banner 728x250

Petunjuk Produksi dalam Islam

Faktor Produksi Petunjuk Produksi dalam Islam Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama
banner 120x600
624 Kali Dibaca

Oleh: Syarif Hidayatullah, S.E
Mahasiswa Pasca Sarjana Ekonomi Syariah IAIN Bukittinggi

SUARA UTAMA, BUKITTINGGI – Manusia dalam menjalani kehidupannya, pasti akan melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu usaha tersebut dinamakan dengan kegiatan produksi. Dr. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min ‘anashir al-intaj dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan pengabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).

BACA JUGA : Belasan Paralegal Produksi Alwas Institute Medan Siap Bekerja

Menurut pusat pengkajian dan pengembangan ekonomi Islam, produksi adalah pemenuhan akan kebutuhan barang dan jasa yang bisa memberikan maslahah atau kebaikan dunia dan akhirat bagi masyarakat atau konsumen.

Dari beberapa defenisi diatas dapat kita simpulkan bahwa yang dikatakan produksi adalah suatu aktivitas ekonomi yang melakukan kegiatan pengadaan, pengolahan,atau penambahan nilai guna dari suatu barang atau jasa sebelum bisa didistribusikan dan dikonsumsi oleh konsumen demi untuk menunjang kebutuhan hidup dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Selanjutnya tujuan dari produksi dalam perspektif ekonomi islam adalah Pertama, Pemenuhan kebutuhan manusia pada tingkat moderat. Kedua, Menemukan kebutuhan masyarakat dan pemenuhannya. Ketiga, Menyiapkan persediaan barang dan jasa di masa depan. Terakhir, Pemenuhan sarana bagi kegaitan sosial dan ibadah kepada Allah Swt.

Dalam membahas produksi, tentu kita juga akan berbicara mengenai faktor- faktor produksi. Ekonomi Islam memandang bahwa faktor-faktor produksi itu terdiri dari:

Pertama, Sumber daya alam, Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Qs.Albaqarah ayat 29 bahwasannya Allah Swt telah menciptakan apa yang ada dilangit dan dibumi untuk manusia. Namun, walaupun Allah Swt telah menetapkan manusia sebagai khalifah diatas bumi, dan menjadikan isinya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Allah Swt tetap memberikan aturan berupa syariat islam yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, supaya manusia tidak melampui batas dalam mengelola alam yang nantinya akan berakibat buruk baik pada kehidupan dunia maupun akhirat,sebagaimana firman Allah dalam Qs. Ar-rum ayat 41.

Kedua, Tenaga kerja. Tenaga kerja berfungsi sebagai pihak yang akan bekerja untuk mengolah sumber daya yang telah disediakan oleh Allah Swt. Allah Swt melalui Rasulnya telah memberikan arahan tentang pemilihan tenaga kerja agar hasil produksi menjadi maksimal sebagai hadis nabi muhammad saw “Dari Abu Hurairah radhilayyahu’anhu mengatakan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari No. 6015). Selain dari pihak tenaga kerja yang berkompeten, seorang produsen juga harus memberikan upah atau gaji yang layak dan tepat waktu kepada para pekerja. Sebagaimana sabda nabi saw “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah).

Ketiga, Modal. Modal adalah segala kekayaan baik yang berwujud uang maupun bukan uang (gedung, mesin, perabotan dan kekayaan fisik lainnya) yang dapat digunakan dalam menghasilkan output. Pemilik modal harus berupaya memproduktifkan modalnya dan bagi yang tidak mampu menjalankan usaha, Islam menyediakan bisnis alternatif seperti Mudharabah, Musyarakah, dan lain-lain. Faktor Keempat, yaitu manajemen. Dalam kegiatan produksi hendaknya terdapat sebuah organisasi yang bertugas mengatur kegiatan dalam perusahaan. Dengan adanya organisasi, setiap kegiatan produksi memiliki penanggung jawab untuk mencapai suatu tujuan perusahaan. Diharapkan semua individu dalam sebuah organisasi melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan tugas yang diberikan.

Prinsip-prinsip Produksi Menurut Ekonomi Islam  

Pertama, Tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah adalah memakmurkan bumi dengan ilmu dan amalnya.

Kedua, Islam selalu mendorong kemajuan di bidang produksi. Menurut Yusuf Qardhawi, Islam membuka lebar penggunaan metode ilmiah yang didasarkan pada penelitian, eksperimen, dan perhitungan. Akan tetapi Islam tidak membenarkan pemenuhan terhadap hasil karya ilmu pengetahuan dalam arti melepaskan dirinya dari al-Qur’an dan Hadits.

Ketiga, Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia. Nabi pernah bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”. Namun walaupun seperti itu manusia harus tetap patuh dan tunduk terhadap aturan syari’at, agar manusia terhindar dari sikap serakah, zalim dan mubazir yang nantinya akan berakibat buruk kepada kehidupan manusia dan alam.

Keempat, Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam menyukai kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat.

Sebelumnya kita telah menjelaskan mengenai pengertian, tujuan, faktor dan prinsip produksi dalam perspektif islam. Pada bagian ini kita akan mencoba melihat bagaimana produksi menurut perspektif islam (Alquran dan Assunnah) secara lebih luas lagi. Alquran dan As-sunnah secara umum telah memberikan ajaran dan petunjuk kepada manusia dalam menjalani kehidupan didunia ini, agar selamat dan selalu mendapatkan ke ridha an dari Allah Swt. Tak terkecuali dalam melakukan produksi, ayat alquran yang menjelaskan tentang produksi diantaranya yaitu terdapat pada Qs.An-Nahl ayat 5-9, Qs. An-Nahl ayat 80-81 dan Qs. Hud ayat 37.

Nabi Muhammad Saw, juga sangat menegaskan bahwa pentingnya dalam melakukan produksi sebagaimana hadis beliau dalam Shahih Muslim Kitab Al-Buyu’ Bab Kira’a Al-Ardhi No. 1544 “Telah menceritakan kepada kami [Husain bin Ali Al Hulwani] telah menceritakan kepada kami [Abu Taubah] telah menceritakan kepada kami [Mu’awiyah] dari [Yahya bin Abi Katsair] dari [Abu Salamah bin Abdurrahman] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memiliki sebidang tanah, hendaklah ia menanaminya, atau memberikannya kepada saudaranya (supaya menanaminya), Namun jika ia tidak mau, hendaklah ia menjaganya” . Nabi Muhammad Saw juga memuji seseorang yang mampu melakukan kegiatan produksi sebagai mana hadis beliau Dari Miqdam r.a., dari Nabi SAW ia bersabda: “Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik daripada mengonsumsi makanan hasil kerja (produksi)-nya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud a.s., mengonsumsi dari hasil kerjanya sendiri.” (HR. al-Bukhari).

Selain itu ketika kita mampu melakukan produksi maka kita akan bisa terhindar dari sifat meminta-minta yang tidak dianjurkan oleh agama islam. Dari Hamzah ibn ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa ia mendengar ayahnya berkata. Rasulullah SAW bersabda, tidaklah seseorang meminta-minta kepada orang lain hingga datang hari kiamat dan di wajahnya tidak terdapat sedikit daging pun.” (HR Muslim). Semoga bermanfaat…

wassalam

banner 468x60
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90