Penamaan Manusia Menurut Alquran Dan Sains

- Wartawan

Rabu, 10 Mei 2023 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Dokumentasi Suhardi Penamaan Manusia Dalam Alqur'an dan Sains

Foto Dokumentasi Suhardi Penamaan Manusia Dalam Alqur'an dan Sains

Penulis Oleh : Putri Pransiska, Aisyah Dian, Suhardi

Pendidikan Agama Islam FITK IAIDU Asahan

SUARA UTAMA, Karena adanya dimensi spiritual, manusia juga disebut sebagai makhluk spiritual, yaitu. makhluk yang tidak hanya terbuat dari materi, tetapi makhluk dengan pikiran, perasaan, dan nafsu. Menurut Sahl at-Tustar, sebagai ucapan terima kasih Amin dalam (Habib Thoha 1996:142) bahwa menurut pendapat sufi, komposisi manusia yang paling sempurna terdiri dari tiga unsur, yaitu: Pikiran, jiwa dan tubuh. Masing-masing elemen ini memiliki kualitas yang abadi. Sifat akal adalah kemampuan kognitif, sifat jiwa adalah kesenangan, dan sifat tubuh adalah sensasi. Dalam diri manusia terjadi tarik menarik antara unsur yang mengajak ke arah positif, yaitu ruh yang mempunyai sikap rasional dan unsur lain berupa nafsu (jiwa rendah) yang cenderung ke hal-hal yang bersifat negatif. Posisi manusia akan ditentukan oleh unsur mana yang menang dalam percaturan setiap harinya. Jika sifat ruhnya yang menang, maka mereka lebih menyerupai malaikat, namun apabila yang dominan itu nafsunya, maka akan lebih menyerupai sifat binatang. (Hidayat Kamaruddin,1996:12-13).

Tuhan menciptakan manusia dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur non jasmani rohani. Unsur jasmani terbuat dari materi yaitu tanah sedangkan unsur ruhani adalah ruh yang dihembuskan oleh Allah SWT.  Dalam Surat al-Hijr (QS. 15: 28-29) disebutkan:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٢٨﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٢٩

Artinya:”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan- Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud?”.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Penamaan Manusia Menurut Alquran Dan Sains Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama
Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama

Pengertian Konsep Al-Nas,al-Bashar,dan Bani Adam

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut dengan istilah al-insan, al-basyar, an-naas dan anak Adam. Insan jamak dari al-nas berasal dari kata anasa, yang berarti “melihat”, “mengetahui”, dan “meminta izin”. Pengertian ini jelas menunjukkan adanya potensi pendidikan pada manusia, artinya manusia adalah makhluk yang dapat diajar atau dilatih. (Abuddin Nata, 1997:29).

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Ada begitu banyak nama untuk orang. Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan sosial (Muhammad Kosim, 2012:55). Ilmu yang mempelajari tentang pendidikan. (Sudiyono, 2009:1).

Di dalam Al-Qur’an, manusia disebut dengan beberapa istilah yang semuanya merujuk pada arti yang sama yaitu mengidentifikasi seseorang, tetapi arti dari istilah-istilah tersebut berbeda-beda. Kondisi tersebut meliputi: al-Insan, al-Basyar, an-Nas. Dari perspektif linguistik, istilah-istilah ini menggambarkan seseorang dalam hal tugas dan tanggung jawabnya. (Triyo Supriyanto, 2009:49).

BACA : Bangun Peradaban Literasi, Suara Utama Berkomitmen Lawan Hoax dengan SDM Jurnalis Siap Juang

Al-Insan

Al-insan Secara etimologis, al-insan terbentuk dari kata dasar kita yang berarti bahagia, rukun, atau dari kata yang berarti kelupaan. Ada juga pendapat yang kembali ke kata naus yang berarti gerak atau dinamika. (M.Quraish Shihab, 2000 19-20).

Hampir sama dengan pengertian nisy tersebut adalah uraian Ibnu Zakaria bahwa semua kata yang tersusun dari huruf alif, nun dan sin memiliki arti aslinya jinak, rukun dan terlihat jelas. (Abu Al-Husain Ahmad Ibnu Faris Ibnu Zakariyah, 2009:93).

Jalaluddin Rakhmat mengklasifikasikan penggunaan al-insan, manusia dikaitkan dengan keistimewaan seperti khalifah dan pembawa iman, kedua, manusia dikaitkan dengan kecenderungan negatif manusia, dan ketiga, manusia dikaitkan dengan proses penciptaan manusia. Keistimewaan Al-insan adalah ilmu, ia memiliki kemampuan akal. Orang seperti itu disebut Ulul Albab, yang memungkinkan orang untuk korespondensi.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dipercaya Tuhan untuk menunaikan amanat, beban dan tanggung jawab sebagai makhluk yang amanah dan berwenang menguasai bumi. Menurut Fazlurrahman, amanat mengacu pada tugas kreatif manusia untuk menemukan hukum-hukum alam, menguasainya (mengenal nama-nama segala sesuatu dalam bahasa al-Qur’an), dan kemudian menggunakannya dengan inisiatif moral untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. tatanan dunia  . Secara metaforis perjanjian itu digambarkan dalam al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢

 Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al-A’raf ayat: 172).

Halal Bihalal Virtual Redaksi Suara Utama (RSU)

Halal Bihalal Virtual Redaksi Suara Utama (RSU)

Al-Basyar

Al-Basyar Secara bahasa (lughowy), al-Basyar berarti struktur tubuh manusia. Makna ini berasal dari beberapa uraian tentang makna al-basyar. Diantaranya adalah uraian Ibnu Manzuri dalam Al-‘Arabi, yang menjelaskan bahwa kata al-basyar digunakan untuk merujuk pada laki-laki dan perempuan, atau satu atau lebih. Kata al-basyar adalah bentuk jamak dari al-basyarah, artinya pertemuan antara kulit kepala, wajah dan tubuh tempat tumbuhnya rambut atau bulu. (Ibn Manzur, 1968:124-126). Sejalan dengan itu, Al-Raqib al-Asfahaniy menjelaskan bahwa orang disebut Albasyar karena kulitnya terlihat jelas. (Al-Raqib:44).

Abu al-Husain Ahmad Ibnu Faris  menjelaskan bahwa semua kata yang inisialnya terdiri dari huruf ba, syin dan ra berarti sesuatu yang tampak jelas dan biasanya indah dan indah. (Abu al-Husain Ahmad:135).

Al-basyar merujuk pada manusia sebagai makhluk biologis, misalnya, dalam kasus Maryam melahirkan:

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿٤٧

Artinya : Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun. “Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia. (Q.S. Ali Imran: 47).

Secara singkat, konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan, minum, berhubungan seksual, berjalan . Dari segi inilah tidak dapat ditafsirkan “basyarun mitslukum” sebagai manusia biasa dalam hal berbuat dosa. Kecenderungan para rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis, tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). (Jalaluddin Rakhmat,2006:126). Dalam al-Quran, manusia (basyar) merupakan salah satu subjek utama yang dibicarakan, terutama yang menyangkut asal-usul dengan konsep penciptaannya, kedudukan dalam masyarakat serta tujuan hidupnya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena al-Quran memang diyakini oleh kaum muslimin sebagai firman Allah yang ditujukan kepada dan untuk manusia.(Munzir Hitami,2009 :31).

BACA : Halal Bi Halal Virtual Redaksi Suara Utama 1444 H

An-Nas

An-Nas dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 240 kali dan tersebar melalui surat 53. Kata al-Nas menunjukkan keberadaan manusia sebagai makhluk sosial secara utuh, terlepas dari kepercayaan dan ketidakpercayaannya. Adapun makna manusia, kata al-Nas lebih umum dari kata al-Insan. (Nizar:12).

Penjelasan konsep ini dapat disajikan dengan berbagai cara. Banyak ayat yang menunjuk pada kelompok sosial yang memiliki karakteristiknya masing-masing, yang belum tentu sama dengan yang lain. Ayat-ayat ini biasanya menggunakan ungkapan wa min al nas (dan di antara orang-orang). (Nizar:13).

Allah menunjukkan bahwa ada golongan orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak beriman (Q.S. Al-Baqarah:8) yang mempersekutukan selain Allah (Q.S Al-Baqarah:165) yang hanya memikirkan kehidupan dunia (Q.S Al-Baqarah:200), yang membuat orang terpesona membicarakan kehidupan dunia, padahal mereka memusuhi kebenaran (Q.S Al-Baqarah:204) yang berdebat dengan Allah tanpa mengetahuinya (Q.S Al-Ha.jj:3) Petunjuk dan Kitab Allah (Q.S Lukman:20) yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (Q.S Al-Hajj:11), (Q.S Al-Ankabut:10). (Terima kasih:8). Pengelompokan manusia didasarkan pada mayoritas, yang biasanya menggunakan frase al-nas (mayoritas orang). Jika kita perhatikan ungkapan ini, kita dapati bahwa sebagian besar (mayoritas) manusia memiliki kualitas yang rendah baik dalam ilmu maupun akidah. Hal ini terlihat dari pernyataan Al-Qur’an bahwa kebanyakan manusia adalah jahil (Q.S. Al-A’raf:187) sosial. (Omar Mohammad al-Tomy al-Syaibany, 2011:128) Seperti halnya ada hukum biologis manusia, ada juga hukum yang mengatur manusia sebagai makhluk psikologis dan sosial. Kata Al-Nas juga digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyatakan keberadaan sekelompok orang atau masyarakat yang memiliki berbagai aktivitas untuk mengembangkan kehidupannya. Berbagai kegiatan ini termasuk mis.bergerak di bidang peternakan (Q.S Al-Qashash:23) Kemampuan mengendalikan Besi/Logam (Q.S Ath-Thur:25) kemampuannya untuk memberikan pembebasan dan membawa perubahan sosial (Q.S Al-Baqarah:164) kemampuan memimpin (Q.S Al-Baqarah:124) Ketaatan dalam ibadah (QS Al-Baqarah:21). (Abuddin Nata, 2001; 13). Dari informasi tersebut tampak bahwa agama memang memberikan penjelasan tentang kehidupan manusia secara utuh dan menyeluruh, tanpa melupakan unsur apapun. Agama menunjukkan bahwa kehidupan manusia ditakdirkan untuk mengembangkan tiga potensi yang dimilikinya, yaitu potensi jasmani-biologisnya, potensi intelektual dan spiritualnya, dan potensi sosiologisnya.

Kebutuhan manusia akan agama adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial memiliki berbagai kebutuhan hidup, baik fisik maupun non fisik. Situasi ini mau tidak mau membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Dalam int  eraksi ganda tersebut, terkadang terjadi persaingan tidak sehat yang bahkan saling menjungkirbalikkan dan berujung pada keadaan kacau balau. Standar-standar ini harus berasal dari agama.

BACA : MM RSU Resmi Dibentuk, Ilham Akbar Pimpin Mudzakarah Jurnalis Anti Hoax di Suara Utama

Penciptaan Manusia Menurut Islam

Pada penciptaan manusia, ada orientalitas yang bingung mengenai dengan sejumlah rumusan yang berbeda-beda menyangkut penciptaan manusia didalam Al-Qur’an. Ada ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, tembikar, saripati tanah, saripati air yang hina, air yang tertumpah dan mani yang terpancar.(Akmal Ridho Gunawan Hasibuan, 2018:42).Bila diamati lebih dalam dapat disimpulkan bahwa manusia berasal dari dua jenis yaitu dari benda padat dan benda cair. Benda padat berbentuk tanah (turab), tanah yang sudah mengandung air (thin), tanah liat (hama’), dan tembikar (shalshal). Benda cair berbentuk air mani. Penciptaan manusia dari tanah Surat Ali Imran: 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثِمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿٥٩

Artinya : “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) ‘Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu”.

Pada ayat tersebut, Allah SWT menyatakan kepada nabi Muhammad Saw bahwa penciptaan nabi Isa a.s. sama dengan penciptaan nabi Adam a.s yaitu sama- sama dari tanah. Penciptaan nabi Isa a.s memang dari unsur sel telur yang berasal dari ibunya. Tetapi perlu diingat bahwa sel telur itu berasal dari darah, sedangkan darah dari makanan, dan makanan tumbuh dari tanah. Maka, nabi isa a.s juga berasal dari tanah. Surat al-Kahfi: 37

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً ﴿٣٧

Artinya: “Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?”.

Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad Saw untuk menceritakan kepada kaum muslimin tentang kisah seorang yang sombong, pemilik pertanian yang hasilnya melimpah ruah. Orang tersebut telah ditegur oleh kawannya dan diingatkan bahwa dia diciptakan dari tanah dan pasti akan kembali kepadanya. Tetapi ia terus saja membangkang. Dia baru sadar setelah seluruh kekayaannya sirna.( Akmal Ridho Gunawan Hasibuan,2018:44)

Menurut Al-Asfahani, kata thin bermakna tanah yang sudah bercampur air atau tanah basah.( QS. al-An’am: 2)

وَلَقَدْ أَرْسَلنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ ﴿٤٢

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya”.

 قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢

Artinya (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”( al-‘Araf: 12)”

BACA JUGA :  Ini Kiat - Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ ﴿٧

Artinya : “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”(QS. as-Sajadah: 7)”

 فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَم مَّنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ ﴿١١

Artinya : “Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): ‘Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?’ Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”.(QS. . ash-Shaffat: 11).

Shalshal adalah tembikar kering yang berongga yang dibuat dari tanah. Sehingga mengeluarkan bunyi bila ditiup atau diayunkan. Benda itu menurut Al- Qur’an dibuat dari hama’ yaitu tanah liat yang sedikit berbau. Tanah itu dibentuk (Masnun) menjadi shalshal tersebut. Kata tersebut diulang tiga kali didalam Al- Qur’an.Isyarat tentang proses penciptaan manusia melalui satu tahapan ‘alaqah lebih jauh dijabarkan dalam Q.S Al-Mu’minun ayat 12-14: ( Agus Haryo Sudarmojo, 2009: 161).

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ﴿١٤

Artinya : “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik”.

BACA : YPPN Adakan Halal Bi Halal Secara Virtual 1444 H

Foto Dokumentasi Suhardi Penamaan Manusia Dalam Alquran dan Sains.

Foto Dokumentasi Suhardi, Penamaan Manusia Dalam Alqur’an dan Sains

Kata sains dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh berdasarkan pengamatan, penelitian dan percobaan, yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip dari suatu hal yang akan dipelajari dan diselidiki. Secara etimologis, kata sains berasal dari kata Arab “ilm” yang berarti “memahami”, “mengerti” atau “mengetahui”. Kata science berasal dari kata latin scientia yang artinya sama dengan kata science yaitu pengetahuan. Sains bukan hanya pengetahuan (informasi), tetapi merangkum pengetahuan yang didasarkan pada teori yang disepakati dan dapat diverifikasi secara sistematis dengan metode yang diakui dalam disiplin ilmu tertentu. (Dibuat oleh Marthana Yusa, 2016:7).

Menurut perspektif sains modern, dijelaskan bahwa proses kejadian manusia juga terjadi dalam tiga fase yaitu fase zigot yaitu sejak konsepsi hingga akhir minggu ke 2. Fase embrio yaitu akhir minggu ke 2 hingga akhir bulan ke 2 dan fase janin yaitu akhir bulan ke 2 hingga kelahiran. Sains modern mendapatkan informasi perkembangan manusia dalam rahim setelah melakukan pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. (Taufiqurrahman,2017:14). Berdasarkan perspektif sains modern, pada usia 120 hari (sekitar Minggu ke 18), janin sudah bisa mendengar. Ia pun bisa terkejut bila mendengar suara keras. Mata bayi pun berkembang, ia akan mengetahui adanya cahaya jika kita menempelkan senter yang menyala diperut. Bayi sudah bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim ibu. Sedangkan menurut teori biologi yang dikembangkan oleh Charles Robert Darwin (1800-1882) ia mengemukakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari makhluk hidup yang sangat sederhana (satu sel organisme) pada awal kehidupan di bumi yang secara perlahan-lahan melalui proses penurunan dengan modifikasi yang akhirnya berkembang menjadi berbagai spesies organisme di muka bumi sekarang ini termasuk kejadian manusia.Prinsip yang mendasar pada teori Darwin sebagai suatu hipotesis atau dugaan adalah suatu spesies berevolusi menjadi spesies baru melalui bentuk-bentuk transisi. Proses evolusi terjadi karena adanya seleksi alam dan bukti terjadinya evolusi karena adanya kesamaan fungs, anatomi dan keragaman bentuk fisik organ dan adanya keragaman tersebut terjadi masih dalam satu keturunan. Proses perubahan bentuk fisik organ dibuktikan oleh Darwin adalah penemuan fosil-fosil makhluk hidup yang ditemukan diberbagai lokasi permukaan bumi. Hipotesis praktisnya adalah manusia dan hewan masih satu keturunan karena seleksi alam terjadi perubahan bentuk fisik organ tubuh.

Darwin mendemonstrasikan evolusi kera menjadi manusia dengan cara mengumpulkan dan menyusun temuan fosil sehingga tampak bahwa bentuk organ kera berangsur-angsur berubah pada manusia.

Menurut evolusi Darwin, manusia adalah hewan atau hewan yang lebih maju. Gagasan utama Darwin dan para pengikutnya (Darwinisme) adalah bahwa ada sekelompok ras manusia yang berevolusi lebih cepat dan ada ras yang berevolusi dengan lambat. Ras yang berkembang pesat maju, sedangkan ras yang berkembang lambat tertinggal dan bahkan tampak primitif di tingkat kera.

Artikel Harun Yahya “Runtuhnya Teori Evolusi Darwin dalam 20 Pertanyaan” memaparkan berbagai penemuan atau pendapat ilmiah yang meruntuhkan teori berbasis sains dalam membangun Darwinisme menurut nilai-nilai agama hingga ke akar-akarnya. Menurutnya, tidak mungkin semua bagian penyusun sel berevolusi secara acak menjadi struktur yang kompleks dan rumit selama jutaan tahun. Oleh karena itu, struktur dan sistem sel tunggal yang begitu rumit dengan jelas menunjuk pada proses kreatif yang cerdas, yaitu Tuhan, yang menciptakan makhluk. (Rosman Yunus, 2006:20-21).

BACA : Kantor Berita SUARA UTAMA Fasilitasi Masyarakat bergabung menjadi Jurnalis Anti Hoax

Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Islam

Tuhan tidak menciptakan alam semesta ini untuk bersenang-senang, bukan tanpa tujuan. Orang-orang yang merupakan bagian dari alam semesta ini diciptakan untuk tujuan tertentu. Tuhan menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam Firman-Nya, yaitu:Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Berdasarkan ayat di atas, kedudukan manusia dalam sistem penciptaan adalah sebagai hamba Tuhan. Kedudukan ini mengacu pada hak dan kewajiban manusia sebagai pencipta Tuhan. Dalam hal ini, peran ideal manusia adalah menyembah Tuhan. Menurut Sayyid Qutb, hakekat ibadah terangkum dalam dua prinsip yang tertanam dalam ketundukan jiwa kepada Allah (al-‘ubudiyah lillah) dan kerendahan hati. Dengan kata lain, manusia selalu memahami bahwa hanya ada satu Tuhan di dunia ini yang disembah manusia. Berpusatlah pada Tuhan dalam segala aktivitas kehidupan.

Berdasarkan hakikat di atas, ibadah benar-benar masalah nilai rohani, selalu hubungan dengan tujuan atau orientasi yang terwujud dalam bentuk niat. Sebagian orang berpendapat bahwa ibadah dalam konsep Islam bukan mengisolasi diri dari aktifitas duniawi. Pendapat ini barangkali didorong oleh keinginan untuk membuat pengertian ibadah yang mencakup segala aktifitas yang tidak terbatas pada aktifitas ritual saja agar orang Islam aktif diberbagai lapangan kehidupan. Ibadah tidak hanya berupa praktek-praktek ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi menuntut ilmu, berdagang dan mencari nafkah juga ibadah. Persoalannya apakah shalat dan puasa tetap bernilai ibadah jika orang melakukannya dengan tidak berorientasi kepada Allah? Jika dalam pelaksanannya orang tidak berniat menundukkan dan merendahkan diri kepada Allah? Tanpa orientasi kepada Allah, tanpa niat hanya karena Allah, shalat hanya akan merupakan gerakan berdiri, membungkuk, duduk dan seterusnya. Demikian juga puasa, hanya akan merupakan aktifitas menahan diri dari lapar dan haus kalau perbuatan itu dilakukan tanpa niat karena Allah. Nabi Muhammad SAW menggariskan prinsip suatu aktifitas yang bernilai atau tidak dalam suatu hadits Beliau, yang artinya: Sesungguhnya nilai segala perbuatan diukur dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap perbuatan seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Hadits di atas memberi petunjuk bahwa shalat, puasa, zakat dan haji hanya merupakan sebagian saja dari sekian banyak lapangan ibadah yang tersimpul dalam kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. (Jamal Syarif Ibrani,2004 :70-71).

Menurut Islam, tujuan hidup manusia adalah seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦

Artinya : “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Adz-Dzariyat: 56). Inilah tujuan hidup manusia yang sebenarnya, menurut ketentuan Yang membuat hidup itu sendiri, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Fungsi Penciptaan Manusia Menurut Islam

Manusia memiliki misi ideal yang perlu dipenuhi, yaitu memakmurkan bumi, menjajahnya dan memelihara serta mengembangkannya untuk kepentingan hidup sendiri, bukan kehancurannya. Tempat dan peran yang dimiliki manusia di dunia pada tahap hidupnya ini harus berakhir pada saat kematian. Dia kemudian dibangkitkan atau dihidupkan kembali di akhirat. Dalam kehidupan setelah kematian ini, semua peran yang dimainkan manusia semasa hidup di dunia, sekecil apapun peran itu, akan dimintai pertanggung jawaban, kemudian dihakimi dan dipertanggung jawabkan oleh Tuhan Yang Maha Adil. Setiap peran dihargai. Gulungan yang bagus mendapat hadiah yang bagus, sedangkan gulungan yang buruk mendapat hadiah yang buruk.

Orang yang menerima pahala yang buruk merasakan kesengsaraan yang luar biasa, dan orang yang menerima pahala yang baik merasakan kebahagiaan abadi. Misi atau misi manusia dalam kehidupan ini adalah untuk memenuhi peran itu dengan sempurna dan selalu meningkatkan kesempurnaan itu hingga akhir hayat. Itu dibuat agar manusia benar-benar bisa menjadi makhluk yang paling mulia dan paling saleh.

dengan kesalehan sejati. Manusia lahir di tengah keberadaan alam semesta ini dan memikul tugas dan tanggung jawab yang berat dalam dua aktivitasnya, yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah Allah. Tugas Manusia Sebagai Hamba Allah Hamba Allah adalah manusia yang taat dan patuh terhadap perintah-perintah Allah. Hakikat melayani Tuhan adalah ketaatan, ketundukan dan ketaatan. Ketaatan, ketundukan dan ketaatan manusia hanya layak diberikan kepada Tuhan. Dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia berada dalam posisi ciptaan dan Tuhan adalah pencipta. Kedudukan ini merupakan konsekuensi dari kewajiban ketaatan dan ketaatan manusia kepada Penciptanya. Di dalam Al-Quran tertulis tentang tujuan Tuhan menciptakan manusia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Akibat menjadi hamba Tuhan, seseorang harus selalu menyembah Dia saja. Hanya Tuhan yang disembah dan hanya Tuhanlah manusia meminta pertolongan. Ibadah kepada Tuhan adalah prinsip dasar kehidupan Muslim, sehingga perilaku sehari-hari mereka selalu mencerminkan pengabdian ini di atas segalanya. (Jamal Sharif Ibrani, 2004:71-75).

Menyembah Allah semata, artinya hanya kepada Allah-lah segala pengabdian ditujukan. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala makhluk, tiada sekutu bagi-Nya baik Dia sebagai Tuhan yang disembah maupun sebagai Tuhan Pemelihara alam semesta ini. Pengingkaran manusia dalam penghambaan diri kepada Allah akan mengakibatkan dia menghamba kepada dirinya, menghamba kepada hawa nafsunya, atau menghamba kepada sesama makhluk Allah. Menyembah, memohon perlindungan atau apa saja perbuatan yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, atau mengangkat makhluk berkedudukan sebagai Tuhan disebut syirik. Orang yang berbuat syirik disebut musyrik. Perbuatan syirik adalah kezaliman terbesar di sisi Allah perbuatan atau amal shalih yang terwujud dalam fungsi manusia sebagai khalifah akan berarti di sisi Allah jika dilakukan dalam rangka pengabdian kepada-Nya. Maksudnya, seringkali ada perbuatan yang tampaknya dilakukan dalam urusan duniawi (seperti berdagang, bertani, mengajar, menuntut ilmu, membersihkan lingkungan dan urusan dunia lainnya) jika dilakukan dengan niat dan maksud ibadah kepada-Nya maka seseorang telah melakukan dua fungsi (sebagai hamba dan khalifah) sekaligus.

Pahala diperoleh di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, pekerjaan besar yang membawa banyak manfaat bagi manusia adalah sia-sia di hadapan Tuhan, kecuali jika disertai dengan niat untuk beribadah kepada-Nya. dan kualitas seseorang sebagai makhluk yang berstatus lebih tinggi. Jauh sebelum manusia diciptakan, Allah berfirman kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan seorang khalifah (wakil) di muka bumi. Manusia adalah khalifah Allah di bumi. Dia yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan bumi dengan segala isinya dan kemakmurannya sebagai amanah Allah. Sebagai penguasa bumi, manusia harus membudayakan alam semesta ini untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Tugas dan kewajiban ini adalah ujian Tuhan bagi manusia tentang siapa di antara mereka yang paling memenuhi iman. Dalam menjalankan tugas dan amanah, semua orang dianggap sama karena kekhususan dan keahlian masing-masing. Yang satu tidak memiliki keunggulan atas yang lain kecuali yang paling baik memenuhi perannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, yang lebih bermanfaat bagi umat manusia, atau dengan kata lain, yang lebih bertakwa kepada Allah SWT. (Jamal) Syarif Ibrani, 2004:76).

Berita Terkait

Chandra Foetra ; Menikahkan Anak Dibawah Umur Dengan Alasan Apapun Bukan Solusi, Ini Hukumnya!!!
Pertarungan Sengit di Pilkada Tanggamus 2024: Saleh vs. Dewi
Pilkada Serentak 2024: Mewujudkan Pemilihan yang Sehat dan Bermartabat di Kabupaten Musi Rawas Utara
Hidup tidak Layak: Masyarakat Palestina dalam Lingkungan yang Tidak Sehat, Tanpa Akses Dasar ke Kebutuhan Hidup
Dampak Psikologis Pada Minimnya Peran Ayah dan Pencegahan Fatherless
Apakah UU ITE Bisa Menjerat Kinerja Pers
Penggunaan Senjata Api dalam Acara Sipil, Antara Tradisi dan Bahaya
Ada Opini dan pertanyaan di Kecamatan Sandai Kabupaten ketapang Prov. Kalbar
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juli 2024 - 22:59 WIB

Chandra Foetra ; Menikahkan Anak Dibawah Umur Dengan Alasan Apapun Bukan Solusi, Ini Hukumnya!!!

Jumat, 19 Juli 2024 - 15:09 WIB

Pertarungan Sengit di Pilkada Tanggamus 2024: Saleh vs. Dewi

Minggu, 14 Juli 2024 - 12:35 WIB

Pilkada Serentak 2024: Mewujudkan Pemilihan yang Sehat dan Bermartabat di Kabupaten Musi Rawas Utara

Minggu, 14 Juli 2024 - 12:00 WIB

Hidup tidak Layak: Masyarakat Palestina dalam Lingkungan yang Tidak Sehat, Tanpa Akses Dasar ke Kebutuhan Hidup

Minggu, 14 Juli 2024 - 06:12 WIB

Dampak Psikologis Pada Minimnya Peran Ayah dan Pencegahan Fatherless

Selasa, 9 Juli 2024 - 20:07 WIB

Apakah UU ITE Bisa Menjerat Kinerja Pers

Senin, 8 Juli 2024 - 14:38 WIB

Penggunaan Senjata Api dalam Acara Sipil, Antara Tradisi dan Bahaya

Sabtu, 6 Juli 2024 - 21:34 WIB

Ada Opini dan pertanyaan di Kecamatan Sandai Kabupaten ketapang Prov. Kalbar

Berita Terbaru