Resolusi Jihad Santri Dalam Kontestasi Pesta Demokrasi

- Jurnalis

Minggu, 22 Oktober 2023 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harry Yulianto

Harry Yulianto

Oleh: Harry Yulianto

Akademisi STIE YPUP Makassar

SUARA UTAMA, Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober di Indonesia dimaksudkan untuk menghormati dan mengapresiasi peran kiai dan santri dalam perjuangan melawan penjajahan bangsa asing.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Resolusi Jihad Santri Dalam Kontestasi Pesta Demokrasi Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Santri memiliki peran penting dalam memperjuangkan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjaga keutuhan agama dan kedamaian di masyarakat, mempertahankan ideologi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, membangun kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat, memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan, memperluas budaya santri dan memperkenalkan nilai-nilai kesantrian, mengajak orang untuk memahami Islam secara benar dan mengatasi isu Islamophobia, serta memperkuat wawasan kebangsaan dan moderasi beragama.

Peran tersebut bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia dan memperkuat kontribusi santri dalam pengabdian kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka NKRI.

Resolusi Jihad Santri

Resolusi jihad yang diinisiasi oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari memiliki makna dalam memperjuangkan dan menjaga keutuhan NKRI. Resolusi jihad sebagai keputusan penting yang diambil oleh para ulama dan kiai pada tanggal 22 Oktober 1945 sebagai jawaban atas pertanyaan Bung Karno kepada K.H. Hasyim Asy’ari melalui utusannya, apa hukumnya membela negara? Bukan Islam. Jawaban K.H. Hasyim Asy’ari adalah wajib hukumnya membela negara dari penjajah.

Resolusi jihad memiliki makna yang penting secara epistemologi bagi santri dalam memperjuangkan NKRI, yakni membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain (wajib) bagi setiap individu. Resolusi jihad menunjukkan bahwa korelasi antara Islam dan nasionalisme bukanlah suatu hal yang kontradiktif, namun justru tidak bisa dipisahkan dan dapat bersinergi dalam menjaga keutuhan NKRI.

Pandangan mengenai jihad fi sabilillah (perjuangan di jalan Allah) sebagai perjuangan yang suci, sehingga memperkuat pandangan santri bahwa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan NKRI merupakan perjuangan yang suci. Resolusi jihad telah mampu menginspirasi para pejuang dan santri pada masa itu yang secara heroik mampu mengobarkan spirit perjuangan arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945. Resolusi Jihad menjadi salah satu bukti nyata dukungan para santri bagi kemerdekaan NKRI.

Karakteristik Profetik Santri Dalam Berdemokrasi

Tahun 2023-2024 yang merupakan tahun politik, dimana peran santri semakin penting dalam membangun kesadaran politik dan memperkuat partisipasi politik masyarakat.

BACA JUGA :  PRP Menyerukan Bulan Mei Berlawan, Menolak Tunduk!

Santri memiliki karakteristik profetik yang berbasiskan pada ajaran agama Islam, dan dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam berpolitik. Karakteristik profetik santri (seperti: jujur dan amanah, keadilan, kesejahteraan, kesederhanaan, keteladanan, kepemimpinan) dimaksudkan untuk memperkuat peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karakteristik profetik santri pada pesta demokrasi dapat diterapkan dengan cara: memperkuat partisipasi politik masyarakat, memperkuat kepemimpinan yang baik di pemerintahan, serta memperkuat nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

Santri memiliki karateristik profetik yang tinggi (seperti: keadilan, kesejahteraan, kesederhanaan, keteladanan, kepemimpinan) yang ditunjukkan melalui partisipasi politik serta memperkuat peran santri melalui kepemimpinan yang baik di pemerintahan. Hal tersebut dapat memperkuat iklim demokrasi yang sehat dan memperkuat peran santri didalam pemerintahan.

Peran Santri Dalam Kontestasi Politik

Setelah kemerdekaan Indonesia, peran santri dalam pemerintahan tetap sangat penting. Jihad santri dalam kontestasi politik dapat dimaknai bahwa santri berperan dalam membangun kesadaran politik masyarakat pada pesta demokrasi serta memperkuat ideologi NKRI.

Jihad santri dapat  berupa kontribusi nyata membangun kepemimpinan yang baik didalam pemerintahan. Hal tersebut yang ditunjukkan melalui peran resolutif santri dalam upaya memperkuat kepemimpinan yang berbasis pada nilai-nilai agama dan kemanusiaan untuk memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Santri dapat berperan untuk mendesiminasikan serta mengimplementasikan politik rahmatan lil alamin yang mengandung nilai-nilai moral dan etika Islam (seperti: kerendahan hati, keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan rakyat) yang sesuai dengan karakteristik profetik santri. Politik rahmatan lil alamin membawa rahmat bagi seluruh umat manusia serta memperkuat peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, politik rahmatan lil alamin sebagai politik yang inklusif, membawa perdamaian, serta mencegah polarisasi di masyarakat pada pesta demokrasi.

Peringatan hari santri sebagai bentuk resolusi jihad santri untuk selalu berkomitmen mempertahankan persatuan Indonesia yang selaras dengan tema Hari Santri Nasional 2023 yakni “Jihad Santri Jayakan Negeri”. Dan, jangan pernah sekali-kali menghilangkan jasa para ulama (JAS HIJAU) dalam perjalanan historis perjuangan bangsa Indonesia.

Berita Terkait

Pendidikan Profesi Guru dalam Jebakan Kurikulum Pendidikan Indonesia
Perjuangan Pendamping Proses Produk Halal (P3H): Tantangan dan Kontribusi dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia
13 Tahun “Mangkrak” Jadi Temuan BPK, GOR Asahan Sudah habiskan Rp.16,2 Milyar
Isu Korupsi Persatuan Wartawan Indonesia, Pimpinan Media SUARA UTAMA Andre Hariyanto buka Suara ke Dewan Pers
Sertifikasi Halal Self Declare Program Sehati BPJPH : Tantangan dan Upaya Pemerintah dalam Mendukung UMKM di Indonesia
Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?
UU Penyiaran Mempermudah Sebagian Masyarakat
Kunjungi Car Free Day, Samu dan Domu Bahagiakan Sesama
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 08:07 WIB

Pendidikan Profesi Guru dalam Jebakan Kurikulum Pendidikan Indonesia

Rabu, 12 Juni 2024 - 06:58 WIB

Perjuangan Pendamping Proses Produk Halal (P3H): Tantangan dan Kontribusi dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia

Selasa, 11 Juni 2024 - 15:16 WIB

13 Tahun “Mangkrak” Jadi Temuan BPK, GOR Asahan Sudah habiskan Rp.16,2 Milyar

Selasa, 11 Juni 2024 - 10:59 WIB

Isu Korupsi Persatuan Wartawan Indonesia, Pimpinan Media SUARA UTAMA Andre Hariyanto buka Suara ke Dewan Pers

Selasa, 11 Juni 2024 - 08:50 WIB

Sertifikasi Halal Self Declare Program Sehati BPJPH : Tantangan dan Upaya Pemerintah dalam Mendukung UMKM di Indonesia

Senin, 10 Juni 2024 - 21:50 WIB

Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?

Senin, 10 Juni 2024 - 16:47 WIB

UU Penyiaran Mempermudah Sebagian Masyarakat

Senin, 10 Juni 2024 - 16:30 WIB

Kunjungi Car Free Day, Samu dan Domu Bahagiakan Sesama

Berita Terbaru

Berita Utama

Antusias Pengunjung Hotel Grand Verona Naik Jelang Iduladha

Rabu, 12 Jun 2024 - 07:29 WIB