahnya.

Ia juga menilai bahwa investor domestik sebaiknya tetap rasional dan tidak panik menghadapi situasi ini.

“Koreksi seperti ini adalah bagian dari siklus pasar. Justru bagi investor jangka panjang, momen seperti ini bisa menjadi peluang untuk akumulasi saham-saham berfundamental kuat,” tutup Yulianto.

 

Prospek dan Strategi Investor

Para analis memperkirakan pasar akan tetap bergejolak dalam beberapa pekan mendatang hingga ada kejelasan terkait arah kebijakan perdagangan AS dan respons dari pemerintah Tiongkok.

Investor disarankan untuk beralih ke sektor defensif seperti kebutuhan pokok, kesehatan, dan utilitas yang lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
Selain itu, strategi hedging menggunakan opsi jual (put options) dan diversifikasi aset ke emas atau obligasi menjadi langkah bijak untuk melindungi portofolio dari tekanan lanjutan.

 

Kesimpulan

Kombinasi antara ketegangan geopolitik, valuasi tinggi, dan tekanan teknikal membuat pasar saham AS kembali dalam fase koreksi tajam.
Jika pemerintah AS tidak segera menenangkan pasar dengan kebijakan yang lebih terukur, risiko penurunan lanjutan bisa membesar dan menular ke bursa global, termasuk Asia dan Indonesia.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah
Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah
‎Proyek Jalan Setapak Beton Kelurahan Sungai Nibung Banyak yang Rusak, Lurah: Nanti Kita Perbaiki
Publik Menilai BK Ketakutan, Ketua BK Akan Berkonsultasi Dengan Oknum Terduga Pelanggar Kode Etik
KOP Surat Pernyataan Kometmen Kades Sebagai Pemungut PBB-P2 Terindikasi Tidak Sah, Pakopak Akan Mengkaji Nya

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:41

P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:42

Publik Menilai BK Ketakutan, Ketua BK Akan Berkonsultasi Dengan Oknum Terduga Pelanggar Kode Etik

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:05

KOP Surat Pernyataan Kometmen Kades Sebagai Pemungut PBB-P2 Terindikasi Tidak Sah, Pakopak Akan Mengkaji Nya

Kamis, 29 Januari 2026 - 17:24

Sat Resnarkoba Polres Bitung Ungkap Peredaran Obat Keras Trihexyphenidyl di Pusat Kota

Berita Terbaru

Fhoto saat kegiatan peringatan 1 abad hari lahir Nahdalatul Ulama Tanggamus

Berita Utama

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Jan 2026 - 20:20