banner 728x250

Lailatul Qadar Untuk Kesejahteraan

puasa 4 1 Lailatul Qadar Untuk Kesejahteraan Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama
banner 120x600
484 Kali Dibaca

SUARA UTAMA. Ramadhan dimuliakan, salah satunya karena peristiwa diturunkannya Al-Quran dan lailatul qadar. Sebagai manusia yang lemah dan penuh dosa lailatul qadar adalah jalan pintas penebus dosa, jalan pintas merubah takdir dan jalan pintas menggapai kesejahteraan (salam).

.اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ.وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ.تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛسَلٰمٌ ۛ,هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.  Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar”.

Jalaluddin as-Suyuthi, dalam kitab Lubabun Nuqul, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah], halaman 215). Bahwa Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi mengeluarkan riwayat dari Imam Mujahid, bahwa Nabi SAW menceritakan seorang lelaki dari bani Israil yang menyandang senjatanya selama 1.000 bulan (84 tahun lebih 4 bulan) dalam berjihad di jalan Allah. Lalu kaum muslimin merasa kagum dan iri perihal jihad kebaikan lelaki tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dengan Surah Al-Qadar dengan arti, bahwa Ummat Muhammad diberikan Allah dengan satu malam yang lebih baik dari pada lelaki itu dalam malam kemuliaan (lailatul qadar).

Ada tiga poin penting dalam ayat tersebut yang perlu digaris bawahi;

Pertama لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ (malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan). Malam berati waktu magrib sampai subuh (jam 18.00 sore sampai jam 04.00 pagi) dengan durasi waktu 11 jam (untuk wilayah Indonesia Bagian Barat). لَيْلَةُ الْقَدْرِ dapat juga bermakna “malam yang ditaqdirkan” sebagimana penafsiran Imam Nawawi al-Jawi dalam at-Tafsîrul Munîr li Ma’âlimit Tanzîl, [Surabaya, al-Hidayah], juz II, halaman 506. Bahwa  makna qadar adalah takdir (penetapan). Dinamakan dengan lailatul qadar karena Allah menetapkan di malam tersebut apa yang Dia kehendaki, meliputi kematian, ajal, rezeki dan selainnya, sampai malam yang sama pada tahun berikutnya. Ketetapan tersebut Allah berikan kepada para malaikat pengatur yakni Malaikat Israfil, Mikail, Izrail dan Malaikat Jibril as. Jumhurul Ulama menyatakan Lailatur Qadar terdapat dalam bulan Ramadhan. Namun, mereka berselisih mengenai tanggal persisnya. Ini seakan akan menguatkan hadit Nabi bahwa Allh turun ke bumi setiap malam

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari-Muslim)

Kedua   تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ. (Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan). Kata-kata mengatur semua urusan berarti pelayanan yang diberikan Allah kepada manusia. Urusan manusia secara garis besar ada dua yaitu kebutuhan dan keinginan. Apabila kebutuhan dan keinginan tidak seimbang maka tidak akan terjadi “salam” atau kesejahteraan. Yang dilakukan para malaikat sebagimana tafsir Imam Nawawi ini adalah mencatat taqdir kita sesuai dengan permintaan usulam proposal kebutuhan dan keinginan serta akan ditetapkan oleh Allah dengan pertimbangan “salam”. Dengan arti balancing kebutuhan dan keinginan kita yang paling mengerti adalah Allah, maka setiap yang kita minta baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah (بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ), maka berpersangka baiklah kepada Allah dengan rasa syukur.

Ketiga, tujuan utama lailatul qadar adalah “salam” atau kesejahteraan untuk semua (keluarga besar). Makna Kesejahteraan dalam ekonomi syariah menurut hasil riset Didi Suardi yang di muat dalam Jurnal Islamic Banking, yaitu ada tiiga macam kesejahteraan; kesejahteraan material, kesejahteraan spiritual dan moral. Konsep kesejahteraan ekonomi syariah bukan saja berdasarkan manifestasi nilai ekonomi, tetapi juga nilai spiritual dan moral dengan kesejahteraan dan kebahagiaan (falah) dengan terpenuhinya 5 prinsip maqashid syari’ah, yakni terjaganya agama (ad-ddin), terjaganya jiwa (an-nafs), terjaganya akal (al-aql), terjaganya keturunan (an-nasl) dan terjaganya harta (al-mal) dengan cakupan kesejaheraan: 1). Kesejahteraan ekonomi terhadap individu, masyarakat dan negara, 2). Tercukupinya kebutuhan dasar manusia, meliputi makan, minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, keamanan dan sistem negara yang menjamin terlaksananya kecukupan kebutuhan dasar secara adil, 3). Penggunaan berdaya secara optimal, efisien, efektif, hemat dan tidak mubazir, 4). Distribusi harta, kekayaan, pendapatan dan hasil pembangunan secara adil dan merata, 5). Menjamin kebebasan individu, 6). Kesamaan hak dan peluang, dan 7). Kerjasamaan dan keadilan.

Dari pengertian di atas menjadi layak lailatul qodar untuk di buru dan di perebutkan. Ini terutama untuk para pemimpin; agama (ulama), birokrat, lembaga pendidikan maupun non pendidikan,pemimpin rumah tangga serta pemimpin individu (diri kita). Seorang pemimpin bertanggungjawab atas kesejahteraan masyarkatnya/anak buahnya/keluarganya.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُو لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْ أَةُ رَاعِيَة فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُو لَة عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing dari kalian akan diminta (pertanggungjawaban) atas orang yang berada di bawah pimpinan kalian. Pemimpin bertanggung jawab atas rakyat. Suami adalah pemimpin  keluarga dan ia bertanggung jawab atas mereka. Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab untuk hal itu.(HR Bukhori Muslim)

Semoga pemimpin-pemimpin kita, dan kita mendapatkan lailatul qadar serta memfungsikannya untuk kesejahteraan bersama. Amiin ya robbal alamin

banner 468x60
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90