JAKARTA, SUARA UTAMA – Inflasi Jakarta Oktober 2026 mencapai 2,52 persen secara tahunan. Angka itu menjadi yang terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka tersebut pada Senin (2/11/2026). Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta berada di level 110,54. Di tingkat nasional, inflasi tahunan mencapai 3,23 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan hasil itu dalam konferensi pers di Jakarta. Menurut BPS, seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi, yaitu sebesar 8,07 persen, dengan IHK 117,24. Sebaliknya, DKI Jakarta menempati posisi terendah.
Jabodetabek di Bawah Angka Nasional
Dua provinsi lain di Jabodetabek juga mencatat inflasi di bawah angka nasional. Banten, misalnya, mencatat inflasi tahunan 2,76 persen. Jawa Barat menyusul dengan inflasi tahunan 2,90 persen. Pada tingkat kabupaten dan kota, Minahasa Utara justru mencatat inflasi tahunan tertinggi, yaitu 10,16 persen. Sebaliknya, Kota Tangerang mencatat inflasi terendah, 2,13 persen, dengan IHK 110,52.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara nasional, inflasi bulanan Oktober 2026 mencapai 0,22 persen. Inflasi tahun kalender juga mencapai 2,40 persen. IHK nasional naik dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober. Setahun sebelumnya, IHK nasional masih berada di 109,04.
Cabai Merah Pendorong Terbesar Inflasi Bulanan
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi tekanan bulanan terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi 0,51 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum. Cabai merah memberi andil terbesar, yaitu 0,13 persen. Selanjutnya, cabai rawit memberi andil 0,05 persen. Tomat kemudian menyusul dengan andil 0,04 persen. Sawi hijau, labu siam, dan sawi putih masing-masing memberi andil 0,01 persen.
Berdasarkan komponennya, harga bergejolak mencatat inflasi bulanan tertinggi, yaitu 0,77 persen. Andil komponen ini juga mencapai 0,13 persen. Komponen inti, sementara itu, mencatat inflasi bulanan 0,12 persen dengan andil 0,07 persen. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mencatat 0,09 persen dengan andil 0,02 persen.
Pangan Juga Mendominasi Inflasi Tahunan
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap mendorong inflasi paling besar. Kelompok ini mencatat inflasi 4,82 persen dengan andil 1,40 persen. Komoditas berandil terbesar antara lain cabai rawit, ikan segar, dan beras. Selain itu, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi ikut memberi andil besar. Kelompok transportasi juga mencatat inflasi tahunan 4,87 persen dengan andil 0,59 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan masuk tiga besar penyumbang inflasi tahunan.
Seluruh komponen juga mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mencatat inflasi tahunan 2,56 persen dengan andil 1,64 persen. Adapun harga yang diatur pemerintah mencatat 3,24 persen dengan andil 0,63 persen. Sementara itu, harga bergejolak mencatat inflasi tahunan tertinggi, yaitu 5,81 persen.
Dua Bulan Berturut-turut Jakarta Terendah
Posisi Jakarta membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Pada September 2026, inflasi tahunan Jakarta mencapai 2,71 persen dengan IHK 110,40. Saat itu, Jakarta juga menjadi yang terendah di Pulau Jawa. Inflasi nasional pada September masih berada di 3,28 persen. Dengan demikian, Jakarta mencatat posisi terendah selama dua bulan berturut-turut. Tekanan harga nasional, pada saat yang sama, masih bersumber dari kelompok pangan.
Penulis : Fathin Robbani Sukmana












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.