Kebersamaan yang Gagal Menyentuh Hati

Selasa, 15 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Kebersamaan || suarautama.id

Ilustrasi: Kebersamaan || suarautama.id

SUARA UTAMA-
Kebersamaan adalah kata yang hangat diucap, akrab di telinga, dan sering jadi bintang di berbagai momen kebahagiaan. Dalam pertemuan keluarga, reuni teman lama, hingga kegiatan organisasi, kata ini selalu hadir sebagai tema, semboyan, bahkan simbol keakraban.

Namun, di balik hangatnya euforia dan ramainya unggahan media sosial, kita mulai menyadari sesuatu yang mengganjal: kebersamaan yang sering kita rayakan ternyata tak selalu menyentuh hati. Ia sekadar ramai di permukaan, tapi hampa di kedalaman. Hadir secara fisik, namun tak menyatu secara batin.

Ketika Makna Kebersamaan Menyempit

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Kita hidup di zaman di mana citra lebih utama daripada rasa. Foto kebersamaan disebar luas, seragam dipakai kompak, tawa dipertontonkan—namun sejatinya, mungkin tak ada empati yang mengalir, atau hati yang benar-benar saling terhubung.

Kebersamaan menyusut menjadi simbol, bukan substansi. Padahal, kebersamaan sejati tak diukur dari seberapa sering kita bertemu, melainkan seberapa dalam kita saling mengerti, terutama di saat sunyi dan sulit.

Mengapa Kebersamaan Kini Terasa Kosong?

1. Budaya Simbolik Mengalahkan Esensi

Dalam banyak tradisi sosial kita, tampilan luar sering dianggap cukup. Makan bersama atau foto bareng dianggap sudah mewakili kepedulian, padahal bisa jadi tidak ada percakapan yang berarti di baliknya.

2. Relasi yang Didorong Kepentingan

Kehadiran sebagian orang dalam lingkaran kebersamaan seringkali dipicu oleh kepentingan: koneksi, popularitas, atau manfaat lainnya. Kebersamaan menjadi alat untuk sesuatu yang lebih pragmatis.

3. Menghindari Ketidaknyamanan

Ketika seseorang tertimpa musibah atau berada dalam kesulitan, banyak yang justru menjauh. Bukan karena benci, tapi karena tak tahu harus bersikap bagaimana. Ketidaknyamanan membuat empati ditunda.

4. Arus Individualisme yang Kian Deras

Gaya hidup modern menuntut kecepatan, pencapaian, dan fokus pada diri sendiri. Dalam hiruk pikuk mengejar target, empati dan kepedulian perlahan menjadi nilai yang asing.

BACA JUGA :  Kelompok ke Ahliam Literasi Budaya Visual FSRB ITB Membina Perajin Anyaman Pandan, Desa Sungai Bakau Ketapang Dalam Memperkuat Identitas Budaya Melalui Peningkatan Kretivitas

Langkah Kecil untuk Kebersamaan yang Tulus

1. Ajarkan Makna Sejati Sejak Dini

Anak-anak perlu dibimbing memahami bahwa kebersamaan bukan hanya ada saat senang, tapi juga saat luka. Bukan hanya soal tertawa bersama, tapi juga menangis bersama.

2. Hadir dengan Hati, Bukan Hanya Raga

Alih-alih hanya berkumpul, kita perlu membangun ruang dialog yang aman, tempat orang bisa didengar, dimengerti, dan tidak dihakimi.

3. Kehadiran Emosional Itu Bermakna

Satu kalimat seperti “aku di sini kalau kamu butuh” bisa jauh lebih berarti daripada ribuan kata basa-basi. Tak harus materi—cukup hati yang hadir.

4. Bangun Budaya Peduli di Lingkungan

Komunitas, organisasi, dan lembaga pendidikan harus aktif menumbuhkan empati. Jangan hanya memberi panggung pada yang bersinar, tapi juga pelukan pada yang terjatuh.

Penutup: Di Saat Sunyi, Siapa yang Masih Hadir?

Kebersamaan tak diuji di tengah tawa dan sorotan, melainkan di tengah sepi dan kepedihan. Bukan siapa yang datang saat pesta, tapi siapa yang tetap tinggal saat semua pergi.

Mungkin kita pernah dikelilingi banyak orang, namun tetap merasa sendiri. Itulah kebersamaan yang gagal menyentuh hati—karena ia hanya hidup di luar, tapi tak menyala di dalam.

Kini saatnya kita bertanya: apakah kita benar-benar bersama, atau hanya tampak bersama?

Referensi Pemikiran:

1. Fromm, Erich. The Art of Loving. Harper Perennial Modern Classics, 2006.
2. Bauman, Zygmunt. Liquid Modernity. Polity Press, 2000.
3. Noddings, Nel. Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education. University of California Press, 2013.
4. Merton, Thomas. No Man Is an Island. Harcourt, 1955.
5. Sennett, Richard. Together: The Rituals, Pleasures and Politics of Cooperation. Yale University Press, 2012.

Penulis : Yoni Wahyu Sampurna, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMPN Satu Atap 1 Rawajitu Timur

Editor : Nafian Faiz

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus
Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku
Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu
Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Kamis, 22 Januari 2026 - 21:16

Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus

Senin, 19 Januari 2026 - 16:36

Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Sabtu, 3 Januari 2026 - 23:45

Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:11

Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:10

Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terbaru