Pancasila di Tengah Krisis Keteladanan

Selasa, 3 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama, Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Teks sakral lima sila itu dikumandangkan di berbagai instansi, dari istana hingga sekolah-sekolah. Namun pertanyaannya, apakah Pancasila masih hidup dalam praktik, atau hanya menjadi simbol yang diulang tanpa makna?

Pancasila lahir sebagai panduan moral, dasar negara, dan ideologi pemersatu. Nilai-nilainya—ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial—merupakan fondasi yang seharusnya menjadi kompas etika bagi seluruh warga negara, terutama para pemegang kekuasaan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa implementasinya jauh dari harapan, terutama di kalangan pejabat publik.

Kita hidup dalam realitas yang kontras. Di satu sisi, pejabat negara rutin mengutip Pancasila dalam pidato dan pernyataan resmi. Namun di sisi lain, praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, gaya hidup mewah, dan lemahnya kepedulian terhadap rakyat menjadi pemandangan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya meresap sebagai karakter moral dalam birokrasi dan kepemimpinan nasional.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, misalnya, mengajarkan empati, keadilan, dan perlakuan manusiawi terhadap sesama. Tapi bagaimana sila ini dijalankan ketika pelayanan publik masih diskriminatif, ketika aparat hukum tidak berpihak pada yang lemah, atau ketika pejabat lebih sibuk mencitrakan diri daripada mendengarkan jeritan rakyat?

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, seolah menjadi utopia. Ketimpangan ekonomi semakin tajam. Akses pendidikan dan kesehatan berkualitas masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar rakyat. Sementara itu, sejumlah pejabat justru terlibat dalam praktik memperkaya diri sendiri di tengah penderitaan masyarakat.

BACA JUGA :  Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

Pancasila menekankan pentingnya persatuan, namun elit politik sering kali mempertajam perbedaan demi kepentingan elektoral. Demokrasi dijunjung tinggi dalam sila keempat, namun proses pengambilan keputusan publik sering kali tidak mencerminkan aspirasi rakyat, melainkan dikendalikan oleh kepentingan segelintir elite.

Realitas ini menimbulkan krisis keteladanan. Padahal, nilai-nilai Pancasila tidak akan hidup dalam masyarakat jika tidak diwujudkan oleh mereka yang menjadi panutan. Pejabat publik seharusnya bukan hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghidupinya dalam tindakan. Tanpa keteladanan dari pemimpin, masyarakat akan kehilangan arah, dan Pancasila akan tergerus oleh pragmatisme serta politik transaksional.

Sudah saatnya refleksi terhadap Pancasila tidak lagi bersifat simbolik. Dibutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap bagaimana nilai-nilai Pancasila diintegrasikan ke dalam kebijakan publik, etika birokrasi, pendidikan, dan budaya politik kita. Pendidikan Pancasila bukan sekadar mata pelajaran, tetapi harus menjadi proses pembentukan karakter yang nyata dan berkelanjutan.

Pancasila tidak boleh dibiarkan menjadi slogan kosong. Ia harus menjadi roh dalam setiap keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh negara. Para pejabat publik harus menjadi cerminan nilai-nilai Pancasila—jujur, adil, sederhana, dan berpihak pada rakyat.

Tanpa itu semua, Pancasila hanya akan menjadi dokumen historis yang kehilangan relevansi. Padahal, di tengah kompleksitas tantangan bangsa hari ini—dari kemiskinan, intoleransi, hingga degradasi moral—Pancasila adalah jawaban yang paling esensial. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalankan.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf
Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:40

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terbaru