Trumpisme dan Politik Global: Ketidakkonsistenan yang Disengaja?

Minggu, 22 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO : Gambar Ilustrasi Donald Trump dari Pixabay 2025 (Tonny Rivani/SUARA UTAMA)

FOTO : Gambar Ilustrasi Donald Trump dari Pixabay 2025 (Tonny Rivani/SUARA UTAMA)

SUARA UTAMA Donald J. Trump bukan hanya tokoh politik kontroversial, ia adalah simbol dari gaya kepemimpinan baru yang mengacak-acak tatanan diplomasi global. Pada masa jabatan pertamanya (2017–2021), Trump membentuk pola komunikasi dan kebijakan luar negeri yang mengandalkan ketidakkonsistenan — sebuah pendekatan yang pada awalnya dianggap sebagai kelemahan, namun ternyata efektif dalam membentuk ulang dinamika kekuasaan global. Kini, setelah kembali menduduki kursi Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua (2025–2029), dunia kembali dihadapkan pada babak baru dari Trumpisme Global, dengan ketidakkonsistenan yang lebih terstruktur sebagai strategi dominasi.

Masa Jabatan Pertama (2017–2021): Kebingungan yang Terencana
Pada periode pertamanya, Trump menciptakan preseden baru: membuat kebijakan besar lewat media sosial, membatalkan komitmen global secara sepihak, dan membuka negosiasi yang tampaknya impulsif namun penuh perhitungan. Ia keluar dari perjanjian iklim Paris, membatalkan kesepakatan nuklir Iran, mengguncang NATO dengan ancaman pembiayaan, serta menggiring perang dagang dengan Tiongkok ke tingkat panas.
Kebijakan zig-zag ini bukan sekadar kebingungan, melainkan sebuah bentuk “strategi guncangan”. Lawan dan sekutu dibuat tidak nyaman, tidak mampu membaca pola, dan pada akhirnya dipaksa untuk mengikuti ritme Trump. Dalam geopolitik, ketidakpastian menjadi alat negosiasi yang brutal — dan efektif.

Trumpisme sebagai Ideologi Populis Global
Trump bukan hanya fenomena Amerika. Gayanya menginspirasi pemimpin-pemimpin populis lain yang mengutamakan nasionalisme sempit, anti-globalisasi, dan sikap agresif terhadap lembaga internasional. Dari Eropa hingga Amerika Latin, gaya “berpolitik melalui konflik” menjadi tren baru. Trumpisme menjelma menjadi doktrin informal: ketegasan tanpa arah yang membuat pemimpin terlihat kuat, meski substansinya rapuh.
Kembalinya Trump (2025–2029): Babak Baru, Gaya Lama yang Disempurnakan
Kemenangan Trump di 2024 membuka kembali babak politik global yang penuh ketegangan. Namun kali ini, dunia lebih siap — tapi Trump juga lebih terlatih. Pada masa jabatan kedua, ia tidak hanya membawa gaya lama, melainkan versi lebih ekstrem dan terorganisir. Kebijakan luar negeri mulai dari isolasionisme baru hingga tekanan terhadap lembaga multilateral (seperti PBB dan WHO) kini dikombinasikan dengan teknologi digital dan AI sebagai alat propaganda.

BACA JUGA :  Super Camp 2025 Siap Digelar di Bandung, Ajang Silaturahmi Nasional AR Learning Center dan Suara Utama

Di kawasan Indo-Pasifik, ketidakkonsistenan digunakan sebagai alat ganda: menarik sekutu sekaligus mengancam musuh. Dalam isu perubahan iklim, Trump kembali melemahkan posisi global AS di negosiasi lingkungan, namun memperkuat posisi domestik dalam sektor energi fosil. Di Palestina, Ukraina, dan Taiwan, pendirian Amerika di bawah Trump kembali berubah-ubah, mengganggu prediksi, dan memperkuat posisi tawarnya.
Strategi Plin-Plan sebagai Alat Kuasa
Banyak yang menyebut gaya ini sebagai politik plin-plan — penuh pembatalan, revisi, dan retorika berbalik arah. Namun dalam perspektif realpolitik, ini adalah strategi dominasi berbasis disorientasi. Ketika dunia tidak dapat memprediksi kebijakan Washington, maka posisi tawar AS justru meningkat. Lawan sulit merancang strategi jangka panjang, sementara sekutu menjadi lebih patuh karena takut ditinggalkan.
Dalam diplomasi klasik, kredibilitas dan konsistensi adalah nilai. Dalam Trumpisme, kebingungan adalah keuntungan.
Kesimpulan Trumpisme Global : Dunia dalam Bayang-Bayang Ketidakkonsistenan
Trumpisme bukan hanya tentang Trump. Ini adalah cerminan dari perubahan lanskap global yang lebih rentan terhadap populisme, nasionalisme sempit, dan ketidakpastian politik. Dalam dunia pasca-pandemi dan pasca-aturan tatanan global liberal, Trumpisme berkembang subur karena menawarkan solusi instan berbasis ego dan kekuatan, bukan konsensus dan komitmen.

Jika periode 2017–2021 adalah kejutan, maka periode 2025–2029 adalah konsolidasi. Trumpisme kini menjadi alat politik global — bukan karena kekuatannya dalam membangun, tetapi kemampuannya dalam merusak kepastian dan mengubah kekacauan menjadi kuasa.

Penulis : Tonny Rivani

Editor : Andre Hariyanto

Berita Terkait

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf
Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:40

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terbaru