SUARA UTAMA, Denpasar – Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Center for Public Health Innovation (CPHI) Universitas Udayana menegaskan perannya sebagai penghubung riset, peningkatan mutu pelayanan, dan kolaborasi lintas sektor dalam respons HIV di Indonesia. Komitmen tersebut tercermin melalui penyelenggaraan Pertemuan Nasional Jaringan Penelitian HIV Indonesia (PERNAS JPHIV) 2026 yang digelar bersama INDOQI-HIV Collaborative International Symposium on Quality Improvement pada 16–17 Oktober 2026 di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Kota Denpasar, Bali.

Forum yang diikuti lebih dari 200 akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, pengelola program, mitra pembangunan, dan perwakilan komunitas secara luring maupun daring ini mempertemukan pengalaman Indonesia dengan perspektif para pakar dari Thailand, Australia, Belanda, Singapura, dan Malaysia. Mengusung tema “Reimagining Integrated HIV Services in a VUCA Era: Advancing Equity, Innovation, and System Resilience”, pertemuan menempatkan kesetaraan akses, inovasi, dan ketangguhan layanan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pengendalian HIV.
PERNAS JPHIV 2026 diselenggarakan oleh Jaringan Penelitian HIV Indonesia (JPHIV) bersama PUI-PT CPHI Universitas Udayana, Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dan INDOQI-HIV Collaborative. Rangkaian pembukaan diisi sambutan Ketua Panitia yang juga Ketua PUI-PT CPHI, Prof. dr. Pande Putu Januraga, M.Kes., DrPH, serta Koordinator Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Dinar Saurmauli Lubis, S.KM., MPH, Ph.D. Kegiatan dibuka secara resmi oleh pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu kontribusi utama PUI PT CPHI dalam simposium ini adalah menghadirkan pendekatan peningkatan mutu atau quality improvement (QI) yang berangkat dari masalah nyata di fasilitas pelayanan. Dalam paparannya, Prof. Pande Putu Januraga menekankan bahwa perluasan akses tidak otomatis menghasilkan layanan yang berkualitas. Kesinambungan pengobatan antiretroviral, pemeriksaan viral load, pengalaman pasien, dan pengurangan stigma harus dinilai sebagai bagian dari kinerja layanan HIV, bukan sekadar jumlah orang yang terdaftar.
Dalam sesi pembahasan ketahanan sistem dan pendanaan, para pakar menekankan pentingnya kesiapsiagaan krisis dan efisiensi sumber daya agar layanan HIV tetap dijangkau kelompok rentan. Prof. Yodi Mahendradhata dan Dinar Lubis mengaitkan pelajaran dari pandemi dengan perlunya diferensiasi layanan, distribusi obat yang fleksibel, serta jalur rujukan digital untuk menjaga kesinambungan pengobatan di tengah guncangan. Di sisi pembiayaan, Dr. Adiatma Siregar dan Prof. Januraga mendorong optimalisasi dana domestik saat dukungan internasional menurun, yang diperkuat oleh pmaparan Rena Janamnuaysook mengenai keberhasilan Thailand mengintegrasikan layanan berbasis komunitas ke dalam sistem kesehatan publik.
Sementara itu, penguatan mutu layanan difokuskan pada penanganan klinis yang terintegrasi dan pengentasan stigma. Prof. Evy Yunihastuti dan Prof. Yanri Subronto menyoroti kompleksitas HIV stadium lanjut serta pentingnya menyatukan layanan HIV dengan pelayanan primer, tuberkulosis, dan kesehatan mental. Isu kesehatan ibu dan anak turut ditegaskan oleh Prof. Kitty Bloemenkamp melalui program eliminasi tiga penyakit (HIV, sifilis, hepatitis B), yang dilengkapi penegasan dari Gracia Valeska dan Rayner Tan bahwa penanganan stigma, perlindungan privasi, serta pengukuran pengalaman pasien merupakan fondasi utama dalam menciptakan layanan yang adil dan inklusif.
Selain keynote dan pleno, PERNAS JPHIV–INDOQI-HIV 2026 membuka ruang bagi lebih dari 50 paparan hasil penelitian, sesi ilmiah paralel, presentasi mahasiswa, dan pameran poster. Kajian yang disampaikan mencakup pelayanan klinis, kesehatan ibu dan anak, inovasi pencegahan, pembiayaan, keterlibatan generasi muda, hingga upaya mengurangi stigma. Penghargaan Best Oral Presenter, Best Poster Presenter, dan Most Favorite Poster turut diberikan pada penutupan kegiatan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi ilmiah peserta.
Keterlibatan organisasi komunitas dan jejaring mitra menjadi unsur penting forum ini. Di antara pihak yang berkontribusi sebagai mitra kegiatan terdapat Jaringan Indonesia Positif, Kirby Institute, RS Bali Mandara, Yayasan Bali Peduli, Yayasan Kerti Praja, Yayasan Siklus Sehat Indonesia, dan Bali Medika. Keberagaman pihak yang terlibat memperlihatkan bahwa penguatan respons HIV membutuhkan kerja bersama antara penyedia layanan, peneliti, pengambil kebijakan, dan orang-orang yang secara langsung menggunakan atau mendampingi layanan.
Bagi PUI-PT CPHI Universitas Udayana, simposium ini sekaligus menjadi sarana memperkuat posisi riset kesehatan masyarakat sebagai dasar perubahan praktik. Melalui jaringan INDOQI-HIV Collaborative, survei IMPRESS, kerja sama internasional, dan dialog bersama komunitas, CPHI mendorong agar temuan ilmiah tidak berhenti pada publikasi atau pertemuan, melainkan digunakan untuk menyusun prioritas, memperbaiki pengalaman pasien, dan menjaga layanan HIV tetap inklusif, bermutu, dan berkelanjutan.
Penulis : Sang Gede Purnama
Editor : Andre Hariyanto
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.