Kurikulum dalam Pendidikan 1slam

- Jurnalis

Jumat, 14 Juli 2023 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Dokumentasi Suhardi,Kurikulum Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi Suhardi,Kurikulum Pendidikan Islam

Penulis Oleh : Dr. Suhardi,S.Pd.I,MA dan DTM. Risky Ananda Surya

PAI, IAIDU ASAHAN

SUARA UTAMA, Istilah kurikulum tersebut pada awalnya digunakan dalam dunia Olah raga, seperti bisa diperhatikan dari arti “pelari dan tempat berpacu”. Berawal dari makna “curir” dan “curere” kurikulum berdasarkan istilah diartikan sebagai “Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan”. Pengertian tersebut kemudian diadaptasikan ke dalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai “Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memperoleh ijazah”.

Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi AR.Learning Center, CFLS, Coach Iing Solihin (SUARA UTAMA)

Foto Dokumentasi AR.Learning Center, CFLS, Coach Iing Solihin (SUARA UTAMA)

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Kurikulum dalam Pendidikan 1slam Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan.Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami konsep dasar dari kurikulum.Kurikulum dapat diartikan seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Karena kurikulum dianggap sebagai pedoman sekolah atau madrasah, maka kurikulumdalam implementasinya memerlukan beberapa komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Adapun komponen kurikulum meliputi: tujuan, pendidik, peserta didik, isi, prosedur atau strategi, sarana dan prasarana pendidikan dan dukungan masyarakat (oemar malik, 2013:3)

Menurut Romine. Curriculum is interpreted do mean all of the organizd courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not. Kurikulum dapat diartikan pemahaman sebagai pedoman pelaksanaan semua kegiatan pembelajaran, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dengan siswa yang berlangsung di sekolah, baik dilakukan di kelas maupun diluar kelas.

Menurut Orlosky and Smith.Kurikulum adalah bagian dari program sekolah. Kurikulum berisi apa yang diharapkan pada siswa dalam pembelajaran.Menurut Inlow.Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan. menurut Murray Print dapat diartikan sebagai berikut yaitu:(1)Kurikulum sebagai Suatu Program Kegiatan Yang Terencana.Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dan lain-lain yang dapat direncanakan sebelumnya.(2)Kurikulum sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan.

Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai.(3)Kurikulum sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction). Pengembangan kurikulum semacam ini dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus, melalui lembaga penerus.(4)Kurikulum sebagai Curere.Pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kuikulum itu sendiri, yaitu curere.Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race course) kurikulum, curere merujuk pada jalannya lomba dan menekankan masing-masing kapasitas individu untuk mengkonseptualisasi otobiografinya sendiri (Nasution,2018:107).

Masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) ditengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the origins) serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling bergantung dengan subdivisi-subdivisi pendidikan lainnya.

Menurut Beane, kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi yaitu:(1)Kurikulum sebagai produk. Merupakan hasil perencanaan, pengembangan, dan perekayasaan kurikulum. (2)Kurikulum sebagai program.Secara esensial merupakan kurikulum yang berbentuk program-program pembelajaran secara riil. (3)Kurikulum sebagai hasil belajar yang ingin dicapai oleh para siswa. Mendeskripsikan kurikulum sebagai pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap dan berbagai bentuk pemahaman terhadap mata pelajaran.(4)Kurikulum sebagai pengalaman belajar.Menempatkan pengalaman belajar sebagai hal yang sangat penting dalam pembelajaran

Alquran dan sunnah sebagai kurikulum pendidikan islami

Alquran Sebagai kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Alquran menjadi sumber pendidikan Islam pertama dan utama.al quran merupakan petunjuk yang lengkap, pedoman bagi manusia yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan bersifat unversal.Keuniversalan ajarannya mencakup ilmu pengetahuan yang tinggi dan sekaligus merupakan kalam mulia yang esensinya tidak dapat dimengerti, kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.al quran diturunkan Allah untuk menunjuki manusia ke arah yang lebih baik. Firman Allah Swt:

وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Artinya dan kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al quran) melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseliisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman (QS Al-Nahl: 64)

ALquran menduduki tempat paling depan dalam pengambilan sumber-sumber pendidikan lainnya. Segala kegiatan dan proses pendidikan Islam haruslah senantiasa berorientasi kepada prinsip dan nilai-nilai alquran. Di dalam al quran terdapat beberapa hal yang sangat positif guna pengembangan pendidikan. Hal-hal yang sangat positif guna pengembangan pendidikan bimbingan ilmiah, tidak menentang fitrah manusia, serta memelihara kebutuhan sosial.

Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan Islam harus senantiasa mengacu pada sumber yang termuat dalam al quran. Dengan berpegang kepada nilai-nilai yang terkandung dalam al quran terutama dalam pelaksanaan pendidikan Islam, akan mampu mengarahkan dan mengantarkan manusia bersifat dinamis-kreatif serta mampu mencapai esensi nilai-nilai ubudiyah pada Penciptanya. Dengan sikap ini, maka proses pendidikan Islam akan senantiasa terarah dan mampu menciptakan dan mengantarkan outputnya sebagai manusia berkualitas dan bertanggung jawab terhadap semua aktivitas yang dilakukannya. Hal ini dapt dilihat bahwa hampir dua pertiga dari ayat al quran mengandung nilai-nilai yang membudayakan manusia dan memotivasi manusia untuk mengembangkannya lewat proses pendidikan.

Al-Qur’an memiliki perbendaharaan luas dan besar bagi pengembangan kebudayaan umat manusia. Ia merupakan sumber pendidikan yang terlengkap, baik itu pendidikan sosial, moral, spritual, material serta alam semesta. Al-Qur’an merupakan sumber nilai yang absolut dan utuh. Eksistensinya tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemungkinan terjadi perubahan hanya sebatas interpretasi manusia terhadap teks ayat yang menghendaki kedinamisan pemaknaannya, sesuai dengan konteks zaman, situasi, kondisi, dan kemampuan manusia dalam melakukan interpretasi. Ini merupakan pedoman normatif-teoritis bagi pelaksanaan pendidikan Islam yang memerlukan penafsiran lebih lanjut.

Isinya mencakup seluruh dimensi manusia dan mampu menyentuh seluruh potensi manusia, baik itu motivasi untuk mempergunakan pancaindera dalam menafsirkan alam semesta bagi kepentingan formulasi lanjut pendidikan manusia (pendidikan Islam), motivasi agar manusia mempergunakan akalnya, lewat perumpamaan perumpamaan (tamsil) Allah SWT dalam al-Qur’an, maupun motivasi agar manusia mempergunakan hatinya untuk mampu mentransfer nilai-nilai pendidikan Ilahiah dan sebagainya. Kesemua proses ini merupakan sistem umum pendidikan yang ditawarkan Allah Swt. dalam al-Qur’an agar manusia dapat menarik kesimpulan dan melaksanakan kesemua petunjuk tersebut dalam kehidupannya sebaik mungkin. (M akmansyah, 2015:129)

Al sunnah (Al-Hadîts) secara etimologi berarti komunikasi, cerita, percakapan, baik dalam konteks, agama atau duniawi, atau dalam konteks sejarah atau peristiwa dan kejadian aktual (Mustafa, 1992:1).  Shubhi al-Shalih, kata al-Hadits juga merupakan bentuk isim dari hadits, yang mengandung arti memberitahukan, mengabarkan. Berdasarkan pengertian inilah, selanjutnya setiap perkataan, perbuatan atau penetapan (faqrir) yang disandarkan kepada Nabi Saw. dinamai dengan al-Hadîts.” Dari definisi tersebut, al-Hadits mempunyai tiga bentuk. Pertama, al-Hadîts qauliyah yaitu yang berisikan ucapan dan pernyataan Nabi Muhammad Saw. Kedua, al-Hadîts fi’liyah yaitu yang berisi tidakan dan perbuatan yang pernah dilakukan nabi. Ketiga, al Hadîts laqririyah yaitu yang merupakan persetujuan nabi atas tindakan dan peristiwa yang terjadi. (Subhi al-Shalih, 1973:3-4).

BACA : Kaidah Pendidikan Menurut Islam

Al-Hadits merupakan sumber ketentuan Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Ia merupakan penguat dan penjelas dari berbagai persoalan baik yang ada di dalam al-Qur’an maupun yang dihadapi dalam persoalan kehidupan kaum muslim yang disampaikan dan dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. yang dapat dijadikan landasan pendidikan Islam.Kedudukan al-Hadîts dalam kehidupan dan pemikiran Islam sangat penting, karena disamping memperkuat dan memperjelas berbagai persoalan dalam al-Qur’an, juga memberikan dasar pemikiran yang lebih konkret mengenai penerapan berbagai aktivitas yang mesti dikembangkan dalam kerangka hidup dan kchidupan umat Islam. Banyak al-Hadits Nabi yang memiliki relevasi ke arah dasar pemikiran dan implikasi langsung bagi pengembangan dan penerapan dunia pendidikan.

merupakan sumber ketentuan Islam yang kedua setelah al quran.Ia merupakan penguat dan penjelas dari berbagai persoalan baik yang ada di dalam al quran maupun yang dihadapi dalam persoalan kehidupan kaum muslim yang disampaikan dan dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. yang dapat dijadikan landasan pendidikan Islam.

Kedudukan al-Hadîts dalam kehidupan dan pemikiran Islam sangat penting, karena disamping memperkuat dan memperjelas berbagai persoalan dalam Al quran juga memberikan dasar pemikiran yang lebih konkret mengenai penerapan berbagai aktivitas yang mesti dikembangkan dalam kerangka hidup dan kchidupan umat Islam. Banyak al-Hadîts Nabi yang memiliki relevasi ke arah dasar pemikiran dan implikasi langsung bagi pengembangan dan penerapan dunia pendidikan.

contoh yang telah ditunjukkan Nabi (al-Hadîts ), merupakan sumber dan acuan yang dapat digunakan umat Islam dalam seluruh aktivitas kehidupannya. Meskipun secara umum bagian terbesar dari syari’ah Islam telah terkandung dalam al-Qur’an, namun muatan tersebut belum mengatur berbagai dimensi aktivitas kehidupan ummat secara terperinci. Penjelasan syari’ah yang dikandung al Qur’an sebagian masih bersifat global. Untuk itu diperlukan keberadaan al-Hadits Nabi sebagai penjelas dan penguat bagi hokum hukum quraniah yang ada (NP.Aghnides, 1969:35).

BACA :  Kemana Arah Kabupaten Intan Jaya ke Depan ?

Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi Suhardi, Kurikulum dalam Pendidikan Islam.

Foto Dokumentasi Suhardi, Kurikulum dalam Pendidikan Islam.

Cakupan Kurikulum pendidikan islami

Selama ini, kurikulum pendidikan agama Islam itu adalah ajaran pokok Islam yang meliputi masalah aqidah (keimanan), syari’ah (keislaman), dan akhlak (ihsan).Tiga ajaran pokok kemudian dijabarkan dalam bentuk rukun iman, Islam, dan Ihsan. Dari ketiganya lahirlah ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak. Namun menurut Mujtahid kontens pendidikan agama Islam semacam itubelum sepenuhnya mampu menjadikan pesertadidik memiliki keunggulan yang utuh dan integratif dalam dirinya. Sebab Islam perludijabarkan lebih luas, seluas jagat raya ini.Kurikulum pendidikan agama Islam seharusnya bersentuhan dengan segala aspek kehidupan manusia yang bersumber pada al- Qur’an dan hadits serta penalaran logis danhasil observasi yang kaya dengan pengetahuandan pengalaman hidup dan kehidupan.

Menurut Mujtahih lagi menjelaskan ketiga-tiga kumpulan di atas(iman, Islam dan ihsan) yang diterjemahkan kedalam cabang ilmu seperti Aqidah, Fiqh,Tasawuf, Tarikh dan seterusnya itu baru pada tingkatan Ilahiyah yang cenderung melahirkan perbedaan dan konflik, yang belum mampu menjawab dan merespon secara cepat terhadap perubahan dan perkembangan semasa sekarang ini. Ajaran Islam harus merujuk pada ajaran al-Qur’an dan hadits yang memiliki jangkauan visi nilai-nilai kehidupan manusia yang lebih luas dan tak pernah terbatas oleh ruang dan waktu.

Menurut al-Abrasyi, dalam AhmadTafsir (1994), mengemukakan bahwa dala merumuskan kurikulum atau materi pendidikan Islam harus mempertimbangkan 5 (lima) prinsip. Pertama, mata pelajaran ditujukan untuk mendidik rohani atau hati, artinya, materi itu berhubungan dengan kesadaran ketuhanan yang mampu diterjemahkan ke dalam setiap gerak dan langkah manusia. Manusia adalah makhluk yang senantiasa melibatkan sandaran kepada yang Maha Kuasa, yaitu Allah Swt. Kedua, mata pelajaran yang diberikan berisi tentang tuntunan cara hidup.

Pelajaran ini tidak saja ilmu fiqh dan akhlak tetapi ilmu yang menuntun manusia untuk meraih kehidupan yang unggul dalam segala dimensinya. Ketiga, mata pelajaran yang disampaikan hendakny mengandung ilmiah, yaitu sesuatu ilmu yang mendorong rasa ingin tahu manusia terhadap segala sesuatu yang perlu diketahui. Ilmu yang dibutuhkan untuk mencari karunia Allah melalui cara-cara yang mulia dan penuh perhitungan. Keempat, mata pelajaran yang diberikan harus bermanfaat secara praktis bagi kehidupan, intinya bahwa materi mengajarkan suatu pengalaman, keterampilan, serta cara pandang hidup yang luas. Kelima, mata pelajaran yang disampaikan harus membingkai terhadap materi lainnya. Jadi, ilmu yang dipelajari berguna untuk ilmu lainnya. (noorzanah,2017:70-71).

Menterjemahkan Alquran dan Alsunnah kedalam kurikulum pendidikan Islami

Al Qur‟an merupakan kalamullah yang dijadikan pedoman hidup seluruh makhluk hidup, dan Al Hadis merupakan sunnatullah rasul yang patut kita pelajari dan kita lakukan. pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis di sekolah pada umumnya hanya untuk sebagian mata pembelajaran yang wajib di ikuti. Namun, dengan adanya kurikulum pembelajarn Al Qur‟an dan Al Hadis ini merupakan suatu kesempatan dimana kita bisa mendapatkan ilmu-ilmu tentang Al Qur‟an dan Al Hadis yang lebih mempuni. Al Quran adalah sebuah kitab suci yang sakral. Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang dihapal di luar kepala jutaan orang, selain Al Qur‟an karena Allah telah menjadikannya mudah diingat dan dihapal. Sekalipun banyak orang yang menghapalnya tidak paham apa yang dibaca dan dihapalnya karena berbahasa Arab, namun mereka berlomba-lomba menghapalnya dengan maksud sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt (Muzakkir,2015:108).

Pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis disini memiliki tujuan yaitu merubah prilaku seseorang agar menjadi lebih baik, dan bahkan dijadikan suatu wadah untuk menggali ilmunya. Al Qur‟an memerintah bersyukur dengan telah diberikan alam semesta dan sejarah umat manusia dengan secara mendalam untuk bisa diambil hikmahnya di pengetahuannya agar dapat bisa diterapkan di kehidupan. (Dedi wahyudi, 2016:275).

BACA : Muzakarah Pemahaman Menyimpang Pada Pondok Pesantren Al-Zaytun Jawa Barat

Adapun nama lain dari kitab suci Al Qur‟an yaitu al-kitab yang bererti buku, maksudya al-quran sebagai buku yang harus kita pelajari. Al-huda yang berarti petunjuk jadi Al Qur‟an sebagai petunjuk bagi kita semua agar senantiasa mengingat kebesaran Allah SWT. Al-qaul yang berarti perkataan ataupun ucapan, jadi al-quran juga menuntun kita agar kita senantiasa menjaga segala ucapan. Rajinlah dalam membaca Al Qur‟an karena dengan membacanya akan ada keindahan-keindahan di dalamnya. Maka seorang mu„min yang rajin membaca Al Qur‟an adalah baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain. Dia seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi dan harum, rasanya pun enak dan lezat. dengan demikian bagi seorang muslim yang rajin membacanya akan mendapat kebaikan dan dia yang selalu meninggalkannya akan mendapat sesuatu yang tak terduga-duga atau merasa kegelisahan. (Suraijiah, 2014:134)

Al Qur‟an dijadikan pedoman bagi seluruh umat. Namun dalam ajaran Al Qur‟an terdapat juga suatu aspek kehidupan-kehidupan yang dapat dijadikan cerminan diri. Dalam Al Qur‟an juga terdapat anjuran untuk kita belajar jadi banyak sekali surah-surah yang menekankan pada pembelajaran. Seperti halnya surah al-alaq 1-5 yang mengandung arti, bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq, Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.

Hikmah yang terkandung dalam surah al-alaq 1-5 yaitu kita sebagai ciptaan Allah SWT, harus mensyukuri dengan apa yang di berikan Allah SWT kepada kita, dan dalam surah tersebut hikmahnya yaitu agar kita selalu tidak berhenti untuk belajar, seperti halnya unta di ciptakan ia tidak kepanasan dalam gurun yang panas sekalian. Jadi pada dasarnya kita sebagai umat manusia harus selalu belajar dan belajar karena belajar adalah suatu pencapaian kita terhadap apa yang kita inginkan tetapi, bukan hanya belajar dalam bentuk formal saja belajar itu banyak dari segi-segi atau aspek-aspek lain. Pada awalnya kurang paham yang berkaitan tentang Al Quran dan Al Hadis disini dapat lebih menggali dan menyari informasi bahkan dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari guna berguna bagi semua masyarakat.

Penerjemahan Al Quran pun perlu dilakukan karena guna untuk mengetahui apa arti dari ayat yang kita baca. Penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari suatu bahasa ke bahasa lain (Akla, 2009:19). Karena al-qur;an sangatlah penting jadi kitapun harus tau apa arti dari ayat yang kita baca tersebut gunanya agar kita bisa lebih memahami isi dari Al Qur‟an dan bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam Al Quran. Tujuan pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis yang awalnya hanyalah sebuah tuntutan tapi disini akan lebih menarik pembelajaran Al Quran dan Al Hadis akan lebih di tunjang sebagai harapan untuk merubah prilaku seseorang tersebut. Karena pembelajaran Al Qur an dan  al hadits dapat menambahkan kecintaan kita kepada allah SWT.

Tujuannya pembelajaran Al Quran dan Al Hadis untuk menggambarkan bentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berhubungan dengan pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis dalam perencanaan pembelajaran di sekolah. Adapun kandungan kita mempelajari Al Quran dan Al Hadis yaitu mendorong, membina. Al Qur an sendiri senantiasa mendorong untuk selalu berfikir objektif. rasional dan melarang berpegang kepada subjektivitas yang hanya berdasarkan dugaan semata.membimbing akhlak dan prilaku peserta didik agar berpedoman kepada Al Quran dan Al Hadis. Yaitu dengan menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik membaca dan menulis Al Quran, menghayati, menghafal, dan dijadikan acuan hidupnya sehari-hari. (Ervan Nurtaweb, 2011:46).

Sebagai landasan untuk tujuan yang benar-benar atas dasar keimanan dan ketakwaan, sudah selayaknya pendidikan Islam diupayakan dan diselenggarakan dengan maksud lillahi Ta’ala, karena dalam rangka mencari Ridlo Allah, sehingga banyak yang mengatakan bahwa mencari ilmu atau yang berjuang dalam keilmuan merupakan “jihad fi sabilillah,” jadi para penyelenggara pendidikan harus mempunyai pilar kuat tentang keyakinan ini. Dengan demikian dibutuhkan landasan ideologis dan filosofis untuk membangun pendidikan Islam, dengan merujuk kepada Al-Qur‟an.

Pendidikan Islam merupakan media untuk mempengaruhi orang lain ke arah kebaikan agar dapat hidup lebih baik sesuai ajaran Islam dan mentaati semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah, dengan kesadaran insani yang tertanam kuat dengan aspek keilmuan, sehingga hasilnya bukan sekedar taat buta, tapi penghambaan yang berdasarkan keilmuan, semua yang dilakukan dalam ruang lingkup peraturan Allah, sehingga dasar dari pendidikan Islam itu sendiri tiada lain ialah sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan Hadits, hal ini sejalan dengan ungkapan yang dipaparkan oleh Ahmad Tafsir, beliau memberikan komentar tentang dasar pendidikan Islam dengan ungkapan “Karena pendidikan mempunyai posisi yang penting dalam kehidupan manusia maka wajarlah orang Islam menempatkan Al-Qur‟an, Hadist dan akal sebagi dasarnya.”

BACA :  Langkah Kongrit Pengembangan Potensi Desa Melalui Generasi Emas Indonesia (GESID)

Pendapat Ahmad Tafsir tersebut diatas sangat logis, karena falsafah dan dasar dari pendidikan Islam, tiada lain Islam itu sendiri, untuk sedikit menggambarkan alasan kenapa Al-Qur‟an dan Hadist menjadi landasan utama pendidikan Islam. Dikarenakan landasan utama dan holistik ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an, maka dalam mengembangkan sayap pendidikan Islam harus bisa menerjemahkan wahyu Tuhan tersebut secara cerdas ke dalam bahasa manusia, agar Al- Qur‟an bisa lebih kontekstual dengan keadaan zaman, karena Al-Qur‟an memuat ajaran yang lengkap dalam berbagai aspek,Sebagaimana para mufassir mengemukakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ajaran yang tak lekang oleh waktu maka, dengan kata lain bahwa ajaran-ajaran yang terdapat didalamnya sudah dipastikan memuat ajaran yang universal, kalaupun ada ayat-ayat yang sifatnya temporal itu harus bisa diterjemahkan secara subtantif.

Sehingga ketika pendidikan Islam mengalami kemunduran dan pudarnya sinergitas dalam dataran praktis seharusnya dikembalikan kepada dasar pendidikan Islam yaitu asas-asas Islam sebagaimana yang digariskan Al- Qur‟an bahwa Al- Qur‟an mengandung dan membawa nilai-nilai yang membudayakan manusia, dan hampir dua pertiga ayat-ayat AlQur‟an mengandung motivasi kependidikan bagi umat manusia.

Seiring dengan kemajuan zaman dan perbedaan budaya, maka tuntutan dan persoalan umat menjadi rumit dan berkembang, sedang Al-Qur’an dan Hadist sudah tidak turun lagi untuk menjawab persoalan umat sebagaimana pada masa kerasulan Muhammad SAW. Maka kita harus meyakini lebih dalam lagi bahwa Al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber hukum yang tak terbatas waktu, kalaupun secara tekstual itu menunjukan hukum periodik namun secara prinsip Al-Qur‘an dan Hadist berlaku tanpa batas waktu, ini yang menuntut kecerdasan dan pemahaman untuk lebih memahami pesan dan hukum dari kedua sumber ajaran Islam tersebut, Sehingga pendidikan Islam selain tetap mengacu pada kedua sumber tersebut.

Pengembangan sistem pendidikan yang sistematis merupakan harapan mendasar untuk memperbaiki sistem pendidikan Islam saat ini. Jadi dengan pengembangan sistem pendidikan yang mengadopsi dari hal-hal baru yang baik merupakan suatu keharusan, dengan catatan sesuai dengan konsep dasar landasan pendidikan islam yaitu Al-Qur‟an dan Hadis, karena dengan membuka diri kepada sesuatu yang baru yang baik, sejalan dengan dialektika pendidikan. Karena pendidikan tidak hanya mengajarkan sejumlah pengetahuan, namun justru mengajarkan bagaimana suatu pengetahuan itu disusun dan ditemukan. (Jamila, 2016:78-79)

Al Qur‟an dan Al Hadis dimaknai sebagai sebuah mata pelajaran sebagaimana dalam kurikulum, sebuah studi tentang teks-teks al-quran dan Al Hadis dilihat dari berbagai aspeknya, yaitu aspek pemahaman, penghayatan, dan pengalamannya. Sedangkan pembelajaran dimaknai sebagai interaksi dua arah atau lebih, untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian, pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis merupakan sistem komunikasi yang dibangun dalam proses pembelajaran untuk mengantarkan siswa kepada pemahaman, penghayatan dan pengalaman aspek-aspek al-qur‟an dan Al Hadis.

Kemampuan berfikir kritis serta pembelajaran yang lebih bersifat keguruan, maka untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa dalam pembelajarn Al Qur‟an dan Al Hadis adalah dikembangkannya model pembelajaran untuk meningkatkan berfikir kritis. Karena ini dikembangkan untuk mengembangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, prosedur pembelajaran, dan evaluasi yang mengarahkan siswa padapencapaian berfikir kritis. Dalam pembelajaran Al Qur‟an dan Al Hadis saat dilakukan studi pendahuluan masih belum terjadi adanya keseimbangan antara proses dan hasil pembelajaran. Ditinju dari sudut proses, pembelajaran lebih bersifat keguruan, karena kurang mendapatkan kesempatan belajar untuk terlibat secara aktif menggali potensi dan kemampuan dirinya.

Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi Mas Andre Hariyanto, AR.Learning Center, C.PW

Foto Dokumentasi Mas Andre Hariyanto, AR.Learning Center, C.PW

Untuk membentuk nilai-nilai karakter tersebut, ada tiga teori yang dapat membentuknya. Pertama, menurut Muhaimin dkk bahwa pembentukan karakter memiliki tiga tahap yaitu tahap transformasi, guru sekedar menginformasikan nilai-nilai baik dan buruk. Tahap transaksi, menjalin komunikasi timbal balik siswa dan guru dan tahap internalisasi guru dan siswa menunjukkan sikap mental riil sebagai aktualisasi pemahaman nilai. Kedua, menurut Riberi bahwa pendidikan karakter empat tahap pengalaman nilai dialami secara individual dan kolektif penghargaan nilai bersifat bobot intrinsik terdapat dalam nilai dihayati penerimaan nilai sebagai akibat sikap mendukung pengembangan nilai dan pengamalan nilai berdasarkan persetujuan nilai.

Ketiga, menurut Ibnu Miskawaih bahwa pembentukan karakter anak memiliki tiga unsur yaitu akal pikiran berpusat kepala yang dapat melahirkan sikap bijaksana, adil dan cerdas Nafsu, amarah berpusat dada melahirkan marah, cepat tersinggung, dan keras kepala. Syahwat berpusat perut melahirkan perilaku maksiat, rakus, dan malas. Ketiga unsur berpotensi digunakan secara seimbang, dan unsur keadilan sebagai penentu keseimbangan. (syukri, 2014:133)

Asas-asas kurikulum pendidikan Islami

Kurikulum pendidikan Islam harus mengandung unsur yang terdiri dari unsur utama, seperti isi materi, metode mengajar dan penilaian, semua unsur tersebut harus tersusun dan mengacu pada sumber kekuatan dan harus mengacu dalam landasan yang dalam pembentukannya (Ifham, 2019)

Asas adalah sesuatu hal yang bersifat fundamental berkaitan dengan pemikiran tujuan dan hukum pokok dari sesuatu tindakan (Halim, 2016). Dapat menganalogikan suatu bangunan seperti rumah dan gedunggedung tinggi seperti diperkotaan besar. Sebelum terbentuknya suatu bangunan utuh tentunya akan dirangkai terlebih dahulu landasan tujuan agar bangunan tersebut tetap kokoh dari cuaca buruk angin kencang dan gempa sehingga dapat digunakan dengan baik. Dari analogi tersebut dapat memahami betapa besar pentingnya suatu asas, pondasi atau landasan.

Kurikulum dalam pandangan klasik memiliki arti kumpulan seluruh mata pelajaran yang disampaikan pada peserta didik, namun beberapa pendapat menyatakan bahwa kurikulum rangkaian pengalaman terdiri dari ilmu sosial, pendidikan, kebudayaan, olahraga, serta ilmu kesenian yang berada pada setiap lembaga pendidikan guna mengembangkan setiap aspek pada peserta didik dalam mengubah tingkah lakunya yang lebih baik menyesuaikan tujuan pendidikan .

Kurikulum sebagai sekumpulan mata pelajaran, tentu mata pelajaran tersebut harus dipelajari semua peserta didik sampai dengan hasil berbentuk nilai baik secara fisik maupun nonfisik seperti perilaku. Nilai tersebutlah yang akan dijadikan ukuran keberhasilan peserta didik yang dicantumkan pada sebuah Ijazah. Dalam perkembangannya kurikulum memiliki makna yang lebih luas. Kurikulum dalam pendidikan modern jauh lebih holistic, komperhensif yang mencakup semua unsur pendidikan yaitu sangat berhubungan dengan semua rangkaian pendidikan.

BACA : Reward Dan Punishment Dalam Pendidikan

Kurikulum pendidikan agama Islam sendiri memiliki arti merancang materi agama Islam, tujuan dalam proses pembelajaran, metode strategis dan metode evaluasi. Dengan kata lain, kurikulum pendidikan agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana yang dirancang untuk membantu siswa memahami, memahami, menghayati, meyakini dan mengamalkan seluruh ajaran Islam (Noorzanah, 2018).

Kurikulum pendidikan agama Islam juga memuat materi pembelajaran yang berbasis pada pendidikan agama Islam, materi tersebut dimulai dari aktivitas, pengetahuan, kebiasaan, dan pengalaman terstruktur yang diberikan kepada peserta didik agar pendidikan agama Islam tercapai tujuannya dengan baik. Alat-alat tersebut dapat berupa materi pendidikan agama Islam, kegiatan-kegiatan Keislaman, program yang terstruktur dalam proses pembelajaran serta praktek-praktek pembelajaran yang dapat dijadikan pengamalan peserta didik untuk menjalankan perintah ajaran agama Islam dari komponen tersebut terdapat pula evaluasi sebagai tolok ukur seberapa besar keberhasilan peserta didik dalam menempuh pendidikan agama Islam

Asas-asas kurikulum Pendidikan merupakan dasar disusunnya suatu kurikulum pendidikan. Tentu setiap kurikulum memiliki pondasi sebagai dasar berdirinya kurikulum tersebut. Fungsi dasar atau pondasi memberikan arah tujuan yang akan dicapai serta sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu kurikulum pendidikan.

Hamalik berpendapat kurikulum sumbernya terdiri dari; pertama, kedudukan pengetahuan sebagai sumber diberikan kepada peserta didik hendaklah diserasikan bidang studi masing-masing, kedua, masyarakat juga bagian sumber dari kurikulum maka lembaga pendidikan sebagai sarana bagi masyarakat berfungsi untuk melanjutkan warisan tradisi budaya serta memberikan solusi pada masyarakat dalam perkembangannya. Dan ketiga, individu juga merupakan objek pendidikan maka sebagai sumber kurikulum disusun dengan tujuan untuk membantu perkembangan anak didik secara optimal, Mengenai asas-asas perkembangan kurikulum pendidikan agama Islam maka yang menjadi pondasi bagi perkembangannya pertama asas teologi yaitu landasan atau dasar yang menjadi tumpuan berfikir atau berpendapat dalam menyusun suatu rangkaian berdasarkan nilai-nilai ajaran agama.

yaitu:(1)Asas teologi Islam berarti landasan yang menjadi tumpuan adalah ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah.Dalam bahasa Yunani, kata “teologi” dibagi menjadi dua kata, yaitu “teologi” mengacu pada Tuhan, dan logika mengacu pada kata-kata atau kata-kata. Oleh karena itu, jika digabungkan secara singkat, makna teologi adalah segala ilmu yang berhubungan dengan Tuhan. Secara sastra, teologi berkaitan dengan teori dan penelitian, sedangkan dalam praktiknya berkaitan dengan doktrin atau doktrin agama tertentu.(2)Asas Filosofis yaitu landasan yang menjadi tumpuan dalam berfikir dan menyusun suatu rangkaian berdasarkan penyelidikan mengenai hakikat yang ada sebabnya, asal usulnya serta hukumnya sehingga ditemukannya suatu keputusan yang bijak. Manusia yang belajar filsafat menjadikan manusia tersebut mengerti dan bertindak secara bijak.

BACA :  Peningkatan Kreativitas Melukis Melalui Tekhnik Finger Painting di  Kelompok A TK DHARMA WANITA BESOWO 1 KECAMATAN KEPUNG KABUPATEN KEDIRI - Semester II Tahun Ajaran 2022/2023

Untuk menjadi manusia bijak sebagai manusia perlu adanya pengetahuan tentang itu melalui sistematika berfikir logis dan mendalam. Arti lain pemikiran tersebut dapat diartikan sebagai berfikir sampai ke akar-akarnya. (3)asas psikologi yaitu landasan yang menjadi tumpuan berfikir yang berdasarkan teori-teori psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku perilaku manusia serta keadaan latar belakang manusia. Bahwa kondisi psikologi merupakan sesemanusia sebagai individu dengan karakteristik psiko-fisik, yang dinyatakan dalam bentuk perilaku dan berbagai tindakan dalam interaksi dengan lingkungannya.Syafruddin Nurdin berpendapat, bahwa pada landasannya pendidikan memiliki unsur-unsur psikologi yang melatarbelakangi proses pendidikan. Proses pendidikan adalah suatu hal yang berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri serta mendidik berarti memberikan pembelajaran agar ada perubahan dari tingkah laku anak didik mencapai kedewasaannya.

(4)asas sosial-budaya yaitu landasan yang menjadi tumpuan berfikir yang berdasarkan kepentingan nilai-nilai masyarakat serta norma-norma tradisi yang melekat pada masyarakat. Sosial-budaya yang terdapat nilai-milai masyarakat bersumber dari manusia dengan karyanya melalui nalar akal budinya sehingga dalam melestarikan dan menyebarluaskannya. Pada pendidikan juga terdapat proses interaksi antara manusia sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Pada konteks ini peserta didik berada di fenomena budayanya, diharapkan siswa bisa dibina serta dikembangakan sinkron dengan nilai budayanya. Kebudayaan yang diharapkan siswa merupakan budaya yang positif memiliki efek baik bermanfaat bagi insan dan warga.

(5)asas ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu landasan yang menjadi tumpuan berfikir yang berdasarkan kumpulan gagasan atau penemuan yang sudah dilalui berbagai proses ilmiah sehingga menghasilkan suatu produk baik barang atau pedoman yang dapat menjadi sumber pengembangan ilmu lainnya serta sebagai alat yang memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Produk IPTEK beraneka ragam dan sifatnya dinamis, seiring berkembangnya zaman kemajuan IPTEK sangat mempengaruhi perannya dalam kehidupan manusia sehingga IPTEK berpengaruh sabagai landasan kurikulum pendidikan. Teknologi pada dasarnya merupakan peran hasil ilmu pengetahuan serta memiliki kedudukan yang sangat signifikan dalam perkembangan manusia. (satria kharibul, 2021)

karakteristik kurikulum pendidikan islami

Secara umum, karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan nilai-nilai Islami yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan yang termanifestasi dalam seluruh kegiatan pendidikan. Dalam konteks ini, harus dipahami bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam senantiasa memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dengan prinsip-prinsip yang telah diletakkan Allah swt. dan rasul-Nya, Muhammad saw. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.

ada lima ciri kurikulum pendidikan Islam, yaitu:(1)menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode- metode, alat-alat dan tekniknya bercorak ragam;(2)meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya. Maksudnya, kurikulum harus betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran, dan ajaran yang menyeluruh. Di samping itu, kurikulum memilik perhatian yang luas, yaitu memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek kepribadian peserta didik dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual;(3)menyeimbangkan berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu, mnyeimbangkan antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan sosial(4) menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik (5)menyesuaikan minat dan bakat peserta didik.

Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi Suhardi, Kurikulum dalam Pendidikan Islam

Foto Dokumentasi Suhardi, Kurikulum dalam Pendidikan Islam.

Karakteristik kurikulum sebagai program pendidikan Islam sebagaimana yang dikemukakan di atas, selanjutnya tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai objek didik, melainkan juga sebagai subjek didik yang sedang mengembangkan diri menuju kedewasaan sesuai dengan konsep Islam. Oleh karena itu, kurikulum tidak akan bermakna apabila tidak dilaksanakan dalam suatu situasi dan kondisi yang dapat menciptakan interaksi edukatif timbal-balik antarpendidik di satu sisi, dan antarpeserta didik di sisi lain. Di sini, terlihat ciri khas kurikulum pendidikan Islam yang memandang peserta didik sebagai makhluk potensial yang dapat mengembangkan dirinya sendiri melalui berbagai aktivitas kependidikan. Pendidik dan seluruh komponen kependidikan lainnya, termasuk kurikulum, hanya merupakan media atau sarana yang harus menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses pengembangan totalitas potensi yang dimiliki peserta didik menuju kesempurnaannya secara optimal. Al-Shaybânî (1979:489-512).

Sebelum menyusun dan menentukan suatu kurikulum, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan, yaitu (1) mata pelajaran yang diberikan dapat berpengaruh terhadap pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa peserta didik; (2) mata pelajaran yang diberikan dapat memberikan petunjuk serta tuntunan untuk menjalani hidup dengan mulia; (3) mata pelajaran sebaiknya secara langsung dapat memberikan manfaat bagi peserta didik di dalam hidupnya; (4) mata pelajaran hendaknya mencerminkan pendidikan kejiwaan yang sesuai dengan bakat dan keinginan anak; dan (5) mata pelajaran hendaknya dapat menjadi alat pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain Al-Abrâsi, (1984:173-174). 

Sehubungan dengan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sebagai inti dari ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang dapat memotivasi peserta didik untuk berakhlak atau berbudi pekerti luhur, baik terhadap Tuhan, terhadap diri maupun terhadap lingkungan sekitarnya.Kurikulum pendidikan Islam berkaitan erat dengan kesediaan, minat, keterampilan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan pelajar sehingga peserta didik tidak mempelajari sesuatu kecuali kalau ia merasa berminat, ingin, bersedia dan butuh padanya, dan juga merasakan manfaatnya pada masa sekarang dan masa depan hidupnya di dunia dan di akhirat.

Imam Al-Ghazali adalah salah seorang di antara pendidik- pendidik Islam yang sangat tertekan dengan pengkajian terhadap psikologi pelajar Ia memberikan perhatian akan perlunya menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan perseorangan di kalangan peserta didik. Beliau menasihatkan guru, misalnya, di berbagai bagian pada jilid pertama dalam. bukunya Ihya’ ‘Ulûm al-Din, agar supaya hanya mengajarkan kepada seseorang mengikut kadar pemhamannya, dan janganlah mengajarkan kepadanya sesuatu yang belum terjangkau oleh akalnya, agar jangan ia lari atau ia merusak akalnya sendiri. Begitu juga harus disuguhkan ilmu yang sesuai dengan umurnya. Dan janganlah disebutkan dia bahwa di balik ini masih ada perkara-perkara yang disembuhkannya, sebab itu akan mematahkan seleranya, meragukan hatinya dan memberi kesan seakan-akan guru itu bakhil akan ilmunya

Kurikulum dalam pendidikan Islam berkaitan dengan alam sekitar dan masyarakat tempat pelajar itu hidup dan berinteraksi serta tempat kurikulum itu dilaksanakan. Proses pendidikan keseluruhannya tidak dipersiapkan sebagai proses interaksi antara naluri dan alam sekitar, dan bahwa lembaga pendidikan pertama sekali adalah lembaga sosial dan alam sekitar sosial dibimbing oleh falsafah dan tujuan tujuan masyarakat.

Sistem pendidikan Islam menuntut pengkajian kurikulum yang Islami, tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti itu hanya mungkin apabila mengacu pada dasar pemikiran yang Islami pula, serta bertolak dan pandangan hidup serta pandangan tentang manusia (Pandangan Atropologis). Serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah Islami.

Adurrahman An-Nahlawi menjelaskan bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam antara lain yaitu: (1) Kurikulum harus sesuai dengan fitrah manusia karena memang salah satu fungsi pendidikan adalah untuk menyelamatkan fitrah agar fitrah anak tetap salimah. (2)Kurikulum yang disusun hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan Islam yaitu terwujudnya manusia berkepribadian muslim. (3)Pentahapan serta pengkhususan kurikulum harus memperhatikan periodisasi perkembangan peserta didik dengan ciri khasnya masingmasing seperti berdasar usia, lingkungan, kebutuhan, jenis kelamin, dan sebagainya. (4)Penyusunan kurikulum disamping harus memperhatikan kebutuhan individu juga harus mempertimbangkan kebutuhan umat Islam secara kolektif atau keseluruhan. Intinya kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan ilmu-ilmu yang bersifat wajib.(5)Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum tidak bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan dan harus mengarah pada pola hidup yang Islami.

BACA : UNIKU Kelompok 40 Siap Menyapa Desa Karanganyar dalam Kegiatan KKN

Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang sealistik artinya dapat melaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi serta batas kemungkinan yang terdapat pada lingkungan yang melaksanakan Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang komprehensif yang artinya mencakup seluruh aspek pengembangan jasmani, akal dan rohani yaitu(1)Kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang dibangun di atas prinsip kontinuitas yang memiliki arti bahwa masing-masing bagian kurikulum itu saling berkesinambungan baik secara vertical maupun horizontal.(2)Seharusnya kurikulum itu sangat berhasil sikap kurikulum tersebut dengan membuahkan hasil terhadap tingkah laku dan pemikiran positif yang terdapat didalam jiwa generasi muda, dan diperlukannya pemanfaatan metode pendidikan sehinagga melahirkan berbagai kegiatan yang Islami.

(3)Kurikulum itu hendaknya tingkat perkembangan siswa yang bersangkutan, misalnya bagi suatu fase perkembangan peserta didik yang bersangkutan dengan dengan menyeimbangkan dengan pola kehidupan dan tahap perkembangan keagamaan dan pertumbuhhan bahasa.(4)Hendaknya kurikulum memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amaliah islami, seperti pendidikan untuk berjihad dan menyebarkan dakwah islamiyah, serta membangun masyarakat muslim dilingkungan selingkuhan. Dapat kita simpulkan mengenai karakteristik kurikulum pendidikan Islam diatas bahwa kurikulum yang akan dikembangkan seharusnya melihat aspek-aspek tingkah laku, harus menyesuaikan dengan fitrah manusia, kita juga harus memperhatikan perkembanga peserta didik dengan begitu kurikulum kurikulum harus tetap memperhatikan berbagai kepentingan umat sesuai dengan kondisi dan lingkungannya yang dilimpahkan Allah SWT. (Yudi, 2020:24).

Berita Terkait

MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DENGAN KEGIATAN KOLASE MENGGUNAKAN MEDIA DAUN KERING PADA ANAK TK AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN
Pencegahan Penularan Virus Covid-19 Dengan Mengoptimalisasi Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Tk Islam Al Huda Krikilan – Masaran – Sragen
SOLUSI CERDAS DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA DENGAN PENGADAAN PERPUSTAKAAN KELILING PADA ANAK TK ISLAM AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN  
Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?
6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran
Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab
Mengakhiri Konflik Lady Shop dan Pedagang Tradisional Gedung Karya Jitu Tulang Bawang
Gelar Pelatihan Dan Sertifikasi CIJ AR Learning Secara Daring
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 07:41 WIB

MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DENGAN KEGIATAN KOLASE MENGGUNAKAN MEDIA DAUN KERING PADA ANAK TK AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN

Rabu, 17 April 2024 - 19:19 WIB

Pencegahan Penularan Virus Covid-19 Dengan Mengoptimalisasi Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Tk Islam Al Huda Krikilan – Masaran – Sragen

Rabu, 17 April 2024 - 19:07 WIB

SOLUSI CERDAS DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA DENGAN PENGADAAN PERPUSTAKAAN KELILING PADA ANAK TK ISLAM AL HUDA KRIKILAN – MASARAN – SRAGEN  

Rabu, 17 April 2024 - 12:00 WIB

Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?

Senin, 15 April 2024 - 06:14 WIB

6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran

Rabu, 10 April 2024 - 12:52 WIB

Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab

Selasa, 26 Maret 2024 - 17:57 WIB

Mengakhiri Konflik Lady Shop dan Pedagang Tradisional Gedung Karya Jitu Tulang Bawang

Selasa, 26 Maret 2024 - 10:28 WIB

Gelar Pelatihan Dan Sertifikasi CIJ AR Learning Secara Daring

Berita Terbaru