Mengakhiri Konflik Lady Shop dan Pedagang Tradisional Gedung Karya Jitu Tulang Bawang

Dialog Menghindari Kebuntuan

- Publisher

Selasa, 26 Maret 2024 - 17:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nafian Faiz . SUARA UTAMA.ID

Nafian Faiz . SUARA UTAMA.ID

Oleh : Nafian Faiz (Mantan ketua P3UW Lampung)

SUARA UTAMA- Pasar Minggu Gedung Karya Jitu (PMGKJ), sebuah pasar tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas Kampung Gedung Karya Jitu, Rawajitu Selatan, Tulang Bawang, Lampung, kini tengah menghadapi tantangan yang signifikan dengan munculnya toko swalayan Lady Shop (LS) di kawasan tersebut. Keberadaan LS, meskipun membawa peluang baru, juga menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran bagi para pedagang tradisional yang telah lama beraktivitas di pasar tersebut.

Sebagai salah satu pasar terbesar kedua setelah pasar unit II di Kabupaten Tulang Bawang, PMGKJ tidak hanya menjadi tempat transaksi jual-beli, tetapi juga memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi, kehidupan sosial, dan kegiatan keagamaan di kawasan tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, geliat ekonomi pasar ini mulai terasa berat, terutama dengan adanya pandemi COVID-19 dan faktor cuaca ekstrem yang membuat pelaku usaha sektor perikanan, perkebunan dan pertanian di wilayah Rawajitu dan sekitar, banyak gagal panen, hal tersebut semakin memperumit kondisi pedagang.

Kehadiran LS di awal bulan Februari 2024 menjadi pukulan bagi para pedagang PMGKJ. Hal tersebut melengkapi rasa pilu pedagang akibat sistem penjualan baru, yakni penjualan online sejak masa pandemi mulai merambah dan mengcam pasar tradisional. Toko swalayan dengan berbagai macam barang di bawah harga grosir menimbulkan kekhawatiran akan semakin berkurangnya jumlah pengunjung dan menimbulkan persaingan yang tidak sehat bagi pedagang tradisional.

Perkumpulan Pedagang Pasar Minggu Rawajitu (P3MR) menolak keras kehadiran LS, dengan alasan bahwa harga barang di LS dijual di bawah harga grosir dan tanpa memperhatikan keberlangsungan usaha pedagang kecil. Upaya penolakan sudah dilakukan berulang kali, termasuk aksi damai di depan toko LS, namun belum mendapatkan solusi yang memuaskan.

BACA JUGA :  HIMAS 2026 : AMAN Sulsel Tegaskan Kedaulatan Pengetahuan Masyarakat Adat adalah Kunci Menjaga Bumi, Mendesak Pengesahan UU Masyarakat Adat

Pemerintah Kampung Gedung Karya Jitu (GKJ) juga turut menolak keberadaan LS, dengan alasan melindungi eksistensi pelaku usaha pasar tradisional yang merupakan aset dan kebanggaan masyarakat kampungnya. Namun, di sisi lain, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tulangbawang menyatakan bahwa perizinan swalayan LS cabang Rawajitu sudah lengkap.

Dalam polemik pro dan kontra keberadaan LS, muncul berbagai pandangan dari masyarakat. Ada yang mendukung keberadaan LS dengan alasan harga barang yang lebih terjangkau dan variasi barang yang lebih lengkap. Namun, ada juga yang menentang dengan alasan melindungi pedagang tradisional dan menjaga keberlangsungan pasar Minggu Gedung Karya Jitu sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

BACA JUGA :  Guyup Rukun, Warga Tempel Sukoharjo Sukses Gelar Rangkaian HUT RI ke-81

Menghadapi situasi ini, diperlukan langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan konflik antara LS dan P3MR. Salah satu solusi terbaik adalah dengan membuka ruang dialog yang melibatkan pemerintah kabupaten Tulang Bawang, kepala Dinas Perdagangan, dan para pemangku kepentingan lainnya. Dialog ini perlu mempertimbangkan kedua belah pihak dan mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.

Pasar Minggu Gedung Karya Jitu memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi lokal dan warisan budaya yang harus dilestarikan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, pedagang tradisional, dan pengusaha swalayan, diharapkan dapat ditemukan solusi yang menguntungkan bagi semua pihak dan menjaga keberlangsungan pasar ini untuk generasi mendatang.

Berita Terkait

Kebakaran Gunung Kawi-Butak hingga Arjuno, Yayasan Suara Utama Indonesia Serukan Kepedulian
PETI Gunakan Ekskavator Milik Cuncun di Pematang Kandis, Beranikah Aparat Bertindak ?
Rapuh Seperti Kue Sagon, Paving Block Anggaran Pokir Dikeluhkan Anggota DPRD Pandeglang
Jenazah Misterius Ditemukan di Pulau Enggano, Tim SAR dan Polisi Lakukan Pencocokan DNA Dengan Delapan Keluarga Korban Hilang Saat Peliputan Eerupsi Gunung Anak Krakatau
Lantik Ketua LPM Baru, Lurah Girian Weru Dua Harapkan Sinergi Kuat
Lapas Bangko Gelar Hening Cipta untuk Mengenang ASN Jayawijaya yang Gugur dalam Tugas
Sisir Rakata, Sertung, hingga Pulau Panjang, Tim Gabungan Belum Temukan 8 Orang yang Hilang
5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa
Berita ini 126 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 23:47 WIB

Kebakaran Gunung Kawi-Butak hingga Arjuno, Yayasan Suara Utama Indonesia Serukan Kepedulian

Selasa, 15 September 2026 - 20:34 WIB

PETI Gunakan Ekskavator Milik Cuncun di Pematang Kandis, Beranikah Aparat Bertindak ?

Selasa, 15 September 2026 - 13:05 WIB

Rapuh Seperti Kue Sagon, Paving Block Anggaran Pokir Dikeluhkan Anggota DPRD Pandeglang

Senin, 14 September 2026 - 18:55 WIB

Lantik Ketua LPM Baru, Lurah Girian Weru Dua Harapkan Sinergi Kuat

Senin, 14 September 2026 - 10:39 WIB

Lapas Bangko Gelar Hening Cipta untuk Mengenang ASN Jayawijaya yang Gugur dalam Tugas

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/