Megengan dan Nyadran di Awal Ramadan

- Jurnalis

Kamis, 23 Maret 2023 - 15:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA. Megangan dan nyadran di awal “menjelang” bulan puasa Ramadan adalah   “fardlu ain” untuk sebagaian masyarakat di Indonesia. Tradisi ini menimbulkan fenomena polemik eknonomi bagi sebagain masyarakat dengan kondisi miskin.

Megengan merupakan sebuah pesta rakyat yang diselenggarakan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Megengan berasal dari bahasa jawa yang bermakna menahan, hal ini sesuai dengan makna Ramadhan dimana umat muslim diwajibkan menahan hawa nafsunya selama satu hari penuh. Makna lain di balik acara Megengan adalah permohonan maaf bagi sesama. Permohonan maaf disimbolkan dengan kue apem, kudapan khas Jawa yang biasa disajikan pada acara-acara adat. Apem dalam acara megengan ternyata memiliki makna tersendiri. Istilah apem diambil dari kata afwan atau ngafwan yang berarti permohonan maaf.

Megengan merupakan alkuturasi budaya Jawa dan budaya Islam yang dilakukan Walisongso saat menyebarkan ajaran Islam di Jawa dan memiliki tujuan agar Islam dapat diterima oleh masyarakat. Megengan digelar pada minggu terakhir bulan Sya’ban, terletak di antara dua bulan mulia yaitu Rajab dan Ramadan. Megengan dilakukan sebagai wujud rasa syukur karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadan. Rasa syukur tersebut diwujudkan dengan makanan yang dibuat oleh masyarakat, kemudian dibagikan kepada orang-orang yang tinggal di sekelilingnya. Sebelum perayaan Megengan, orang-orang akan datang ke makam untuk berdoa dan menabur bunga yang dikenal dengan nyekar yang kemudian hari dikenal dengan nama nyadran.

Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya. Nyadran dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi Nyadran berdasarkan sejarahnya merupakan suatu akulturasi budaya jawa dengan islam.

BACA :  Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional 2022 Sukses Digelar, DPK Purwasari Karawang Ikut Serta Panitia

Megangan dan nyadran sudah menjadi kultar budaya yang ‘seakan-akan” wajib dilakukan oleh orang jawa dan kjeturunannya. Keyakinan akan keberkahan romadlon yang ditancapkan oleh wali songo dan penantian keyakinan orang tua, suadara, kerabat, teman yang sudah meinggal dunia untuk di didokan sudah mendarah daging, sehinga keyakinan memperlakukan megengan dan nyadrann ini “seakan-akan” wajib bagi mereke. Kewajiban inilah yang menjadikan masyarakat pada saat menjelang romadlon dalam kondisi panic buying pada kebutuhan upacara megengan dan nyadran.

Bayangkan apabila dalam satu desa terjadi pembiasaan “kewajiban” megengan dan nyadran yang terkecil dibutuhkan adalah beras, ikan, minyak goreng, bumbu, telor. Apabila di jatah yang di berikan untuk megengan dan nyadran adalah 10 orang keluarga, maka dibutuhkan 2 Kg, 1 Kg minyak, 1 Kg ayam, untuk bumbu 25 ribu, dan 1 Kg telor dengan kisaran belanja mencapai Rp. 250 ribu sampai Rp.  300 ribu. Maka dapat diperkirakan dengan riel pengeluaran masyarakat Imislnya) Kabupaten Jomabng dengan lebih dari 500 ribu KK untuk keperluan nyadran dan megengan mengeluarkan konsumsi rumah tangga sebesar Rp. 125.000.000 – Rp. 150.000.000.

BACA :  Ar Roja’

Kondisi panic buying pada masyarakat menyebabkan lonjakan pembelian barang dan  berakibat pada kenaikan harga. Kondisi ini sebenarnya tidak bagus untuk perekonomian dan belanja rumah tangga masyarakat, akan tetapi tradisi dan keyakinan tidak akan pernah mengenal kenaikan harga.

Berita Terkait

Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah
Ada Pesan Toleransi dan Persatuan Menggema dari Ribuan Lokasi Salat Ied di Indonesia
Distorsi Akidah Islam 1445 H
Pondok Pesantren Al Aziz Membangun Masyarakat Melalui Moderasi Beragama
Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H
Syafari Ramadhan DP. MUI di Masjid Ukhuwah Islamiyah Desa Bagan Asahan 1445 H
Siap Berlaga, Kontingen UDG Karanganyar Tahun 2024 Bersemangat
Cara Terbaik Pelaksanaan Ibadah Ramadhan 1445 H
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 April 2024 - 15:11 WIB

Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah

Jumat, 12 April 2024 - 17:52 WIB

Ada Pesan Toleransi dan Persatuan Menggema dari Ribuan Lokasi Salat Ied di Indonesia

Minggu, 7 April 2024 - 23:22 WIB

Distorsi Akidah Islam 1445 H

Sabtu, 30 Maret 2024 - 17:39 WIB

Pondok Pesantren Al Aziz Membangun Masyarakat Melalui Moderasi Beragama

Sabtu, 30 Maret 2024 - 13:55 WIB

Upaya Pengembalian Jati Diri Kepada Fitrah 1445 H

Selasa, 26 Maret 2024 - 11:51 WIB

Syafari Ramadhan DP. MUI di Masjid Ukhuwah Islamiyah Desa Bagan Asahan 1445 H

Senin, 25 Maret 2024 - 19:00 WIB

Siap Berlaga, Kontingen UDG Karanganyar Tahun 2024 Bersemangat

Sabtu, 23 Maret 2024 - 23:06 WIB

Cara Terbaik Pelaksanaan Ibadah Ramadhan 1445 H

Berita Terbaru

Illustrasi Stress dan Relax  .Foto:pixabay.com/id/illustrations/search/stress

Artikel

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Senin, 15 Apr 2024 - 20:46 WIB