Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

- Jurnalis

Sabtu, 30 Maret 2024 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

SUARA UTAMA, Asahan – Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA. sampaikan Mudzakaroh Ramadhan tentang Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah. kegiatan Mudzakaroh berlangsung khidmat Turut dihadiri Ketua Komisi MUI (DP. MUI), Ketua MUI Kecamatan dan Ormas Islam bertempat di Aula MUI Kab. Asahan Provinsi Sumatera Utara. Sabtu. (30/3/2024).

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Foto Dokumentasi Suhardi Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Ibadah Puasa merupakan nikmat agung yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Rahmat itu dapat dilihat dari hakikat puasa itu sendiri. Rahmat Allah Ta’ala yang Ia berikan melalui puasa dapat dirasakan melalui sentuhan perasaan bathin diantaranya timbulnya rasa senang dan gembira bagi yang mempuasakannya, dapat dirasakan melalui sentuhan lisan dengan terasa mudah untuk mengucapkan dan menghafalkan kalimat-kalimat thaibah seperti membaca Alquran, menghafal teks ilmu pengetahuan.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA menyatakan“Nikmat puasa dapat dirasakan melalui kecerdikan berpikir melalui sarap-sarap otak. Nikmat puasa juga dapat dirasakan melalui kelenturan urat sarap dan otot pada persendian, Nikmat puasa dapat dirasakan melalui kesehatan usus, penetralan gula darah pada tubuh, penetralan kolestrol pada darah. Untuk kenikmatan ukhrawinya akan dimasukkan kedalam sorga melalui pintu puasa yang disebut dengan pintu Rayyan” Ucap Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

Pemaparan Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA diatas mengatakan Nikmat maghfirah atau keampunan adalah yang paling didambakan oleh setiap hamba, yang setiap harinya melakukan dosa. Sumber dosa dalam dirinya secara klasikal ada yang melalui “hati”, dosa yang ditimbulkan dari  hati yang paling kerap terjadi adalah ketidak ikhlasan dalam berbuat, su’u zzan dengan taqdir Allah, prasangka buruk dengan sesama, rasa takabur, sombong, ujub, riya’ dan sebagainya. Hati tidak akan pernah mencapai rasa khusyu’ (qalban khasyi’an) bila dosa-dosa yang tertanam dalam hati  tersebut belum dicabut dari akar hati seseorang.

BACA :Mudzakarah Ramadhan MUI Asahan : Ummat Washato 1445 H

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA mengucapkan “Lisan atau lidah yang pendek dan elastis itu termasuk paling banyak memproduksi dosa. Dosa yang paling mengakar dan nyaris permanen adalah dosa ghibah, selalu tergerak untuk mencari, mengungkit, mengungkap, mencari-cari, mengada-ngada, mempropoganda, berdusta,”. Ungkap Pimpinan MUI Kabupaten Asahan.

Penjelasan diatas menurut Buya Salman bahwa semua penyampaian Lidah/Lisan diatas menjadi langganan silidah kecil untuk meraup dosa. Produksi dosa melalui lidah banyak dilakoni oleh setiap orang terutama orang-orang yang bergelut dibidang bisnis berbasis bisnis proyek, bisnis politik dan siasat masa kini.

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA menyatakan “Mata termasuk diantara mesin pencetak dosa, dulu orang yang hidup di pedesaan kebanyakan mereka nyaris tidak tersentuh oleh dosa mata, dikarenakan didesa tidak ada media seperti televisi, hand phon, smart phon, Namun sekarang semua merata, semua jenis alat itu sendiri yang datang menghampiri semua lapisan masyarakat sampai kepelosok-pelosok desa”. Ucap Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Foto Dokumentasi Suhardi Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Lebih lanjut menurut Buya Salman Dahulu kala orang sulit untuk mendatangi tempat maksiat , namun sekarang dosa itu sendiri yang mendatangi rumah-rumah bahkan kekamar setiap warga. Maka tidak salah kalau kita katakan bahwa “mata” yang kita miliki menjadi mesin pencetak dosa terbanyak saat ini.

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA mengucapkan “Telinga adalah indra yang sangat sensitif dan mudah mencerna setiap kata yang melintas melalui telinganya, telinga menjadi jembatan utama untuk mengalirkan arus getaran suara menuju hati dan pikiran, hati menjadi alat penalar dan Otak menjadi alat asumsi, alat analisa survey, mengkaji, spekulasi, menjadi pembuat opini dan narasi untuk mempengaruhi orang-orang bodoh dan berlatar pendidikan rendah”.Ungkap ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

BACA :  Menginjak Usia 2 Tahun, SUARA UTAMA Buktikan Menembus BERITA UTAMA di Google. Pimpinan Mas Andre, Kita Patut Bersyukur

Paparan Buya Salman diatas Dahulu telinga menjadi jejaring dosa terbatas pada dosa tertentu saja seperti berdosa karena mendengar muzik haram, mendengar ghibahan dan sejenisnnya, namun sekarang kebanyakan orang sering  jatuh kepada maksiat karena mendengar opini, prank dan prank, modus, eksploitasi cerita fiktif demi cuan dan narasi-narasi jahat dari orang-orang pintar yang tidak bertanggung jawab dalam mempermainkan opini publik. Youtube, Tiktok dan media lainnya menjadi alat produksi efektif untuk menggiring manusia saat ini untuk melakukan dosa dari indra telinga.

BACA :Cara Terbaik Pelaksanaan Ibadah Ramadhan 1445 H

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA mengemukakan “Tangan, kaki dan kemaluan yang kita milki menjadi penerjamah bagi isi hati, yang disebut oleh lisan dan yang didengar oleh telinga, dosa tangan dahulunya lebih banyak terjadi diatas meja, banyak terjadi dalam transaksi bisnis untuk mengubah satu ketentuan dengan praktek risywah atau sogok menyogok, dulu praktek sogok menyogok itu banyak dilakukan oleh orang-orang berkelas dan yang memiliki pengaruh, tapi sekarang praktek transaksional itu bukan hanya menjadi hal lumrah dikalangan elit, tapi sudah menjadi kebiasaan dikalangan orang-orang bawah”. Ucap Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

Penjelasan Sogok-menyogok sudah terjadi mulai dari urusan surat-menyurat, urusan pendidikan, pekerjaan, bahkan yang paling kentara dan transaksional terjadi dimasa-masa pemilihan presiden, legislatif, kepala daerah, kepala desa dan turunannya, sekarang ini risywah yang merupakan dosa besar tidak dianggap sebagai dosa. Terjadinya dosa kaki dan kemaluan tidak terlepas dari apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar. Tangan atau jari telunjuk saat ini menjadi penggerak dominan masakini untuk memproduksi dosa dari tombol-tombol gaget, daya rusaknya super luar biasa, bisa merusak pribadi, keluarga, kelompok bahkan bangsa dan dunia Internasional. Jaringan dosa yang mengakar dari jemari terpampang dan terpapar via instagram, internet, WA, telegram, IMO, Feace Books dan sebagainya.

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Foto Dokumentasi Suhardi Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Diera G Z sekarang ini menjadi zaman darurat dosa, tapi kebanyakan orang selalu merasa tidak berdosa, padahal setiap harinya ia dikelilingi dosa-dosa, kecuali hanya orang beriman yang sadar akan darurat dosa tersebut, sebegitu kotornya kita, sebegitu menjijikkannya kita, sebegitu bernajisnya kita, seandainya Allah Subhanahu Wata’ala memampangkan satu dosa saja yang kita lakukan pada setiap keluarnya kita dari rumah, maka tidak satupun diantara kita yang mampu melihat wajah saudaranya, begitu juga dengan orang lain tidak akan mampu memandang wajah kita, bagaimana pula kalau seluruh dosa kita seluruhnya divisualkan, dibannerkan atau dispandukkan dijalan-jalan layaknya seperti banner dan spanduk capres cawapres atau calon para legislatif dipinggir-pinggir jalan, kita pasti akan memilih mati dirumah ketimbang berjumpa dengan saudaranya yang lain.

Buya H. Salman Abdullah Tanjung,MA menyatakan“Diantara wujudnya maghfirah dari Allah Subhanahu Wata’ala tidak terlepasnya kita menutupi dan tidak menceritakan dosa-dosa kita kepada orang lain, demikian juga dosa kita akan tertutupi apabila kita mampu menahan lisan untuk tidak menceritakan dosa dan aib orang lain kepada sesiapapun” Ungkap Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan.

BACA :  Meningkatkan Kemampuan Membilang dan Menghitung 1-10 Melalui Media Kartu Angka  di  Kelompok A TK KUNCUP BUNGA PAKAL SURABAYA JAWA TIMUR  - Semester II Tahun Ajaran 2021/2022

Diantara Rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala terhadap hamba-hambanya yang setiap hari melakukan dosa-dosa baik kecil maupun dosa besar selama satu tahun, Allah Ta’ala memberikan tawaran kepada hamba-hambanya yang beriman, sekali gus solusi (Malja’) bagi kita yang banyak dosa yaitu memaksimalkan pelaksanaan puasa pada bulan Ramadhan selama satu bulan penuh.

Untuk mencapai maghfirah tentu tidak diberikan secara gratis, tapi harus melalui langkah-langkah berikut ini:

Melalui perbaikan iman, keyakinan, pelajari ilmu aqidah Islam dengan benar, mulai dari beriman kepada Allah, belajar sifat-sifat-Nya, af’al-Nya, Asma’Nya . Melalui perbaikan amal saleh mulai dari shalat, puasa, zakat dan haji bila telah mampu. Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah dari segala dosa-dosa yang telah pernah dilakukan selama ini, bulan Ramadhan ini sebagai pembuka keampunan bagi hamba-Nyayang benar-benar ingin menyucikan diri dari noda dan dosa.Untuk mencapai maghfirah dari Allah Ta’ala tidak terlepas dari Istiqamah dalam  iman, amal shaleh, ibadah dan taubat kepada-Nya.Hamba yang kembali kepada fitrahnya adalah mereka yang mampu memafkan saudaranya ketika ia minta maaf atau memaafkan sebelum saudaranya meminta maaf.

BACA :Syafari Ramadhan DP. MUI di Masjid Ukhuwah Islamiyah Desa Bagan Asahan 1445 H

Pertanda seorang hamba yang telah kembali kepada fitrahnya, mereka yang selalu memperbaiki hubungannya dengan khaliqnya, memperbaiki hubungan silaturrahimnya dengan saudaranya, berbuat baik kepada kedua orangtuanya, dengan kirabat dekatnya, berbuat baik kepada anak-anak yatim, berbuat baik kepada orang-orang miskin, peminta-minta dan lemah.

Bulan Ramadhan adalah bulan ber’amal dan beraktifitas “Amalun” demikian juga bulan Ramadhan adalah bulan nikmat “ wamannun” untuk meningkatkan etos kerja, untuk mencapai visi-misi yang ingin dicapai dalam kehidupan, baik kehidupan beragama maupun kehidupan duniawi. Visi keagamaan yang harus tecapai pada dirikita ialah bagaimana Islam dan ajarannya menjadi sempurna dalam dirikita dan kita meyakini bahwa Islam adalah nikmat yang paling sempurna bagi kita, sehingga orang kafir tidak berani untuk menggoyahkan keislaman yang kita anut.

AR Learning Center dan Suara Utama Akan Gelar Silaturahmi Nasional dan Halal Bi Halal di Kota Wisata Batu

Foto Dokumentasi AR. Learning Center Biru dan Putih Modern Webinar Bisnis Instagram Post (2)

Adapun misi yang kita bangun adalah amal saleh mulai dari rukun-rukun Islam, akhlak mulia dan ihsan harus terbangun dalam diri kita, dalam bidang kehidupan kita mampu meningkatkan etos kerja yang kita tekuni, bagi pejabat negara, ASN dan para pekerja bekerjalah sesuai tufoksinya agar menghasilkan gaji yang halal, bagi pebisnis, berbisnislah dengan menghindari praktek-praktek haram agar anda membawa gaji dan upah yang halal bagi keluargamu, bagi petani bekerjalah dengan ikhlas dan profesiaonal sebab pekerjaan yang paling bersih dan murni didunia ini adalah bekerja sebagai petani, karena pekerjaan ini lebih terhindar dari praktek riba seperti yang sering dilakukan oleh para pebisnis dan lebih afdhal dari pekerjaan pejabat karena lebih terhindar dari praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).

Bulan Ramadhan juga mengajarkan kepada kita beta pentingnya menjadi orang yang disiplin “Nizham”,Keberhasilan seseorang “najah” dalam pekerjaan apapun yang ditekuninya tidak terlepas dari disiplin, jika kita melihat adanya keberhasilan yang dicapai oleh seseorang itu tidak terlepas dari karakter kedisiplinan yang dimilikinya, dan jika kita ingin melihat orang yang gagal juga tidak terlepas dari kedisiplinannya. Negara gagal kebanyakannya karena kedisiplinan yang tidak terwujud pada pemerintahannya, juga tidak menjadi karakter bangsanya. Dibidang pendidikan, pekerjaan apapun yang ditekuni mulai dari yang paling rendah sampai yang sebesar-besarnya, tingkat keberhasilannya jauh lebih menentukan dari yang kurang disiplin.

BACA :  Iptu Mulia Riadi Jabat Kapolsek Barus

Lalu hakikat hari raya untuk siapa sebenarnya?, hari raya Fitrah diberikan kepada orang yang sudah mampu mengembalikan jati dirinya sebagai hamba yang Fitri, suci, bersih, bening tanpa kotoran noda dan dosa, orang yang masih belum mampu merubah jati dirinya dari lumuran dosa dalam semua asfek, tidak mendapatkan kegembiraan hakiki pada bulan satu Syawal 1445 Hijriyah ini. Ciri-ciri hamba yang telah kembali kepada jati dirinya ialah:

  1. Mereka yang mampu mewujudkan pengesaan Allah Ta’ala atau mentahidkan Allah Ta’ala baik pada DzatNya , Uluhiyah, Rububiyah-Nya, Af’al-Nya dan Asmaa-Nya dan selalu istiqamah dalam ketauhidannya.
  2. Mereka yang senantiasa meyakini dan mengimani bahwa janji-jani Allah Ta’ala untuk hamba-Nya yang beriman di hari Akhirat benar adanya, sorga adalah janji baik bagi orang beriman dan beramal saleh dan neraka ancamanNya bagi yang kufur dan inkar.
  3. Ciri orang yang kembali kepada fitrahnya, mereka yang meyakini bahwa pertolongan Allah Ta’ala sangat dekat kepada hamba-hambaNya yang membela agama-Nya.
  4. Ciri orang yang kembali kepada fitrahnya adalah mereka yang mengagungkan Allah Ta’ala diatas segala kedudukan, kekayaan, kekuasaan yang dimilikinya.
  5. Hamba yang kembali kepada fitrahnya adalah mereka yang senantiasa memuji, mensukuri segala limpahan nikmat yang diberikan kepadanya dan senantiasa mengagungkan Allah Ta’ala dipagi, sore, siang dan malam, melalui ibadah shalat, dzikir dan doa’a yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.

BACA :Mudzakarah Ramadhan MUI Asahan : Ummat Washato 1445 H

Dua golongan yang tidak berhak bergembira dan merasa menang pada hari kemenangan ini: Pertama, Orang yang memilki karakter angkuh dan sombong dalam berkuasa bahkan mempraktekkan tipu-tipu untuk mencapai tujuan dan kekuasaan, ambisius dan merasa telah menang dalam kekuasaannya walaupun diraih dengan cara zalim, dengan cara curang, penguasa atau stegholder yang memilki ala Fir’aun dalam memimpin, Menteri berkelakukan seperti Hamannya Fir’aun dan pengusaha atau konglomerat seperti Qarunnya Fir’aun, yang merasa bahagia diatas penderitaan rakyatnya.

Kedua, Orang yang tidak berhak bergembira pada hari ini adalah mereka yang memilki oreantasi perusak dimuka bumi, kerusakan dimuka bumi terparah adalah orang yang membiarkan kerusakan pada agama, kerusakan pada harta benda melalui praktek-praktek riba, merajalelanya perjudian, madat, meraja lelanya risywah dan membiarkan kemaksiatan.

Kembali kepada fitrah tidaklah sesederhana yang dibayangkan oleh orang awam dalam agama. Apabila ada orang yang berbahagia pada hari Raya Fitrah, akan tetapi ia tidak menunaikan kewajibanya selama bulan Ramadhan, maka mereka termasuk dari golongan bodoh, karena kebahagiaannya didasari atas kepura-puraan. Bila berpuasa sebulan penuh tapi kegembiraan di satu Syawal dirayakan karena berpakaian baru, karena THR, karena suguhan kuweh muweh, maka ketahuilah bahwa puasa seperti itu adalah puasa anak-anak kecil.Puasa yang dilakukan karena Iman kepada Allah, beramal karena Allah, beramal karena mengharap Ridha Allah dan mengharap pahala dan pujian hanya dari Allah, kemudian khawatir amalnya tidak diterima Allah Ta’ala, khawatir pada tahun berikutnya tidak kesampaian untuk dapat mengerjakan puasa seperti tahun-tahun sebelumnya, maka golongan seperti inilah puasa orang-orang berakal, bertaqwa dan yang memperoleh maghfirah.

Berita Terkait

FORMASI Enrekang Kembali Menyalurkan Bantuan Tunai Puluhan Juta Rupiah untuk Palestina
Kurangnya Perhatian Pemkab, Begini Kondisi Jalan di Desa Tanjung Dalam Kecamatan Lembah Masurai
Halal Bihalal AR Learning Center dan Suara Utama Gandeng Pakar Hipnoterapi dan Kolonel AD
Viral, Satu Satunya Angkringan di Kepanjen Malang Sediakan Sego Kucing Khas Jogja. Angkringan Prabu Moker
SMPN Satu Atap Jabon Sidoarjo Gelar Halal bi Halal Peduli dan Ramah Anak
Penuh Ceria Hari Pertama Sekolah Siswa SD Negeri 1 Gedung Karya Jitu Lampung Pasca Libur Idul Fitri
Klinik Rawat Inap Ramdani Husada Malang Salurkan Bantuan ke RMR Kepanjen
Tradisi Hari Raya Enam Di Kampar – Riau, Warisan Kebersamaan Dalam Religius
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 April 2024 - 22:47 WIB

FORMASI Enrekang Kembali Menyalurkan Bantuan Tunai Puluhan Juta Rupiah untuk Palestina

Selasa, 23 April 2024 - 13:54 WIB

Kurangnya Perhatian Pemkab, Begini Kondisi Jalan di Desa Tanjung Dalam Kecamatan Lembah Masurai

Senin, 22 April 2024 - 23:07 WIB

Halal Bihalal AR Learning Center dan Suara Utama Gandeng Pakar Hipnoterapi dan Kolonel AD

Minggu, 21 April 2024 - 11:52 WIB

Viral, Satu Satunya Angkringan di Kepanjen Malang Sediakan Sego Kucing Khas Jogja. Angkringan Prabu Moker

Sabtu, 20 April 2024 - 16:12 WIB

SMPN Satu Atap Jabon Sidoarjo Gelar Halal bi Halal Peduli dan Ramah Anak

Sabtu, 20 April 2024 - 14:02 WIB

Penuh Ceria Hari Pertama Sekolah Siswa SD Negeri 1 Gedung Karya Jitu Lampung Pasca Libur Idul Fitri

Jumat, 19 April 2024 - 16:20 WIB

Klinik Rawat Inap Ramdani Husada Malang Salurkan Bantuan ke RMR Kepanjen

Jumat, 19 April 2024 - 03:06 WIB

Tradisi Hari Raya Enam Di Kampar – Riau, Warisan Kebersamaan Dalam Religius

Berita Terbaru