Toba dan Doge di “MUYE ONEE” Punah

- Jurnalis

Rabu, 6 Maret 2024 - 17:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA. Toba dan Doge di “MUYE ONEE” Oleh: Jhon Minggus Keiya No. HP/WA: 082189346477

Pendahuluan
Alam adalah pemberi kehidup bagi manusia yang sedang mengalami peradaban hayati dimuka bumi. Kelestarian dan kepedulian terhadap segala jenis tumbuhan dan hewan menjadi tugas kita bersama untuk menumbuh kembangkan secara efektif dan juga efisien. Saya perlu menekankan lagi bahwa Tuhan menciptakan manusia bukan untuk menguasai bumi dan mengeksploitasinya secara besar-besaran. Namun, Tuhan meminta manusia untuk merawat, melestarikan dan hidup berdampingan dengan alam bukan pembangunan modern.

Satu kesadaran yang musti manusia tanamkan adalah, manusia dengan hewan lainnya tidak jauh berbeda. Kami sama-sama makhluk hidup, yang memiliki masa untuk hidup dan berkembang biak dan masa untuk harus sakit hingga mati. Tak ada satu spesies yang ada dimuka bumi ini, yang akan mampu hidup kekal jika kehidupan dan habitatnya terganggu dan dirusak. Semuanya tentu ada saja masa dimana kepunahan itu akan melanda.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Toba dan Doge di "MUYE ONEE" Punah Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekarang kita bisa melihat salah satu contoh besar yang terjadi didepan mata, dan hal itu boleh kita menjadikan sebagai hikmat. Jenis spesies amfibi Toba dan Doge yang sudah tidak menampakkan diri lagi di “MUYE ONEE”. Saya sudah tidak melihat lagi kemunculannya mereka di air dibalik bebatuan dan dipinggir kali bahkan di dahan pohon sekitaran kali. Apakah alam tidak mengizinkan jenis ini hidup ? ataukah manusia yang memaksa mereka untuk tidak lagi hidup didaerah ini, entahlah !!!

Pada tahun 2021 muncul tanda tanya besar ketika saya bermain di “MUYE ONEE”, yang dulunya saya habiskan waktu bersama teman untuk mencari Toba dan Doge untuk mengonsumsinya. Ketika saya mengangkat batu satu per satu sudah tidak nampak lagi dikali itu, entah kemana. Sehingga saya bertanya apa yang telah terjadi ? Kemana Doge dan Toba itu hilang? Apakah ikan-ikan menelusuri kali ini lalu memakannya ? ataukah mereka habis gara-gara kaum manusia yang ada disekitarnya rutin mengonsumsinya ? mari kita bahas sama-sama.

Pembahasan yang akan saya bahas adalah fenomena kehilangan atau Punahnya satu spesies yang tidak lazim bagi kami orang pegunungan Papua, MEEPAGO, Paniai, Muyetadi. Serta menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang saya paparkan diatas.

A.  Mengenal “MUYE ONEE”
MUYE ONEE adalah sebutan sebuah sungai yang terletak di kampung Muyetadi, bagian Barat dari Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah. MUYE adalah nama sebuah kampung, yang kini sekarang menjadi satu kecamatan. Sedangkan ONEE artinya kali/sungai yang mengalir. Jadi, kali atau sungai ini diberi nama berdasarkan nama kampung atau kecamatan tersebut. MUYE dikenal sebagai kampung yang sangat terpencil dari ibu kota kabupaten Paniai, untuk mengunjungi kampung ini wajib harus menggunakan speed boat menyebrangi danau Paniai. Bisa juga menggunakan transportasi darat sepedamotor melalui Keniyapa dan Obano. Muyetadi termasuk menjadi kampung yang sangat menjaga rapi dan melestarikan adat dan budaya para leluhur.

Kembali ke tema, Sungai ini mengalir dari sekitaran gunung Deiyai, hingga alirannya bermuara ke Danau Paniai. Gunung Deiyai adalah gunung tertinggi yang berdiri kokoh ditengah-tengah 3 kabupaten wilayah Meeuwodide yakni Paniai, Deiyai, dan Dogiyai. Gunung Deiyai sering menjadi pusat perhatian banyak orang yang dianggap menyimpan misteri.

Sayangnya kadangkala “MUYE ONEE” menjadi kabur ketika hujan deras, namun akan kembali seperti sediakala saat hujan redah dan musim kemarau. Walaupun hingga musim kemarau berlangsung lama airnya tidak pernah mengering, dia tetap mengalir. Air yang jernih dan bersih tak bernoda, kali/sungai ini dijadikan spot menimba air minum, mencuci, dan mandi oleh masyarakat setempat.

Di dalam “Muye Onee” ada 3 jenis spesies yang hidup dan sudah menjadi habitatnya, diantaranya adalah: Ikan, Berudu, dan Katak. Mengapa ada ikan ? yang jelas kali ini bermuara ke danau Paniai tentu ikan didanau akan mengikuti aliran sungainya, dan menjadikan habitatnya. Ke 3 jenis ini diburu dan dapat dikunsemsi oleh masyarakat yang mendiami kampung itu.

BACA :  Membaca Alquran Serasa Hati Bernyanyi, Ini Dia 5 Prinsip untuk Kehidupan Kita

B.  Apa itu “Toba” dan “Doge” ?

Toba dan Doge adalah sejenis hewan amfibi yang hidup di kali/sungai yang mengalir. Toba biasanya dijumpai di balik bebatuan yang kecil dan besar didalam kali, sedangkan Dogee kita bisa jumpai mereka di pinggiran dari kali tersebut dan dibalik bebatuan yang besar dan dipohon-pohon pendek yang tumbuh dipinggir kali. Toba adalah sebutan bahasa Mee yang artinya bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Berudu, sedangkan Doge artinya Katak.

Toba dan Doge adalah satu spesies yang hidup di pegunungan Papua yang sudah sangat lama menjadi penyuplai protein dalam tubuh bagi Penduduk yang mendiami Pegunungan Papua, menggantikan ikan dan ayam. Bagi Suku Mee yang mendiami Kabupaten Paniai tentu dekat dengan danau. Namun tidak mengacu pada asumsi bahwa setiap hari mereka makan ikan. Sebab, ikan hanya bisa diperoleh oleh beberapa orang yang mahir menebarkan jala dan pukat, serta memiliki skill memanah ikan.

1.  Teknik Menangkap Doge dan Toba
Tidaklah mudah untuk menangkap Toba dan Doge di sungai, harus ada tahap-tahap serta persiapan yang baik sebelumnya seperti jaring dan penerang. Apa Kegunaanya ? Jaring digunakan untuk menangkap Toba dalam Jumlah banyak, sedangkan penerang digunakan untuk menangkap Doge pada malam hari. Berikut uraiannya :
a. Cara Menangkap Doge (Katak)
Menangkap Doge tidaklah sulit, sebab ketika kita berjalan menelusuri kali pasti akan menjumpainya, di dahan pohon dan ranting kecil/pendek pada pinggir kali. Namun sayangnya di siang hari mereka tidak kunjung terlihat hanya pada malam hari kita dapat memburu dan mendapatkannya. Jadi, persiapan yang kita sediakan adalah penerang yakni obor-obor api dan senter.

Menangkapnyapun harus berhati-hati, sebab mereka aktif dan lompatannya sangat jauh. Ketika menangkap Doge tentu tidak boleh langsung dimasukkan dalam Noken ataupun Sarung yang dibawa untuk mengisi hasil tangkapan. Namun kita harus bunuh dengan cara menggigit kepala agar mati.

b. Cara Menangkap Toba (Berudu)
Untuk menangkap Toba, kita harus menghalangi air kali yang mengalir deras dengan cara menumpuk atau menyusun batu didepannya dan membuat aliran air disisi lain. Kemudian menempelkan tanah liat dicela-celah batu yang kita susun pada tempat yang akan kita jadikan tempat buruan sehingga air itu menjadi surut. Lalu beberapa menit kita manfaatkan menutup cela-cela agar air tidak mengalir banyak kedalam agar kita dengan mudah menangkap Toba. Setelah itu menangkapnya bisa menggunakan tangan dan bisa juga menggunakan jaring manila yang dirajut khusus untuk menangkap Toba, berbentuk bulat biasa kami menyeebut (Ebai).

2.  Manfaat Konsumsi Tobaa dan Dogee bagi Masyarakat Pegunungan Papua (MEE)
a. Manfaat
Bagi kami suku MEE toba dan doge menjadi pengganti ikan dan ayam. Tidak diragukan lagi, didalam Tobaa dan Doge terdapat begitu banyak protein yang dapat menyembuhkan beberapa masalah kesehatan. Kami suku MEE sudah dari turun temurun merasakan khasiat dari Toba dan Doge. Bagi ibu-ibu mengonsumsi toba ketika mengalami kesulitan melahirkan anak agar dipermudah proses lahirnya. Kemudian ketika kekurangan ASI, ibu-ibu mengonsumsinya untuk menambah ASI.

b. Cara Mengolah
Pengolahan Toba dan Doge sangat mudah sebab menggunakan cara tradisional suku bangsa MEE itu sendiri. Jadi, kita tinggal mengambil bamboo muda, kemudian memasukkan Toba dan Doge itu kedalam bamboo itu, lalu kita panaskan diatas tungku api, tunggu 5-10 menit akan matang dan jadi disantap. Cara kedua juga masih menggunakan tradisional, kita selalu memasak dengan sayuran yang disebut Digiyo (Naapo) dan Kagame, ketiganya dibungkus dengan daun khusus yang ada dihutan bentuk daunnya seperti daun lengkuas bisa juga dari daun keladi. Lalu, dikubur didalam tungku api yang berisi abu, setelah itu tinggal buat apa diatasnya tunggu 5-10 menit akan matang dan jadi disantap.

C. Hilangnya Tobaa dan Doge di kali “MUYE ONEE”.
Tidak diketahu pasti penyebab hilangnya atau Punahnya Toba dan Doge di MUYE ONEE ini. Namum saya akan mencoba menjelaskan hal ini dalam dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, Pandangan Ilmiah; dan yang Kedua, Pandangan Masyarakat Lokal, melalui wawancara dan dialog. Pada pandangan ilmiah saya akan menambahkan data-data yang diperoleh dari beberap sumber website.

BACA :  Bertemakan Saweu Gampong, Tim Safari Ramadhan PIM Kunjungi Masyarakat Desa Lingkungan Perusahaan

1. Pandangan Ilmiah
a. Perubahan Iklim
Perubahan iklim merupakan perubahan suhu dan pola cuaca jangka panjang. Kemudian yang menyebabkan perubahan iklim ini adalah manusia itu sendiri, dengan berbagai aktifitas yang dilakukan seperti pembakaran bahan bakar (batu bara, minyak, gas) yang bersifat panas lihat https://indonesia.un.org/id/175273-penyebab-dan-dampak-perubahan-iklim#penyebab.

Secara umum Indonesia memiliki 3 iklim yakni Tropis, Muson, dan Laut lihat https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/region/read/2022/07/23/115222878/3-jenis-iklim-di-indonesia-iklim-tropis-iklim-muson-dan-iklim-laut. Dengan hal ini pulau Papua, wilayah Meepago lebih dikhususkan lagi Paniai, Muyetadi adalah wilayah dengan iklim tropis tinggi, sebab terletak pada 13019 bujur Timur dan 03056 lintang selatan, Pegunungan Tengah Papua.

Banyak literature dan study tentang hewan Amfibi didunia menyatakan, salah satu penyebab kepunahan hewan Amfibi (Berudu dan Katak) ini adalah “Perubahan Iklim”, walaupun belum ada pembuktian dan penelitian secara lebih lanjut yang mengemukakan penyebab kepunahan hewan amfibi ini dengan konkret. Mengapa ? sebab para peneliti masih menggunakan Research Question “Why” (mengapa). Salah satunya adalah yang dibahas dalam websit berikut ini https://the–gist-org.translate.goog/2020/04/frog-are-disappearing-climate-change/

Daerah Paniai adalah daerah yang memiliki suhu maxsimum -15-250C ini artinya tingkat suhu dan kelembapan untuk kelangsungan hidup katak sangat baik dan layak berkembang biak. Jika kepunahan Toba dan Doge di Muyetadi pada MUYE ONEE diakibatkan oleh perubahan iklim, sangat disayangkan hanya karena musim hujan dan musim kemarau mampu memusnahkan Toba dan Doge (Berudu dan Katak) dalam 3 tahun, terhitung 2018 sampai 2020 dan itu waktu yang sangat singkat.

Coba kita pelajari kembali cara bekembang biak katak https://www.google.com/amp/s/katadata.co.id/amp/berita/nasional/62665284a64a6/memahami-proses-metamorfosis-katak-dari-pembuahan-sampai-dewasa. Singkatnya, katak bertelur, setelah menetas akan menjadi kecebong, kemudian menjadi Berudu. Setelah menjadi berudu dia bernafas menggunakan insang. Sudah tentu berudu harus hidup didalam air.

Praduga sementara dari saya adalah, selama masa pertumbuhan dari berudu bermetamorfosis menjadi berudu berkaki 2 hingga 4, masa-masa itulah berudu sering diburu oleh kami warga yang mendiami kampung Muyetadi. Hal ini sudah dilakukan dari ratusan tahun lalu oleh moyang kami dan itu sudah menjadi rutinitas kami seketika bermain di MUYE ONEE. Sehingga hal ini, mengakibatkan penurunan yang sangat drastis dan massif, untuk perkembang biakan katak. Secara tidak sadar hal inipun menjadi pemutus mata rantai reproduksi dari pada katak (hewan Amfibi) jenis ini di alam semesta.

b. Wabah Penyakit
Asumsi ini diyakini sebab berudu dan katak adalah hewan pemakan hama (benih penyakit). Penyakit yang disebut batrachochytrium dendrobatidis memiliki efek buruk terhadap hewan amfibi seperti Doge (katak). Penyakit ini menyerang fungsi fital dari Doge (katak). Data menunjukkan 500 spesies amfibi, yang mengalami penurunan massal adalah katak sebanyak (93%) telah dibahas dalam websit berikut ini https://the–gist-org.translate.goog/2020/04/frog-are-disappearing-climate-change/.

2. Pandangan Masyarakat Lokal
Masyarakat setempat berpendapat bahwa Toba dan Doge tidaklah hilang ataupun punah. Mereka meyakini bahwa hewan jenis ini disengaja dikunci didalam gunung Deiyai oleh Alam Semesta untuk keperluan akhir zaman. Hal ini memang mustahil untuk dipercaya, sebab padangan lokal merujuk pada sifat alamiah bukan ilmiah. Walaupun belum teruji dan tidak dapat diuji secara ilmiah namun misteri alam serta fenomena alam disetiap Negara, Suku dan Bangsa, pasti ada dan mutlak terjadi.

Kami sebagian besar suku MEE masih mempercayai dan mengilhami takhayul dan wahyu moyang dan leluhur kami. Mengapa ? sebagian besar ungkapan mereka dahulu kala, yang didapat melalu Mimpi bahkan Penglihatan telah terwujud, sudah dan sedang digenapi. Jadi kehilangan/punahnya Toba dan Doge merupakan salah satu penggenapan wahyu Moyang dan Leluhur kami Suku MEE di Muyetadi. Masyarakat setempat tidak menunjukkan ekspresi khatir akan hal itu. Mereka sangat yakin dan percaya terhadap alam bahwa suatu saat hewan ini akan muncul dengan sendirinya dan bertambah banyak.

BACA :  Jigsaw dan Window Shopping Dalam Aktualisasi Pembelajaran

3.  Estimasi Tambahan
a. Aktifitas Berburu
Memburu dan mengonsumsi Doge dan Toba sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dari tetek dan nenek moyang kami suku MEE yang mendiami pegunungan Papua. Bahkan ketika sakit biasanya akan mencari Toba untuk dikonsumsi sebab kami percaya Toba dan Doge dapat menyembuhkan berbagai penyakit dalam. Tidak hanya itu rasanya yang enak, guruh, membuat warga setempat tiada henti memburunya.

Disayangkan perburuan ini tidak dilakukan sekali maupun dua kali. Namun, perburuan telah dilakuan setiap saat oleh masyarakat setempat. Hal ini juga ikut mengakibatkan efek penurunan bahkan sekarang sudah punah dari sungai Muye ini. Bagaimana tidak mengalami kepunahan, ratusan tahun lalu hingga tahun dimana detik-detik punah 2020 mereka masih diburu hingga tiada sisa.

b. Munculnya Kodok
Kemunculan kodok sangat meresahkan warga Paniai. Sebab, kodok ada dimana-mana, diselokan, got, dijalan. Suara kasar tidak sedap yang mereka hasilkan membuat telinga kami sangat terganggu. Awalnya kodok hanya ada dipusat kota, sekarang kodok sudah masuk ke pelosok. Tidak disangka kodok sudah ada di Muyetadi. Hal ini menaru kecurigaan saya bahwasannya kodok sudah menggantikan posisi katak dikali (Doge).

Perlu diketui, kodok dan katak adalah dua jenis spesies yang berbeda pula. Katak dikali lebih cenderung aktif, lompatannya jauh, kulitnya licin, ramping, lebih suka dekat dengan air. Sedangkan Kodok kulitnya kasar, gemuk, lompatannya pendek, lebih suka menghabiskan waktu hidup didarat.

Penutup
Tercatat wilayah Indonesia adalah Negara yang memiliki spesies Doge (Katak) nomor satu se Asia dan memiliki peringkat nomor 2 di Dunia. Tetapi, 10% dari hewan amfibi Doge dan Toba (Katak dan Berudu) terancam punah, salah satu studi mengemukakan “lebih dari 70% spesies amfibi didunia mengalami penurunan” https://www.ncbi.nlm.nih.gov. Hal ini benar-benar sudah terwujud di Papua, wilayah Meepago, Provinsi Papua Tengah, Kabupaten Paniai, Distrik Muyetadi. Penurunan yang dimaksud dari studi diatas tentang hewan amfibi ini termasuk Toba dan Doge (Berudu dan Katak).

Kepunahan atau hilangnya Tobaa dan Doge di MUYE ONEE terjadi sekitaran tahun 2018 hingga 2020. Beberapa tetua yang mendiami sekitar kali itu berkata “Doge ma tobamaa Koo igagoo yamokegai kodoko” artinya “Semua Katak dan Berudu sudah punah”. Berarti katak tidak dapat mereproduksi berudu lagi. Sungguh menyedihkan, kita sudah terlambat untuk menyelamatkan kawanan ini.

Terbatasnya pengetahuan serta belum ada rasa kepedulian terhadap lingkungan hidup dan alam semesta bahkan segala jenis hewan dan binatang yang ada, akhirnya Toba dan Doge lenyap dari muka bumi ini. Tentu saja kami masyarakat dunia sudah rugi besar, bukan hanya masyarakat atau kami suku MEE tetapi masyarakat seluruh dunia mengalami hal ini. Manfaat dan Khasiat yang dimiliki oleh Toba dan Doge telah hilang bersama kepunahannya. Katak dan Berudu memberi kami banyak pertolongan untuk kesehatan kami seperti Maag, Kanker, HIV.

Tidak dapat dipungkiri, pasti hewan lainnyapun akan mengalami hal yang serupa dengan Berudu dan Katak. Jadi, saya igin memberi saran dan mengajak kepada kita seluruh generasi penerus yang mendiami wilayah, Meepago dan Papua keseluruhan. Mari kita selamatkan, menjaga, dan melestarikan, binatang, hewan, tumbuhan yang masih ada dan tersisa diatas Tanah Papua.

Saya sarankan kepada mahasiswa/i Papua, semoga ada studi dan penelitian lebih lanjut tentang kepunahan Toba dan Doge (Berudu dan Katak) di MUYE ONEE bahkan daerah lain di seluruh Papua yang memiliki cerita dan peristiwa yang sama. Saran ini ditujukan bagi siapa saja yang menggeluti dunia pendidikan dibidang Herpetologi (Ilmu Zoologi).

Penulis bernama Lengkap Jhon Minggus Keiya, S.Pd., C.PW alumnus Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire dan Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Dogiyai. Mantan Jurnalis SUARA UTAMA, Anggota Media PNCF, Aktivis Peduli Pendidikan Papua asal Papua Tengah, Paniai, Muyetadi.

Berita Terkait

MODENA Peduli Pensiun
Rahasia Agar Wanita Cepat Basah Wanitanya
PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI
IT Club ‘Pendek Film’ Raih Penghargaan Festival Kreativitas Gen Z Banten
Derita Pekerja Harian Lepas
Masalahmu, Itu Masalah Dia!
Keistimewaan Hari Jum’at sebagai Hari Suci untuk Muslimin
Apakah Yang Dimaksud Dengan TPK Desa, Ini Definisi dan Tugasnya
Berita ini 4 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 18 Mei 2024 - 19:53 WIB

MODENA Peduli Pensiun

Selasa, 14 Mei 2024 - 20:18 WIB

Rahasia Agar Wanita Cepat Basah Wanitanya

Senin, 6 Mei 2024 - 17:38 WIB

PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI

Minggu, 5 Mei 2024 - 08:59 WIB

IT Club ‘Pendek Film’ Raih Penghargaan Festival Kreativitas Gen Z Banten

Minggu, 5 Mei 2024 - 07:20 WIB

Derita Pekerja Harian Lepas

Sabtu, 4 Mei 2024 - 22:18 WIB

Masalahmu, Itu Masalah Dia!

Jumat, 3 Mei 2024 - 13:47 WIB

Keistimewaan Hari Jum’at sebagai Hari Suci untuk Muslimin

Selasa, 30 April 2024 - 12:58 WIB

Apakah Yang Dimaksud Dengan TPK Desa, Ini Definisi dan Tugasnya

Berita Terbaru

Pendidikan

Heboh Tata Kelola Perguruan Tinggi: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:15 WIB