SUARA UTAMA,Merangin – Kondisi jalan as utama di wilayah Kecamatan Margo Tabir, tepatnya di sekitar Pasar Kampung 6, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Jalan yang seharusnya menjadi akses vital justru berubah menjadi kubangan besar, penuh lumpur dan genangan air, bahkan disebut warga sudah seperti “kubangan gajah” dan sangat tidak layak dilalui.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan jalan tersebut sudah cukup lama terjadi tanpa adanya perbaikan signifikan. Lubang-lubang besar yang dipenuhi air keruh hingga setinggi lutut orang dewasa menjadi pemandangan sehari-hari bagi pengguna jalan, termasuk pelajar dan masyarakat yang beraktivitas.
Sejumlah warga yang ditemui mengaku kecewa dan menyampaikan sindiran keras terhadap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Pasalnya, jalan tersebut diketahui merupakan jalan provinsi yang menjadi penghubung strategis dari Simpang Jelita menuju Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, melintasi sejumlah desa di wilayah Kabupaten Merangin, khususnya Kecamatan Margo Tabir hingga Tabir Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Heran kami, apakah pemerintah tidak tahu kondisi jalan ini? Atau pura-pura tidak tahu? Ini jalan utama, bukan jalan kecil. Setiap hari kami lewat sini,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Warga lainnya juga menyampaikan keluhan serupa. Mereka menilai pemerintah seolah tidak peduli terhadap kondisi infrastruktur yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat.
“Jangan cuma bicara pembangunan, tapi kenyataannya jalan kami hancur. Anak-anak sekolah tiap hari harus melewati genangan air dan lubang. Ini sangat memalukan,” tegas seorang ibu rumah tangga.
Tidak hanya itu, masyarakat juga mempertanyakan peran para wakil rakyat yang dinilai belum menunjukkan kepedulian nyata terhadap kondisi tersebut.
“Apakah para wakil rakyat tidak tahu? Ini akses utama kami ke Bangko dan ke jalan lintas Sumatera. Kalau jalan bagus, ekonomi kami juga lancar. Tapi kalau seperti ini, semua jadi terhambat,” ungkap warga lainnya.
Kekecewaan yang memuncak membuat masyarakat akhirnya bergerak sendiri. Tanpa menunggu kepastian dari pemerintah, warga bersama sejumlah pengusaha lokal berinisiatif menggalang dana secara swadaya untuk memperbaiki jalan tersebut.
“Sekarang sudah ada panitia. Kami galang dana sukarela, baik dari pengusaha maupun masyarakat biasa. Karena kalau menunggu pemerintah, entah kapan diperbaiki,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Langkah swadaya ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat sudah kehilangan harapan terhadap perhatian pemerintah. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi sindiran keras yang mencerminkan kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Warga berharap pemerintah, khususnya pihak provinsi yang memiliki kewenangan atas jalan tersebut, segera turun tangan dan tidak terus membiarkan kondisi ini berlarut-larut.
“Jangan sampai kami yang rakyat kecil ini terus jadi korban. Jalan ini urat nadi kehidupan kami. Kalau pemerintah masih punya hati, tolong segera perbaiki,” tutup warga dengan nada penuh harap sekaligus kecewa.
Penulis : Ady Lubis
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama









