Ular Jengkal (Cerpen)

- Wartawan

Kamis, 13 Juni 2024 - 07:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Maaf ya bang…jangan marah ya…?” tanya istriku sembari memegangi ibu jari sebelah kanan. Aku mendiamkannya saja, karena toh aku tau kalau istriku mulai terusik dg keadaan jari-jemariku. Sembari menatapku dalam-dalam, Inah kembali mendesakkan keinginannya untuk tau.

“Wajarlah” pikirku. Selama kami pacaran Inah tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya ketika bertanya tentang ibu jari tangan kananku yang putus. “kenapa putus bang?” ujarnya saat itu. Jawabanku sederhana saja, “nantilah kalau kita sudah nikah kalau mau tau jawabannya.” Jawabku singkat.

Sekarang kami telah menikah, pas malam pertama usai menjalankan kewajibanku sebagai suami, dia kembali bertanya :”Maaf ya bang…jangan marah ya?” sembari memegangi jari-jemariku. “Abang kan sudah janji sama Inah, kalau sudah menikah boleh tau kenapa ibu jari tangan kanan abang putus.., Maaf ya bang…jangan marah ya…?” ucapnya lirih sembari merebahkan kepalanya di dadaku.

“Sudahlah…besok pagi saja abang ceritakan kisahnya, sekarang sudah malam. Mari kita tidur…” pujukku padanya. “Belum ngantuk bang..” jawabnya pula.

Akupun sebenarnya tak bisa tidur pulas. Masih jelas terbayang kejadian setahun yang lalu ketika aku terpaksa harus memotong hingga putus ibu jariku sendiri. Peristiwa itu wajar kulakukan demi menyelamatkan diriku dari menjalarnya sengatan bisa ular jengkal yang menggigit ujung ibu jariku.

Di tengah masyarakat nelayan pantai, jenis ular jengkal terkenal sangat mematikan. Pertolongan pertama kepada orang yang digigit ular jengkal biasanya dengan memotong bagian pangkal anggota badan yang digigit. “Untungnya hanya ibu jariku yang digigit ular sialan ini, coba kalau bagian yang lain, matilah aku,” ujarku ketika selesai memotong habis ibu jari tangan kananku dan menaruhnya di atas selembar daun keladi hutan, membungkusnya dan menaruhnya dicelah-celan cabang pohon bakau.

“Ayo…, belum bisa tidur ya..bang?” goda istriku. Aku takut istriku menjadi sedih jika aku tidak menceritakan apa yang pernah kujanjikan. Aku bangkit dari tidur, duduk di sampingnya sembari menatap wajahnya. “Kenapa rupanya kalau jari tangan abang putus…, apakah adik tidak mencintai abang lagi karena ini?” tanyaku sembari menunjukkan telapak tangan kanan kepadanya.

“Bukan bang…., gaklah gara-gara itu, tapi khan abang sudah janji sama Inah” ujarnya sambil meraih tanganku dan mendekatkannya tepat di wajahnya. Aku jadi terharu, sedih dan timbul keinginan agar ibu jariku yang putus bisa tersambung kembali.

“Sebenarnya potongan jari tangan abang masih utuh…” aku mengawali penjelasan tentang peristiwa ini padanya. “Iya…bang?” bener…bang?” Dimana abang simpan?” desak istriku tak sabaran dan bangkit dari tidurnya, kamipun duduk berhadap-hadapan.

Setahun yang lalu, ketika abang berangkat mencari ikan ke laut bersama Ayah, tiba-tiba saja tangan abang digigit ular jengkal saat melepas tari tambatan sampan. Gigitan itu tepat di ujung ibu jari sebelah kanan abang. Waktu itu ayah bilang kalau abang harus memotong jari yang terkena gigitan ular. “Kalau kau tak berani, biar Ayah yang memotongnya karna ini lebih baik daripada kau mati karena racun ular jengkal itu” kata Ayah.

Sebagi laki-laki dewasa dan sudah beberapa kali menyaksikan kematian nelayan yang digigit ular jengkal, aku langsung menghunus golok dan memotong jari tanganku. “Cresss…!” darah muncrat seiring terpentalnya potongan ibu jariku ke tanah. Ayah yang merawat lukaku, kamipun tak jadi melaut hari itu. Tapi sebelum pulang aku sempat mengambil potongan ibu jariku dan membungkusnya dengan daun keladi. Ketika aku menyelipkan bungkusan itu ke celah-celah pohon bakau, Ayah sempat berujar :” sebaiknya kau tanam potongan ibu jarimu itu, atau kau campakkan saja ke laut.” Katanya.

“turs bang…,abang bilang masih ada potongannya…boleh Inah melihatnya bang.., sekarang bang?” rengek istriku. “Ada…, di tas sumpit yang sering abang bawa saat melaut,” jawabku.

Istriku bergegas bangkit dan menggeledahnya. Matanya tertuju pada bungkusan daun keladi yang sudah mongering. Perlahan-lahan disingkirkannya serpihan daun keladi kering itu, tiba-tiba saja dia terkejut karena potongan jariku masih kelihatan segar, belum mongering, tidak membusuk dan tidak berbau. Dipegangnya potongan ibu jari milikku, diperhatikannya dalam-dalam, diperlihatkannya padaku. :”masih segar bang…, masih seperti jari-jemari lainnya,hanya darahnya saja yang sudah mongering,” kata istriku bersemangat menunjukkan detil potongan jari yang ada di tangannya.

Aku diam saja, tidak banyak berkomentar. Sayup-sayup aku dengar suara Istriku : “Sekiranya jari tangan abang masih utuh…, alangkah sempurnanya dirimu bang..?” bisiknya.

Inah coba mendekatkan potongan jari itu ke sisi tangan kananku dan mengarahkannya ke pangkal ibu jari. Reflex aku menarik tangan kananku menjauh darinya. “Kenapa…bang, kenapa abang menariknya..Inah hanya mau melihat seandainya potongan ini bisa melekat kembali di pangkal ibu jari abang.” Katanya.

“Inah…, kalau itu akan menjadi kebahagianmu abang ikhlas. Ini tangan abang, semoga tidak terjadi apa..apa terhadap abang setelah kau lekatkan kembali ujung jari itu ke tangan abang,” ucapku sembari mengingat pesan Ayah bahwa aku tidak dibenarkannya menyatukan potongan jariku karena racun ular jengkal itu masih tersimpan dan bisa menjalar hingga ke jantungku.

Aku tidak tau lagi apa yang terjadi, sayup…sayup aku mendengar teriakan istriku sembari mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku merasakan tubuhku ringan, melayang dan melihat istriku menangisi diriku…tertelungkup, wajahnya tepat di dadaku. (Samarinda-Akhir Tahun 2012)

BACA JUGA :  Peningkatan Kemampuan Menjumlah Melalui Media Aneka Buah -  Buahan di  Kelompok B TK PERTIWI 26-66 PAKULAUT KECAMATAN MARGASARI KABUPATEN TEGAL - Semester II Tahun Ajaran 2020/2021

Penulis : Edi Prayitno

Sumber Berita : Blogspot Pribadi

Berita Terkait

Dimasa Pilkada Serentak 2024, Bupati Tasikmalaya Rubah Nama RSUD SMC Menjadi RSUD KHZ Musthafa Setelah 13 Tahun Berdiri!!!
Reformulasi Pelatihan Keagamaan, Kemenag dan Lazismu Tandatangani MoU
Parkir Liar di Purbalingga Semakin Merajalela
LSM PETA Laporkan Dugaan Korupsi PSU DPD RI di Pesisir Selatan ke Kejari
agari Tluk Amplu Mengadakan Gotong Royong Bersama Masyarakat
Dosen PAI Harus Menjadi Ruh Masjid Kampus: Mengokohkan Peran dalam Pembangunan Peradaban
Penegakan Hukum Lemah, PETI Makin Menggila di DAM SESAH Kabupaten Merangin
KPU Kabupaten Mesuji siap sukseskan Pilkada Serentak 2024: Rapat Koordinasi dan Bimtek Digelar
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juli 2024 - 13:02 WIB

Dimasa Pilkada Serentak 2024, Bupati Tasikmalaya Rubah Nama RSUD SMC Menjadi RSUD KHZ Musthafa Setelah 13 Tahun Berdiri!!!

Selasa, 23 Juli 2024 - 11:54 WIB

Reformulasi Pelatihan Keagamaan, Kemenag dan Lazismu Tandatangani MoU

Senin, 22 Juli 2024 - 19:08 WIB

Parkir Liar di Purbalingga Semakin Merajalela

Senin, 22 Juli 2024 - 16:17 WIB

LSM PETA Laporkan Dugaan Korupsi PSU DPD RI di Pesisir Selatan ke Kejari

Senin, 22 Juli 2024 - 14:22 WIB

agari Tluk Amplu Mengadakan Gotong Royong Bersama Masyarakat

Minggu, 21 Juli 2024 - 19:42 WIB

Dosen PAI Harus Menjadi Ruh Masjid Kampus: Mengokohkan Peran dalam Pembangunan Peradaban

Minggu, 21 Juli 2024 - 11:35 WIB

Penegakan Hukum Lemah, PETI Makin Menggila di DAM SESAH Kabupaten Merangin

Minggu, 21 Juli 2024 - 01:23 WIB

KPU Kabupaten Mesuji siap sukseskan Pilkada Serentak 2024: Rapat Koordinasi dan Bimtek Digelar

Berita Terbaru

MOU Lazismu dan Kemenag

Berita Utama

Reformulasi Pelatihan Keagamaan, Kemenag dan Lazismu Tandatangani MoU

Selasa, 23 Jul 2024 - 11:54 WIB

Parkir Liar di Purbalingga -
suarautama.id 22/7

Liputan Khusus

Parkir Liar di Purbalingga Semakin Merajalela

Senin, 22 Jul 2024 - 19:08 WIB