SUARA UTAMA,Merangin — Beredarnya video yang diduga memperlihatkan aktivitas penanganan beras yang tidak sesuai dengan standar kebersihan di salah satu gudang Perum Bulog yang melayani wilayah Kabupaten Merangin dan Sarolangun, Jambi, terus menuai sorotan. Hingga Rabu (14/10/2026), persoalan tersebut masih menyisakan pertanyaan, terutama terkait asal-usul video, kondisi gudang, serta pengawasan terhadap proses penyimpanan dan pengemasan beras.
Dalam video yang beredar, terlihat beras tercecer di lantai, seseorang diduga menginjak beras, serta aktivitas merokok di area kerja. Rekaman tersebut memicu kekhawatiran karena beras merupakan bahan pangan yang akan dikonsumsi masyarakat luas.
Menindaklanjuti pemberitaan sebelumnya, sejumlah awak media di Kabupaten Merangin mendatangi kantor Bulog setempat pada Rabu (14/10/2026). Kedatangan mereka bertujuan meminta klarifikasi langsung kepada pimpinan cabang, Junaidi Damanik, sekaligus memastikan kebenaran informasi yang beredar agar tidak berkembang menjadi spekulasi di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan penjelasan substantif mengenai video yang menjadi sorotan publik.
Alih-alih memberikan keterangan terperinci mengenai lokasi gudang, aktivitas yang terekam, maupun langkah evaluasi yang telah dilakukan, Junaidi disebut menyinggung kedekatannya dengan sejumlah media nasional.
Dalam pertemuan tersebut, ia dilaporkan menyampaikan bahwa pihak Bulog juga memiliki banyak relasi media nasional dan biasa juga menyampaikan berita klarifikasi melalui media tersebut.
Pernyataan itu memunculkan kekecewaan sejumlah awak media yang hadir. Mereka menilai kedatangan wartawan merupakan bagian dari upaya menjalankan fungsi jurnalistik, yakni meminta konfirmasi kepada pihak terkait sebelum informasi dikembangkan lebih jauh.
Bagi para wartawan, persoalan utamanya bukan mengenai media mana yang memiliki jangkauan lebih luas, melainkan bagaimana pihak Bulog menjawab pertanyaan publik terkait penanganan pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat.
Ketua Komite Wartawan Indonesia Perjuangan (KWIP) Merangin, Ady Lubis, turut menyoroti sikap pimpinan cabang Bulog tersebut. Ia menilai pejabat yang bertanggung jawab atas pelayanan publik semestinya mengedepankan komunikasi yang santun, terbuka, dan menghargai kerja jurnalistik.
“Sebagai pimpinan cabang Bulog, seharusnya bisa menyampaikan penjelasan dengan santun dan terbuka. Jangan sampai muncul kesan seolah-olah media lokal tidak penting hanya karena merasa memiliki banyak kenalan di media nasional,” ujar Ady Lubis.
Menurutnya, media yang bertugas di daerah juga memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, termasuk mengawasi persoalan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok.
Ady Lubis menegaskan, persoalan yang menjadi perhatian saat ini bukanlah persaingan antara media lokal dan media nasional, melainkan substansi dugaan persoalan di gudang beras yang hingga kini membutuhkan penjelasan resmi.
“Yang kami pertanyakan adalah kebenaran video tersebut, dari gudang mana rekaman itu berasal, bagaimana pengawasan terhadap pekerja, dan apakah prosedur kebersihan dalam penanganan beras telah dijalankan dengan benar. Itu yang seharusnya dijelaskan kepada publik,” tegasnya.
Ady juga mendorong Bupati Merangin bersama instansi terkait untuk melakukan pengecekan langsung terhadap gudang Bulog yang berada di wilayah Kabupaten Merangin, sesuai kewenangan masing-masing.
Menurutnya, pemeriksaan langsung diperlukan agar persoalan tersebut tidak hanya berhenti pada perdebatan mengenai video yang beredar, tetapi juga menghasilkan kejelasan mengenai kondisi di lapangan.
Ia menilai pemeriksaan dapat mencakup kebersihan area penyimpanan dan pengemasan, prosedur penanganan beras, kepatuhan pekerja terhadap aturan di area pangan, serta mekanisme pengawasan internal.
“Jangan sampai persoalan ini dibiarkan berlarut-larut hingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Bulog. Kalau memang tidak ada pelanggaran, silakan dijelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan. Namun, apabila ditemukan kekurangan, harus ada evaluasi dan langkah perbaikan yang jelas,” katanya.
Ady Lubis juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang menangani kebutuhan pokok harus dijaga melalui transparansi dan pertanggungjawaban, bukan sekadar pernyataan umum.
Sebelumnya, aktivis Kabupaten Merangin, Adha Pratama, turut mempertanyakan pengawasan terhadap aktivitas pekerja setelah video tersebut beredar. Ia menilai dugaan beras terinjak dan aktivitas merokok di area penanganan pangan perlu ditanggapi secara serius apabila rekaman tersebut terbukti autentik.
Persoalan ini dinilai perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi langsung, sehingga masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi gudang dan penerapan standar kebersihan dalam penanganan beras.
Hingga berita ini disusun, sejumlah pertanyaan mendasar masih membutuhkan jawaban, di antaranya identitas dan lokasi gudang dalam rekaman, waktu pengambilan video, kebenaran aktivitas yang terlihat, serta langkah pemeriksaan atau evaluasi yang dilakukan pihak Bulog.
Redaksi masih membuka ruang bagi Junaidi Damanik dan pihak Perum Bulog untuk memberikan klarifikasi, termasuk menjelaskan konteks pernyataannya saat menerima kedatangan awak media serta menyampaikan hasil pemeriksaan terhadap video yang beredar.
Klarifikasi tersebut penting agar pemberitaan tidak berhenti pada polemik komunikasi antara pimpinan Bulog dan wartawan, tetapi juga memberikan kepastian informasi kepada masyarakat mengenai keamanan, kebersihan, dan tata kelola penanganan beras yang akan disalurkan kepada konsumen.
Publik kini menantikan penjelasan yang konkret dan transparan dari Bulog. Sebab, dalam persoalan pangan, kepercayaan masyarakat harus dijaga melalui keterbukaan informasi, pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tindakan nyata apabila ditemukan pelanggaran.











