banner 728x250

Revolusi Pendidikan, Tantangan Dalam Kebebasan Berpikir & Kembalinya Abad Pencerahan

Screenshot 2023 06 07 190812 Revolusi Pendidikan, Tantangan Dalam Kebebasan Berpikir & Kembalinya Abad Pencerahan Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama
Revolusi Pendidikan, Tantangan Dalam Kebebasan Berpikir & Kembalinya Abad Pencerahan
banner 120x600
212 Kali Dibaca

SUARA UTAMA – Ian Saphiro dalam pendahuluan bukunya yang berjudul Asas Moral dalam Politik mengajukan satu pertanyaan yang saya kira dapat dimultiplikasikan dalam berbagai kesempatan politik. Dia berbunyi “Kapankah suatu pemerintahan layak memperoleh dukungan kita, dan kapan tidak?” dan kemudian memperhadapkan semacam polemik tentang sebuah revolusi politis, dengan menyebutkan Socrates yang menelanjangi kelompok Sofis Athena dan Martin Luther yang merubah keseluruhan ajaran Katolik, dan kemudian dalam halaman yang sama menyebut nama

Adolf Eichmann yang menjadi arsitek besar proyek Holocaust yang mengantarkan kelompok masyarakat Yahudi menuju kematiannya. Apa yang dapat dibaca disana adalah ketidakpatuhan terhadap hukum yang ternyata memberikan rasa kagum dan penghormatan tertinggi umat manusia dan sebuah kebalikan atas ketidakpatuhan, yakni kepatuhan atas kekuasaan rezim ketiga Jerman yang mendorong seorang Eichmann mengikuti Hukum Nuremberg secara mutlak dan memberikan kesan ngeri jijik kepadanya.

Pemerintahan manapun, saya yakini berpegang pada satu ketentuan hukum dan aturan untuk menjalankan agenda mereka dengan nyaman dan teratur. Dan dalam posisi yang demikian, kiranya pantas bagi kita untuk menyambutnya dengan rasa gembira dan antusias. Dimana jaminan rasa aman dan tertib dan keterhindaran dari kekacauan dijamin oleh kekuasaan. Namun jika kita kembali pada pertanyaan yang diajukan oleh Ian, saya buka pertanyaan dengan posisi yang terdengar serupa “akan sejauh apa rasa antusias ini dapat dipertahankan?” jika dalam menjalankan keteraturan ini, rasa tidak yakin justru timbul ke permukaan dan dihadapkan pada kita semua yang menjadi bagian dari kekuasaan ini. Rasa tidak yakin ini ternyata tidak dihadirkan oleh mereka yang kita sepakati sebagai seorang pengacau yang menantang rasa nyaman dan aman kita dalam berinteraksi, bagaimana jika ketidakyakinan ini justru diberikan oleh mereka yang menjalankan kekuasan itu sendiri?

Saya akan mulai dengan sebuah lintas waktu terhadap apa yang terjadi, sehingga penulisan esai ini runtut dan menghindarkan dari catatan pembaca yang melibatkan predikat “ambigu”. Pun demikian, saya mengharapkan ada semacam tanggapan, baik yang menentang dan sepakat untuk memperbaiki esai ini. Sehingga iklim pendidikan yang pantas dan cakap dapat kita capai bersama, serta menghindarkan kita dari Tindakan barbaric yang tidak mencerminkan masyarakat beradab.

 

Ada semacam pengambilan keputusan, yang dalam banyak perspektif terburu-buru dan dalam perspektif yang lain cukup matang. Yakni memangkas pengajar akademik yang cakap dalam bidangnya untuk selesai mendistribusikan pengetahuan yang telah dilakoninya selama beberapa waktu. Tak lama, protes dan amarah bangkit, menuntut agar kembalinya sang guru yang dianggap ibu mereka untuk kembali mengajar. Tak lama pula, dalam waktu yang hampir bersamaan penyelesaian studi kelompok pedagogik ini dijalankan dan muncul dar salah satu yang terbaik membacakan sajak-sajak puitis membela “ibunya”. Tak lama, “sang ibu” kembali sebagaimana tuntutan sebelumnya, namun pemetaan polemik ini tak selesai disini. Muncul pemberitaan sebelum upacara penyelesaian studi para pelajar ini, dan melalukan gladinya. Persepsi yang timbul, mengatakan bahwa sarjana pedagogik terbaik ini dilarang mempuisikan sajak-sajak yang menjadi buah pikirnya sebelumnya. Larangan, dalam klaim yang diajukan pimpinan ini terdengar masuk akal ketika susunan kegiatan upacara pelepasan ini tidak boleh diganggu dengan apa yang semestinya dijalankan dan susunan sudah final dan pakem untuk dilaksanakan. Apa yang menjadi polemik utama dari saya harus menuliskan esai ini adalah timbulnya pernyataan yang membumbui “larangan” pembacaan puisi ini. Sebuah klaim tentang adanya intimidasi dan sebuah hinaan yang menyebutkan tiadanya sosok orang tua harus diterima oleh pelajar terbaik ini.

Amarah dan juga respon yang bernada kebencian timbul, manakala suara pelajar terbaik ini menggemuruh sosial media dan internet selama beberapa hari terakhir. Pesimisme dan juga tantangan muncul untuk menjatuhkan bukan hanya nama pemimpin namun juga almamater yang menjadi kebanggaan kami ini.

Saya menanggapi bahwa kekuasaan yang demikian kiranya hanya akan menghambat bentuk kebebasan ekspresi yang telah dijamin oleh dasar hukum kita, yakni Undang-Undang Dasar 1945 yang salah satu poinnya adalah kebebasan untuk berkumpul, berserikat dan menyatakan

pendapat telah menjadi prinsip kebebasan negara demokrasi ini. Ini menjadi semacam tuntuan paling mutlak bagi tiap-tiap warga negara untuk hidup dengan “layak” dan “pantas”. Jadi bisa dikatakan jika merujuk pada ketentuan Undang-Undang, sudah ada semacam bentuk pengekangan, yang saya rasa dijalankan dengan metode yang tidak semestinya disampaikan oleh orang yang terdidik.

Saya menguraikan satu argumen dari rumusan hukum yang memang menuntut adanya pengembangan. Namun, saya akan mengembalikan pembaca sekalian kepada maksud saya kenapa harus dituliskan judul REVOLUSI dan kaitannya dengan PENCERAHAN. Revolusi yang saya maksudkan merujuk pada keadaan di Prancis dimana kekuasaan dituntut untuk dibatasi oleh masyarakatnya sendiri. Ujung dari revolusi ini tidak pernah dibayangkan dan dikehendaki oleh Raja Louis XVI dan sang Ratu Marie Antoinette, yang berakhir terpisahnya kepala mereka dari pundaknya dengan mesin Guillotine. Keji, metode yang dijalankan oleh masyarakat Prancis ini, seolah tidak ada nilai dan harga diri yang mampu dijadikan bentuk kehormatan dari kedua bangsawan ini. Namun, demikian, kekejian ini serasa tidak sebanding dengan apa yang telah rakyat Prancis alami selama masa krisis yang mereka harus tanggung. Revolusi ini menjadi titik balik bagi pemerintahan modern di berbagai belahan dunia manapun untuk hidup lebih pantas sebagai seorang manusia yang berdaulat.

Perjalanan revolusi ini kiranya memang menarik, begitupun tokoh utama yang membakar semangat masyarakat Prancis untuk melakukan titik balik “serangan” kepada para bangsawan yang dianggap tidak bijaksana dan kompeten ini. Voltaire menjadi rujukan saya dalam esai ini, Francois Marie-Arouet (1694-1778) ini menuliskan sajak-sajak heroik dan juga pementasan teater bahkan puluhan ribu halaman tentang satire, cerita-cerita yang dibukukan menjadi ciri utama filsuf ini. Dia menentang berikut menantang otoritas Gereja untuk tidak ikut campur urusan masyaraktat

Prancis yang dianggap hanya memperkaya bentuk penyalahgunaan agama di tengah masyarakat Prancis. Berikut dia “menghajar” kelompok bangsawan dengan satire-satire yang tak sedikit kesempatan menempatkannya di penjara Bastille bahkan pada satu kesempatan mengharuskan dia hijrah ke tanah Britania.

Apa yang bisa saya katakan merujuk pada martir dan juga pembakar semangat revolusi ini? Bahwa dia memiliki peran dan semangat yang sama dengan pelajar yang mendapatkan perlakukan tak menyenangkan oleh penguasa yang memimpin rumah akademik kebanggaan kita. Satire dan sajak puitis memiliki kedudukan yang sama bagi saya, sebagai bentuk keindahan berpikir yang hanya dimiliki oleh segelintir orang untuk mengekspresikannya. Dan hanya orang- orang terpilih yang berkesempatan untuk membacakan “semangat” dari buah pikirnya ini untuk dinikmati kolega-kolega terpelajar lainnya. Jadi saya rasa, bentuk larangan atas sajak-sajak ini merupakan bentuk pengekangan yang keji, kesusastraan telah menjadi roh masyarakat terdidik untuk menikmati keindahan alam dan fenomena yang dialami oleh panca-indera mereka. Pelarangan ini, sekalipun masuk akal adalah bentuk pengkhiatanan atas nama kebebasan akademik dan juga alam raya pendidikan yang dihuni oleh kaum-kaum terdidik.

Saya telah menguraikan makna revolusi yang menjadi sentral dalam esai ini. Kemudian saya akan merujuk pada makna pencerahan yang saya maksudkan juga dalam penulisan ini. Pencerahan merupakan satu ajaran terkenal di eropa yang menurut Bertrand Russel (1872-1970) ditandai dengan runtuhnya otoritas Gereja dan menguatnya otoritas Sains. Kekuatan politik secara perlahan mulai mempergantikan kekuatan Gereja dalam mengatur kekuasaan di ekosistem masyarakat kita. Era pencerahan ini dikenal juga dengan era Renaissance. Radikalisme pikiran mulai berkembang di tengah iklim yang demikian, karena Batasan atas ilmu pengetahuan mulai tidak jelas atau obscure, namun demikian menurut Ian Shapiro dalam buku yang sama yang saya singgung di atas melahirkan gagasan-gagasan yang tidak pernah dilihat umat manusia sebelumnya. Output atau hasil atas lepasnya otoritas Gereja ini menghasilkan ragam pemikiran yang bisa dinikmati secara luas bahkan ratusan tahun berikutnya, dan bahkan menghasilkan pemikiran yang jamak, dalam artian tidak terikat pada satu sumber yakni otoritas keagamaan. Namun demikian, alam raya era pencerahan ini tidak serta merta berjalan mulus. Sebagaimana kekuasaan telah mengalami transformasi dari Gereja menuju mahkota, para intelektual atau kaum terpelajar pada era ini ditantang untuk menghadapi krisis kebebasan yang kedua. David Hume (1711-1776) menuliskan 50 esai yang dimuat dalam “Essays: Moral, Political and Literary” (1758) yang salah satunya menguraikan tentang bentuk kekuasaan yang memang memiliki kesenjangan dan diwajarkan atas perkara itu. Esai ini berjudul “Tentang Kebebasan Pers” yang memberikan perbandingan antara kekuasaan di Inggris yang menjadi kampung halamannya dan juga kekuasaan yang berlangsung di Prancis yang kesenjangan ini tebal, dan tidak melahirkan kecemburuan Raja terhadap rakyatnya meskipun rakyat hanya puas dengan diperbolehkannya kritik, serta memperbandingkan dengan kekuasaan yang berlangsung di Belanda yang mana rakyat tidak memiliki kecemburuan besar terhadap kekuasaan, karena berbentuk kekuasaan republic yang menurut saya disanjung oleh Hume. Kecemburuan itu harus dijaga menurut Hume, entah karena merupakan manifestasi dari Hukum alam, saya sendiri tidak memahaminya, namun saya meyakini bahwa Hume menginginkan bahwa kecemburuan itu tidak boleh meledak, sebagaimana yang terjadi Prancis dan mungkin terjadi di ruang akademik yang kita huni saat ini.

Mengakhiri esai tersebut, Hume memberikan 3 paragraf yang kiranya harus saya bagikan dan muat dalam esai ini:

“Prinsip-prinsip yang telah saya uraikan ini menjelaskan kebebasan besar pers di kerajaan-kerajaan ini, melampaui apa yang dimiliki pemerintah lain manapun. Dipahami, bahwa kekuasaan sewenang-wenang akan menyelinap masuk pada kita, kalau kita tidak hati-hati untuk mencegah kemajuannya, dan kalau tidak ada metode mudah untuk menyampaikan peringatan bahaya dari satu ujung kerajaan ke ujung kerajaan lainnya. Semangat rakyat harus sering dibangkitkan, untuk mengekang ambisi istana; dan ketakutan terhadap bangkitnya semangat ini harus digunakan untuk mencegah ambisi itu.”

“Tidak ada yang begitu efektif untuk tujuan ini selain kebebasan pers, yang dengannya semua pengetahuan, kecerdasan, dan kejeniusan bangsa dapat digunakan pada sisi kebebasan, dan setiap orang akan bersemangat untuk mempertahankannya. Karena itu, selama bagian dari pemerintahan republic kita dapat mempertahankan dirinya melawan monarki, ia akan secara alami berhati-hati menjaga pers tetap terbuka, karena penting bagi kelestariannya sendiri.”

Paragraf ketiga menunjukkan tentang Batasan pers yang saya kira masuk akal agar iklim yang kondusif baik dari kekuasaan dan rakyat tetap terjamin, serta menghndari api provokatif, ia berbunyi:

“Namun harus diakui, bahwa kebebasan pers yang tidak terbatas, meskipun sulit, mungkin tidak mungkin, untuk mengusulkan perbaikan yang cocok itu, adalah salah satu kejahatan, yang mengiringi bentuk pemerintahan campuran.”

Diyakini oleh Hume, bahwa kebebasan akan sangat mungkin dimaknai tanpa tepian dan tanpa kontrol, oleh karenanya akhiran esai tersebut berbunyi demikian. Ambigu bagi saya, jika memaknai kata bebas dan juga kontrol untuk dimuat dalam satu kalimat atau pengertian yang sama. Namun saya juga meyakini bahwa kebebasan adalah tuntutan dan kehendak mutlak ketika rantai yang mengekang -bukan hanya tanagn dan mata kaki, namun juga alam pikiran kita merupakan dorongan agar kata bebas menjadi halal bahkan wajib diperjuangkan.

David Hume dan Marie-Arouet lahir dan alam pikirannya tumbuh pada masa pencerahan, sebuah jaman yang mengatakan bahwa kebebasan ilmu pengetahuan adalah mutlak dan tidak boleh bagi kekuasaan untuk turut campur atau cawe-cawe didalamnya secara terang-benderang. Saya ingin tegas mengatakan begitupun merangkum apa yang telah saya uraikan, bahwa kolega akademik kita yang membacakan sajak puitis ini haruslah diposisikan sebagai martir sebagaimana Marie-Arouet hidup dengan kesusastraannya mengkritik otoritas Prancis. Kemudian, saya mengajak para kelompok terpelajar lainnya mengontrol sebagaimana telah dikatakan Hume dalam esainya tersebut. Maru bangun kecenderungan untuk memangkas ambisi ini untuk tidak dengan kejam menyala seperti apa yang membakar kebebasan dan rasa nyaman kita. Saya juga mengajak, jika para pimpinan dan pendidik membaca untuk mengontrol ambisi kekuasaan yang tidak bertepian dan justru tidak bijaksana dalam merespon peristiwa apapun yang timbul

Sebagai akhir, jika saya katakan “Atas nama kebebasan akademik, saya menantang otoritas kekuasaan dalam sebuah dialog untuk memangkas otoritarianisme ini” akan dimaknai sebagai sebuah arogansi dan hanya akan memuaskan ego saya dan juga beberapa kolega yang ingin menghantam keteraturan yang telah kita bangun kita kehendaki. Maka saya lebih suka mengatakan “atas nama kebebasan akademikm saya mengharapkan tiap-tiap saudara pelajar yang menghuni rumah akademik kita berikut para pengajar untuk senantiasa mengontrol kekuasaan sebagaimana pesan David Hume dalam esainya” saya berupaya menghindari konflik apapun itu, termasuk perdebatan yang saya kira tidak akan menjawab persoalan ini dengan bijaksana.

Saya tidak mengharapkan suatu revolusi dengan kekerasan timbul sebagaimana digelorakan dan dikobarkan di masa pra-revolusi Prancis, namun saya menghendaki adanya revolusi dalam kontekd pendidikan di mana kebebasan pendidikan sebagaimana saya uraikan di era Pencerahan diuji dan ditantang di era modern dan di hadapan kaki-kaki kita saat ini. Saya

meyakini tiap-tiap pembaca yang Budiman adalah kelompok terpelajar yang mengutamakan pengtengkaran dialektis ketimbang pertengkaran barbar dan ancaman-ancaman picisan yang hanya memperpanjang pengekangan.

Saya membaca adanya informasi bahwa segala polemik yang terjadi di rumah akademik kita telah dijadikan perhatian oleh penguasan daerah, yang menjadi salah satu pemegang kekuasaan di rumah akademik kita. Dalam artian, penguasa ini memiliki kontribusi dan pengaruh yang signifikan dalam menentukan arah rumah akademik kita. Jikapun berakhir adanya pemangkasan maupun bentuk dialog terbuka dan selesai dengan pembelajaran, maka biarlah salah satunya berperan dalam membentuk sikap saya dan para pembaca berikutnya.

Muncul harapan adanya kebijaksanaan yang jauh lebih diutamakan dalam menyikapi berbagai persoalan kedepannya. Baik itu kebijaksaan kelompok pelajar, begitu juga pengajar dan terutama para pemegang kekuasaan akademik ini. Pun demikian, saya berharap optimisme yang telah kita bangun di tengah masyarakat harusnya kita jaga dan mempersempit ruang pesimisme yang timbul. Celaan dan hinaan telah menghiasi nama rumah akademik kita, saya mengira hal ini dapat terhindarkan, dan juga muncul harapan untuk diselesaikan pesimisme yang mengancam integritas kita saat ini.

Penulis: Indra Purbaya
Editor: Zaky Ihsan Edy Ramadhani
Kudus, 07 Juni 2023

 

banner 468x60
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90