banner 728x250

Papua Reggae Festival (PRF), Apa Isi Pesannya?

Meninjau Papua Reggae Festival (PRF), Ini Isi Pesannya?

Foto: Yecko Gobai. Gambar Stiker Papua Reggae Festival (SUARA UTAMA ID)
Foto: Yecko Gobai. Gambar Stiker Papua Reggae Festival (SUARA UTAMA ID)
banner 120x600
362 Kali Dibaca

Oleh Jekson Gobai

SUARA UTAMAMusik reggae tumbuh karena semangat anti perbudakan yang memang sudah memuncak dikalangan warga kulit hitam Jamaika, mereka sudah mengalami masa-masa perbudakan selama berabad-abad lamanya.

BACA JUGA : Perkuat Kaderisasi dan Silaturahmi, Yayasan AR Learning Center Sukses Gelar Webinar Nasional bersama Trainer Internasional

Kebuntuan itulah yang menyebabkan mereka pada akhirnya mulai menyatukan pemikiran dan sikap dalam melawan rezim perbudakan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui jalur kesenian yaitu musik reggae.

Apalagi Bangsa-bangsa kulit hitam semakin gigih dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya, terlebih dengan propaganda Marley melalui musik reggae nya telah membuka mata dunia bahwa perbudakan adalah sebuah bentuk kekejaman kemanusiaan.

BACA JUGA : Kembangkan Dakwah Bil Qolam dan Bil Lisan, Pondok An Nahl Cianjur Sukses Gelar Sharing Jurnalistik dan Kepenulisan bersama Penulis Coach Mas Andre Hariyanto

Hingga pada akhirnya kemerdekaan atas segala bangsa benar – benar terwujud diatas muka bumi ini tanpa adanya perbedaan warna kulit.Kalau isi pesannya seperti itu, bagaimana isi pesan dari Papua Reggae Festival (PRF) ? Apakah pahami filosofi ini? Adakah lirik lagu dan pesan-pesan pelanggaran Ham, diskriminasi rasial seperti yang dilakukan Bob Marley dijamaica?

Poster Desain: Sekar Wangi. Gratis dan terbuka untuk umum. Sharing Santai Seputar Jurnalistik dan Kepenulisan (SEJUK) bersama Mas Andre Hariyanto. Suara Utama ID
Poster Desain: Sekar Wangi. Gratis dan terbuka untuk umum. Sharing Santai Seputar Jurnalistik dan Kepenulisan (SEJUK) bersama Mas Andre Hariyanto. Suara Utama ID

Kalau tidak berarti, Kalian tidak pahami bahwa Filosofi Reggae adalah perjuangan melawan ketidakadilan, rasisme, pelanggaran HAM, di Jamaika 1960an.

Mereka merasakan pedihnya dinilai berdasarkan warna kulit, dihina, dikucilkan, dianggap tidak lebih dari seorang budak. Diperlakukan tidak adil dan tidak memiliki hak asasi. Dibunuh, disiksa, tanpa mampu membela diri.

Gambar: Poster Desain Webinar Nasional dan Sharing Santai. ALC BERDIKARI (BERjiwa, DInamis, KArakter, dan mandiRI). Yayasan Pusat Pembelajaran Nusantara dan Lembaga AR Learning Center. Mas Andre Hariyanto. Suara Utama ID.
Gambar: Poster Desain Webinar Nasional dan Sharing Santai. ALC BERDIKARI (BERjiwa, DInamis, KArakter, dan mandiRI). Yayasan Pusat Pembelajaran Nusantara dan Lembaga AR Learning Center. Mas Andre Hariyanto. Suara Utama ID.

Jadi cobalah ciptakan ruang-ruang sosial dimana rakyat dapat ekspresikan nilai estetikanya dalam perjuangan melawan penindasan. Agar tercipta budaya solidaritas, kemanusiaan, persatuan, perlawanan sehingga membangun eksistensinya dalam penjajahan. Itulah yang dilakukan King of Reggae, Bob Marley dari Jamaika.

Jangan tunduk, dan tempel-tempel pada penguasa penjajah untuk bisa bahagia. Pendengar, pencinta, pemain dan penyanyi reggae mesti pahami hal ini.

Anak generasi papua pemain dan penyanyi seharusnya mengembangkan potensi dirinya berlandaskan karakter moral kemanusiaan dan pembebasan. Hargai situs-situs sejarah penderitaan bangsamu.

Kasihilah sesama yang berduka dan menderita. Hentikan nada dan lirik romansa yang membunuh karakter dan jiwa pemberontakan. Lantungkan nada-nada pemberontakan melalui iven-terpenting.  Itu baru ko tra kosong.

banner 468x60
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90