SUARA UTAMA – BITUNG, Sulawesi Utara. Di tengah dinamika sosial yang masih diwarnai perbedaan dan potensi konflik, momentum Idul Fitri kembali diingatkan sebagai ruang rekonsiliasi dan penyucian hati.
Seruan itu disampaikan Ustaz Rafiq SY Daeng dalam khotbah Idul Fitri di Masjid As-Salam, Lembeh Permai, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Sabtu (21/3/2026).
Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam untuk tidak menjadikan Idul Fitri sekadar perayaan tahunan, melainkan sebagai titik balik untuk menghapus dendam, kebencian, dan permusuhan yang selama ini tersimpan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Marilah kita sebarkan rasa damai dan kasih sayang. Hapuslah semua luka lama, tinggalkan rasa dendam dan permusuhan, serta hilangkan kebencian dalam hati,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan menjalani Ramadan tidak hanya diukur dari ibadah fisik seperti menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan ego serta membuka pintu maaf kepada sesama.
Ia menegaskan, Idul Fitri sejatinya adalah milik mereka yang mampu berdamai, termasuk dengan orang-orang yang pernah menyakiti.
“Idul Fitri hanya pantas dirayakan oleh orang-orang yang ikhlas saling memaafkan dan berlapang dada menerima kembali mereka yang pernah dibencinya,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kegagalan terbesar dalam Ramadan adalah ketika seseorang masih menyimpan keengganan untuk meminta maaf maupun memberi maaf.
“Rugi besar bagi orang yang gagal memenuhi undangan Ramadan, yakni mereka yang tidak mau meminta maaf dan tidak mau memberi maaf,” tegasnya.
Dalam khotbah tersebut, Ustaz Rafiq juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 22 yang menekankan pentingnya sikap memaafkan.
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” ucapnya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa esensi Idul Fitri tidak hanya terletak pada tradisi, tetapi pada keberanian untuk meruntuhkan ego, memperbaiki hubungan, dan membangun kembali kepercayaan antar sesama.
Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, semangat saling memaafkan dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menciptakan kedamaian yang berkelanjutan.
Penulis : Arman Pramana Sulu
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama










