Pembelajaran AUD Abad 21

- Jurnalis

Kamis, 30 Maret 2023 - 07:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Pembelajaran AUD Abad 21

Inovasi pembelajaran anak usia dini mode daring dan luring scaled Pembelajaran AUD Abad 21 Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

A.   Pendahuluan

Abad 21 bagi bangsa Indonesia adalah abad industri yang disangga dengan teknologi informasi yang semakin canggih. Menurut Yosie Kaga seorang wakil pembicara dari UNESCO berpendapat bahwa pada Abad 21 memiliki beberapa tantangan, yakni : 1. Lingkungan yang meliputi perubahan iklim dan menipisnya sumber daya alam; 2. Ekonomi yang meliputi kebutuhan pasar yang terganggu akibat dari inovasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 3. Social yang meliputi pertumbuhan penduduk yang meningkat akibat migrasi, urbanisasi dan sosisal budaya yang beraneka ragam. Selain itu juga kesenjangan social yang dapat menyebabkan konflik dan ketidakstabilan keadaan sehingga mengikis kepercayaan yang dapat menimbulkan ancaman dan terorisme. Kemudian, apa yang harus dipersiapkan untuk abad 21?  Menurutnya tujuh ketrampilan yang harus dimiliki untuk menghadapi bisnis di masa depan, yakni: 1. Berfikir kritis dan memecahkan masalah; 2. Kolaborasi dengan seluruh jaringan yang berpengaruh dan terkemuka; 3. Kelincahan dan kemampuan beradaptasi; 4. Inisiatif ; 5. Efektif dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis; 6. Mengakses dan menganalisis informasi; 7. Rasa ingin tahu dan imajinatif.

Mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan penduduk yang besar pula, maka hal tersebut sangatlah patut dijadikan patokan. Sedangkan mitra ketrampilan (karakteristik) dalam pembelajaran pada abad 21, yakni : 1. Kreatifitas dan inovasi; 2. Berfikir kritis dan memecahkan masalah; 3. Kemampuan berkomunikasi; 4. Kemampuan untuk berkolaborasi atau bekerjasama. 4 Ketrampilan ini harus ditanamkan pada anak usia dini karena pendidikan anak usia dini merupakan pondasi awal sebagai manusia. Pernyataan lain yang terkait dengan anak usia dini yakni bermain. Menurutnya, bermain merupakan kegiatan yang berlawanan dengan kepatuhan, bebas melakukan percobaan, menunjukkan ambisi, mengikuti rasa ingin tahu, dan mengambil resiko untuk membuat, mendesain, mengembangkan dan menghubungkan.

Sedangkan peran guru di abad 21, yakni  : 1. Seumur hidup peserta didik; 2. Fasilitator dan pendukung; 3. Mendengarkan dan reflekstif; 4. Peka dan peduli; 5. Tim kerja dan kepemimpinan; 6. Kolaborator dengan orang tua, masyarakat dan lain sector. Sedangkan salah satu kompetensi yang harus dikuasai Guru Taman Kanak-Kanak yang tertuang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 adalah menguasai karakteristik peserta didik pada aspek fisik, moral sosial, cultural, emosional, dan intelektual.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Pembelajaran AUD Abad 21 Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

B.    Definisi Bermain Dan Permainan Anak

1.     Pengertian Bermain

Bermain merupakan konsep yang tidak mudah untuk dijabarkan. Mungkin, mayoritas orang, seringkali mendengar kata-kata bermain. Bahkan mereka seringkali melakukan permainan. Namun, seringkali orang belum mampu memberikan definisi bermain. Para ahli, mendefinisikan konsep bermain berbeda-beda menurut perspektif masing-masing. Berikut ini adalah beberapa definisi bermain menurut sebagian kecil para ahli.

  1. Menurut Piaget, 1951 bermain merupakan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (Piaget, 1951).
  2. Secara lebih umum dalam term psikologi, Joan Freeman dan Utami Munandar (1996) mendefinisikan bermain sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.
  3. Bermain menurut pendapat Elizabeth Hurlock (1987:320) adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
  4. Menurut Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and Development, mengatakan bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja.

2.     Pengertian Permainan

Di sini akan membahas tentang pengertian Permainan. Permainan bagi anak merupakan suatu aktivitas yang sangat menyenangkan, menimbulkan kegembiraan serta sebagai tempat mengekspresikan apa yang anak rasakan. (Andang Ismail, 2009: 5) permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak dan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak. Artinya, dengan dan dari permainan itu anak belajar hidup. Hurlock (1978: 280) mengemukakan pengertian permainan adalah proses aktivitas fisik atau psikis yangmenyenangkan dan menggembirakan. Bagi anak bermain merupakan kegiatan khas sebagaimana pekerjaan yang merupakan aktivitas khas orang dewasa dalam kehidupan. Senada dengan pendapat diatas, Joan Freeman dan Utami Munandar (Andang Ismail, 2009: 16) mendefinisikan permainan sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional. Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa permainan merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan bagi anak yang mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Permainan bagi anak yaitu permainan yang mengandung nilai pendidikan karena melalui permainan tersebut anak belajar mengembangkan segenap aspek. Sedangkan kegiatan bermain dan permainan anak di abad 21 harus mengintegrasikan creative, critical thingking, communication dan collaboration atau  biasa disingkat 4 C.

BACA :  Papua Football Academy (PFA) Mampu Menciptakan SDM Yang Unggul Melalui PT. Freeport Indonesia Bagi Putra-Putra Papua 100%

 

C.   Teori Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini

1.     Teori Bermain

Sebagaimana paparan sebelumnya bahwa mengapa anak perlu bermain? Akan kita kupas dari pendapat para ahli.

  1. Teori bermain berdasarkan Perspektif Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara adalah Pionir Pendidikan Nasional yang berasal dari keluarga bangsawan Yogyakarta. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama RM Suwardi Suryaningrat, setelah berumur 40 tahun, beliau berganti nama dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara memandang bahwa bermain bagi anak usia dini merupakan kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur muridnya sendiri. Kekuatan kodrati yang ada pada anak, tidak lain adalah kekuatan dalam kehidupan lahir dan batin anak yang ada karena kekuasaan kodrat (karena factor pembawaan atau keturunan yang ditakdirkan secara ajali). Kodrat anak bisa baik dan bisa sebaliknya. Kodrat itulah yang akan memberikan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, kebebasan dalam bermain itu juga sangat relative karena dibatasi oleh hak-hak yang patut dimiliki oleh orang lain. kebebasan bagi anak memalui kegiatan bermain hendaknya diterapkan  pda cara berpikir anak, yaitu agar anak tidak selalu diperintah atau dicekoki dengan buah pikiran orang lain, tetapi mereka harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan ketrampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri. Pendidikan anak usia dini berfungsi menuntun anak yang berpembawaan tidak baik menjadi lebih berkualitas lagi dan mencegah segala macam pengaruh negative sehingga sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dalam kehidupannya. Tiga sikap perilaku dalam teori pendidikan Ki Hajar Dewantara, adalah kontinyu, konsentris, konvergensi.

  1. Teori Bermain berdasarkan sudut pandang John Dewey, Frobel, Maria Montesdori, Piaget, Vigostky
    • John Dewey

Dewey berpendapat bahwa sekolah merupakan model masyarakat demokratis dalam bentuk kecil, dimana anak-anak dapat mempraktikan ketrampilan yang diperlukan untuk hidup di alam demokratis. Melalui pengalaman-pengalaman itu seorang peserta didik mampu menghadapi dunia luar yang selalu berubah karena realitas itu berubah secara konstans. Secara ringkas teori-teori Dewey adalah sebgai berikut :

  • Anak harus benar-benar tertarik pada kegiatan, pengalaman atau pekerjaan yang edukatif.
  • Anak harus menemukan dan memecahkan kesukaran atau masalahnya sendiri.
  • Anak harus menentukan cara pemecahan masalah yang dihadapi sendiri.
  • Anak hrus mencoba cara terbaik untuk memecahkan sesuatu melalui penerapan dalam pengalaman, percobaan atau kehidupan sehari-hari.

Sedangkan prinsip-prinsip dasar pendidikan yang progresif menurut Dewey dirangkum sebagai berikut :

  1. Pendidikan seharusnya “kehidupan” itu sendiri bukan persiapan untuk hidup.
  2. Belajar dikaitkan secara langsung dengan minat anak.
  3. Belajar melalui pemecahan masalah harus didahulukan dari pada pengulangan mata pelajaran secara ketat.
  4. Peran guru bukan untuk menunjukkan, tetapi untuk membimbing.
  5. Sekolah harus meningkatkan upaya kerjasama, bukan bersaing.
  6. Hanya secara demokratislah sesungguhnya dapat meningkatkan peran, ide, dan personalitas anak secara bebas.
    • Froebel

Froebel adalah penecetus ide awal sekaligud pelopor tunggal berdirinya Kindergarten atau Taman-Kanak-Kanak (TK) Pertama di dunia. Beliau selalu memikirkan bagaimana cara mendidik anak-anak usia 3-7 tahun secara tepat. Froebel berprinsip Evaluasi Organis, yaitu adanya integrasi yang fingsionalantara pikiran dan suasana fisik. Artinya, salam membuat suatu produk, maka ingatan, khayalan, persepsi, kemauan, dan perasaan bekerjasama dengan saraf otak, otot tubuh, dan panca indera. Beliau percaya bahwa dalm kehidupan terdapat kekuatan dalam yang mengatur alam itu sendiri, termasuk kehidupan anak, baik kehidupan fisik maupun psikis. Semua tingkah laku atau aktivitas anak mengalami perkembangan dari yang sederhana kearah yang lebih kompleks. Beliau menyatakan suatu hukum bahwa perkembangan manusia selalu melalui tahap-tahap tertentu, yaiut masa bayi, masa kanak-kanak kecil, masa kanak-kanak besar, masa muda, dan masa dewasa  setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak harus dipandang sebagai sustu kesatuan yang utuh. Anak memiliki potensi dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina dan dikembangkan. Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah berharga karena merupakan masa emas (Golden Age) dalam kehidupannya.  Begitu pula pendapat Pentalozi bahwa anak-anak sejak lahir mempunyai kemampuann khusus masing-masing, tetapi ia menyatakan pula bahwa perkembangan, kemampuan, dan pemenuhan kebutuhan diri berasal dari dorongan hati anak tersebut melalui aktivitas yang dilakukan secara spontan.

  • Maria Montessori
BACA :  Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

Montessori  lahir di Italia tahun 1870. Ia seorang Dokter pertama  yang mencurahkan banyak perhatian pada anak-anak tunanetra di Roma dengan menggunakan metode pendidikan itard dan seguin (merupakan pendidik yang menemukan model-model pembelajaran anak dengan kebutuhan khusus). Pandangan Montessori tentang pendidikan anak tidak lepas dari pengaruh pikiran yang lain yang menekankan pola kondisi lingkungan bebas dan penuh kasih  agar potensi anak dapat berkembang optimal. Montessori memandang  anak usia prasekolah/TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri. Selain itu ada ladi pandangan Montessori yang  paling terkenal adalah bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa peka, yaitu suatu masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu obyek yang lainnya. Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara spontan meminta kepuasan. Tidak ada hukuman atau hadiah dalam system pendidikan Montessori. Menurutnya disiplin tidak datang dari luar karena takut mendapatkan hukuman atau karena mengharapkan hadiah namun disiplin  adalah suatu kesadaran yang tumbuh dari jiwa anak-anak sendiri.

  • Jean Piaget

Pada usia 23 tahun, ia mulai menetapkan rencana riset  di bidang psikologi anak., focus mempelajari perkembangan pikiran. Piaget berpendapat bahwa pikiran anak bersifat unik. Anak kecil mungkin tidak lebih bodoh dari pada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa, hanya karena anak berfikir dengan cara yang seluruhnya berbeda dengan orang dewasa. Pikiran anak-anak dalam proses praopertional sangat berbeda dengan pikiran anak. pikiran pra operational bercirikan egosentris, animism, heteromini moral, dan memandang mimpi sebagai peristiwa di luar dirinya,

 

D.   Desain Bermain Dan Permainan Anak Usia Dini

Bagaimana Desain bermain dan permainan anak usia dini di abad 21? Menurut seorang psikolog yang bernama Kara Andrea Handali bahwa generasi Alpha adalah generasi yang lahir pada era digital yaitu kisaran tahun 2010-2024. Generasi ini adalah generasi yang canggih dalam teknologi sehingga kecerdasannya pun juga tinggi. Bagi generasi ini teknologi digital bukan sesuatu yang unik lagi. Menurutnya Strategi pembelajaran yang diberikan pada generasi ini adalah kegiatan hands on yakni kegiatan yang memerlukan ketrampilan tangan sedangkan gadget cukup digunakan sebagai sarana saja. Pada generasi ini perlu sekali ditanamkan pendidikan budi pekerti agar kecerdasan yang dimilikinya nanti seimbang (tidak berat sebelah antara kecerdasan afektif, kognitif dan psikomotor). Selain itu ada rumus yang diberikannya dalam menghadapi generasi Alpha yakni BARU. B = Buka wawasan untuk menerima perubahan dengan mengenal karakteristik anak. A= Asah kemampuan dengan terus belajar media digital agar bisa mengikuti/ mengerti arus kehidupan yang dijalani generasi tersebut. R = Rancang Pembelajaran yang relevan ( sesuaikan dengan lingkungan sekitar sehingga anak bisa belajar secara konkrit dan bermakna). U = Ungkapkan apresiasi ( fokus pada usaha bukan hasil). Tidak semua kegiatan yang dilakukan oleh anak merupakan bermain dan tidak semua pengalaman yang bermakna melibatkan bermain. Oleh karena itu, Fromberg dalam Dockett dan Fleer mendefinisikan bermain pada anak sebagai kegiatan yang mencakup kombinasi dari enam elemen, yaitu: simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, sukarela, aturan main yang ditentukan sendiri dan episodik. Ciri khas simbolik dapat terlihat seperti pada saat seorang anak berpura-pura memainkan beberapa unit balok yang disusunnya berjajar sebagai kereta api.

BACA :  Dampak Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Menipisnya Hutan Hujan Tropis

Melihat dari paparan di atas, jelas disampaikan bahwa generasi anak usia dini saat ini canggih dalam berteknologi sehingga pembelajaran abad 21, penggunaan teknologi modern merupakan suatu keharusan. Dan untuk menyeimbangkan ketrampilan hidup perlu adanya skil nyata yang lain karena permasalahan hidup tidak hanya bisa diselesaikan dengan teknologi gadget, laptop dan sejenisnya namun juga ada yang harus diselesaikan dengan teknologi lain atau teknologi tradisional misalnya. Dari hal tersebut, guru sebagai fasilitator pembelajaran di abad 21 bisa menggabungkan kedua teknologi tersebut dengan cara mengintegrasikan Teknologi modern pada pembelajaran. Teknologi modern bisa dijadikan sarana untuk menggali informasi yang berkaitan dengan pengetahuan anak di luar jangkauannya. Misalkan, teknologi modern  dikemas ketika kegiatan fase mengamati, anak bisa diberikan pengetahuan dengan menyaksikan video atau media sosial yang berpaut. Setelah itu, anak diberikan kegiatan bermain yang memberikan bekal ketrampilan olah tubuhnya. Adapun permainan yang dapat diberikan kepada anak, yaitu permainan tradisional yang sudah ada dan yang mengandung karakter atau bisa juga bermain puzzle, leggo , dll. namun diberikan penjelasan dengan teknologi modern sejenis PPT atau video. Hal itu dapat merangsang daya pikirnya untuk menganalisa suatu kejadian. Jadi intinya mengurangi ceramah guru secara manual ketika mengajar namun penjelasan materi dilakukan dengan media teknologi modern. Selain itu, permainan yang diberikan harus bisa memenuhi kriteria 4C (Critical Thinking, Creative, Comunication, Colaboration) yang merupakan karakteristik pembelajaran abad 21. Adapun langkah-langkah bermain dan permainan anak abad 21 adalah sebagai berikut :

  1. Siapkan tayangan PPT atau video/link yang menjadi pokok bahasan
  2. Tayangkan PPT atau video tersebut pada kegiatan anak mengamati atau anak menggali informasi di fase kegiatan inti termasuk kegiatan apa saja yang harus dilakukan anak pada densitas-densitas.
  3. Berikan kebebasan anak untuk mengekspresikan apa yang dilihat pada tayangan atau video.
  4. Kuatkan pengetahuan anak dengan mengaitkan antara tayangan PPT atau video dengan kegiatan yang telah dilakukan anak pada kegiatan penutup.

Sedangkan pelaksanaan pembelajaran yang diatur dalam kurikulum 2013, yakni :

  1. Kegiatan Pembukaan dilakukan untuk menyiapkan anak secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : berbaris, mengucap salam, berdoa, dan bercerita atau berbagi pengalaman.
  2. Kegiatan Inti merupakan upaya kegiatan bermain yang memberikan pengalaman secara langsung kepada anak sebagai dasar pembentukan sikap, perolehan pengetahuan dan ketrampilan yang dilaksanakan dengan pendekatan saintifik meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan. Di sinilah tantangan bagi guru untuk menyuguhkan teknologi modern agar anak lebih termotivasi dan cepat menangkap materi.
  3. Kegiatan penutup merupakan kegiatan yang bersifat penenangan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andrea, kara, 2020. Strategi Mengajar Efektif Bagi Generasi Alpha. P4TK TK dan PLB Bandung

Kaga, Yoshie, 2018. 21st Century Learning dan Implikasinya bagi Guru dalam Masa Awal Anak-anak. UNESCO Kantor Pusat

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI. (2014) Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 : Jakarta

Muiz, Azizah  (2019). Cara Bermain Anak Usia Dini. Jakarta

Suparman, Eman dan Dewi Agustini  (2016). Modul Guru pembelajar Kompetensi B. PPPPTK dan PLB Bandung.

https://pustakapaud.blogspot.com/2016/08/definisi-permainan-manfaat-bermain-bagi-pembelajaran-anak.html

https://www.kumpulanpengertian.com/2015/05/pengertian-bermain-menurut-para-ahli.html

Berita Terkait

MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DENGAN KEGIATAN KOLASE MENGGUNAKAN MEDIA DAUN KERING PADA ANAK TK AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN
Pencegahan Penularan Virus Covid-19 Dengan Mengoptimalisasi Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Tk Islam Al Huda Krikilan – Masaran – Sragen
SOLUSI CERDAS DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA DENGAN PENGADAAN PERPUSTAKAAN KELILING PADA ANAK TK ISLAM AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN  
Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?
7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri
6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran
Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah
Wartawan Senior Andre Hariyanto, Komitmen dan Ketaatan adalah Klimaks Keikhlasan Teratas
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 07:41 WIB

MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DENGAN KEGIATAN KOLASE MENGGUNAKAN MEDIA DAUN KERING PADA ANAK TK AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN

Rabu, 17 April 2024 - 19:19 WIB

Pencegahan Penularan Virus Covid-19 Dengan Mengoptimalisasi Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Tk Islam Al Huda Krikilan – Masaran – Sragen

Rabu, 17 April 2024 - 19:07 WIB

SOLUSI CERDAS DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA DENGAN PENGADAAN PERPUSTAKAAN KELILING PADA ANAK TK ISLAM AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN  

Rabu, 17 April 2024 - 12:00 WIB

Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?

Senin, 15 April 2024 - 20:46 WIB

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Senin, 15 April 2024 - 06:14 WIB

6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran

Sabtu, 13 April 2024 - 15:11 WIB

Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah

Rabu, 3 April 2024 - 10:55 WIB

Wartawan Senior Andre Hariyanto, Komitmen dan Ketaatan adalah Klimaks Keikhlasan Teratas

Berita Terbaru