banner 728x250

Kemarau Dan Solusinya

Markhaban Siswanto (Dosen Sumber Daya Air Undar Jombang)

markhaban Kemarau Dan Solusinya Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama
banner 120x600
145 Kali Dibaca

SUARA UTAMA, Jombang. Air adalah sumber daya alam yang harus dijaga dan dipelihara… bagaimana bila air habis ?

Wilayah Kabupaten Jombang mempunyai letak geografi antara : 5.20° – 5.30° Bujur Timur dan antara :7.20′ dan 7.45′ lintang selatan dengan luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4 % luas Propinsi Jawa Timur.

Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 – 2500 mm pertahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.

Kabupaten Jombang adalah termasuk yang mempunyai iklim tropis, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Smidt dan Ferguson termasuk tipe iklim D. Dimana tipe ini biasanya musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai April dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.

Pada musim kemarau tahun 2023 belasan embung atau penampung air hujan, yang berfungsi sebagai sumber sarana pengairan irigasi pertanian di Kabupaten Jombang, mulai kering. Air embung yang biasanya bisa dipakai petani, kini tak bisa lagi karena debit air menyusut.

14 embung yang alami kekeringan ini rata rata berada di wilayah Utara Kabupaten Jombang. Salah satu air embung yang mengalami penyusutan, yakni embung Brumbung, Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh.

Debit air embung yang selalu di fungsikan sebagai irigasi area pertanian ini, kini semakin menyusut. Bahkan, sebagian besar embung, sudah mulai mengering hingga dasar embung terlihat pecah-pecah.

Tak hanya embung Brumbung, Air Waduk Grojokan yang ada di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan juga mengalami hal yang sama. Kondisi ini terjadi sejak bulan Mei lalu dan membuat para petani sekitar desa kesulitan untuk mendapatkan air. Sebagaimana turut Supriyanto, salah satu kepala Bumdes setempat.

“ Masyarakat disini, menggunakan air PAM dari sumber  Waduk Grojokan, lha kalau sumbernya kering ya…. air-air yang mengalir ke rumah tangga juga terganggu ini terasa  akhir Mei debit yang tersedia sangat kurang dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga… apalagi sawah… waduh sulit sekali, karena menyusut dan kering. Ada pun itu ditengah sana. Kalau ambil air itu harus pakai mesin diesel yang membutuhkan biaya lagi,”, tutut supriyanto , Jumat 18 Agustus 2023 kemarin.

Di Jombang total embung ada 17. Dari keseluruhan jumlah itu 24 embung berada di area Utara Jombang dan 3 embung lagi di wilayah selatan.

Kepala bidang (Kabid) sumber daya air (SDA) Dinas PUPR Kabupaten Jombang Sultoni mengatakan, saat ini debit air di embung yang ada di utara Brantas berkurang lantaran embung tersebut merupakan penampung air hujan. Pada musim kemarau, otomatis debit air sangat berkurang siknifikan.

“Kondisi terkini secara umum embung tersebut sangat berkurang debit airnya. Karena secara tampungan hanya menampung (air) dari daerah sekitar dan bukan dari sungai,” bebernya.

Kata Sultoni, dari 17 embung secara umum dipergunakan untuk keperluan irigasi kebutuhan air pertanian. Dampaknya, kalau dihitung ada luas lahan pertania sekitar 1.300 hektar yang menggantungkan air dari embung tersebut.

“Kalau di hitung berdasarkan sebaran kecamatan itu ada di wilayah kecamatan Plandaan, Kabuh, Ngusikan dan Kudu,” tututnya.

Kondisi DAS di WS Brantas yang telah banyak mengalami kerusakan dan penurunan fungsi, banyak dijumpai di DAS Brantas, khususnya di sub DAS Brantas Hulu, sub DAS Lekso, sub DAS Konto Hulu dan sub DAS Brangkal. Karena kondisinya yang sangat parah, keempat sub DAS tersebut telah ditetapkan sebagai target area untuk pelaksanaan Rencana Induk Konservasi DAS berdasarkan Studi Water Resources Existing Facilities Rehabilitation and Capacity Improvement Project (WREFR & CIP, Tahun 2005).

Solusi kekeringan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jombang selama ini adalah menyalurkan bantuan air bersih ke desa- desa yang peceklik air. Pengiriman bantuan air bersih ini dipimpin secara langsung oleh Bupati Jombang, Mundjidah Wahab. Bupati juga didampingi oleh Wakilnya, Sumrambah serta sejumah pejabat di lingkup Pemkab setempat.

Ada dua tangki air yang sengaja dikirim untuk memenuhi kebutuhan air bersiu warga di dua Desa tersebut. Dalam kesempatan itu, Mundjidah Wahab memastikan ada solusi jangka panjang untuk menyelesaikan permasalahan krisis air bersih akibat kemarau panjang dan faktor geografis di wilayah tersebut. Yakni dengan pengeboran dan pengadaan pompa air.

“Kita sudah punya solusi, (penyaluran air bersih) ini hanya sementara aja. Solusi kita, nanti tetap kita bantu sumur pompa air dalam,” ujar Munjidah.

Munjidah merinci, ada tujuh desa di Kabupaten Jombang yang mengalami krisis l air bersih akibat musim kemarau panjang tahun ini. Termasuk diantaranya, Desa Kedungjati dan Desa Marmoyo yang berada di Kecamatan Kabuh.

“Kalau biasanya mengambil air secara manual, pakai jerigen, pemerintah sudah membantu dengan pipa, nanti bisa mengairi 900 warga,” tambahnya .

Sementara, salah seorang warga Desa Kedungjati, yang memanfaatkan bantuan air bersih, Semi (53), mengaku senang dengan bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang tersebut. Diapun berharap ada solusi permanen yang bersifat jangka panjang yang bisa mengatasi permasalahan kekeringan dan krisis air bersiu saat musim kemarau.

“Tiap tahun seperti ini. Biasanya ngambil dari sumur, masih ada airnya tapi ya gantian (ngantri) gitu pak.  ya supaya diadakan sumur (pompa) supaya tidak ke sana ke mari (cari air),” pungkasnya.

Menurut penulis untuk mengatasi kekurangan air di masyarakat kabupten Jombang degan kondisi iklim dan geografis di atas memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Mungin  beberapa langkah yang dapat diambil oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama adalah:

  1. Konservasi Air: Edukasi masyarakat tentang pentingnya penghematan air dan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi pemborosan, seperti memperbaiki keran yang bocor, menggunakan alat penghemat air, dan menghindari pemborosan saat mencuci atau memasak.
  2. Pengelolaan Sumber Air: Melindungi dan menjaga sumber air alami, seperti sungai, danau, dan mata air, dari polusi dan kerusakan lingkungan. Ini dapat dilakukan melalui regulasi ketat, pengawasan, dan kampanye kesadaran lingkungan.
  3. Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi: Membangun dan memperbaiki infrastruktur air bersih dan sanitasi yang efisien dan andal di daerah-daerah yang membutuhkan. Ini termasuk pengeboran sumur, pembangunan sistem air bersih, dan sanitasi yang memadai.
  4. Pengolahan Air Limbah: Mengelola air limbah domestik dan industri dengan benar melalui sistem pengolahan limbah yang tepat. Ini membantu mencegah pencemaran air dan menjaga kualitas sumber air.
  5. Penggunaan Teknologi Tepat: Menggunakan teknologi terbaru dalam pengumpulan, penyimpanan, dan distribusi air untuk meningkatkan efisiensi.
  6. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan air yang berkelanjutan dan memberikan informasi tentang cara mengurangi pemborosan air.
  7. Pengelolaan Irigasi yang Efisien: Dalam konteks pertanian, menerapkan sistem irigasi yang canggih dan efisien untuk mengoptimalkan penggunaan air dalam produksi tanaman.
  8. Kebijakan dan Peraturan: Menerapkan regulasi yang mendukung pengelolaan air yang berkelanjutan, seperti pengaturan penggunaan air oleh industri dan pertanian, dan hukuman bagi pelanggar.
  9. Kolaborasi dan Kemitraan: Melibatkan pemerintah, lembaga non-pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dalam upaya mengatasi kekurangan air dengan menggabungkan sumber daya dan pengetahuan.
  10. Pemantauan dan Evaluasi: Mengawasi pengelolaan air secara berkala untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas solusi yang diimplementasikan.

Tidak ada pendekatan tunggal yang cocok untuk semua situasi, karena setiap wilayah walaupun dalam satu daerah memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, kombinasi dari beberapa langkah di atas seringkali diperlukan untuk mengatasi kekurangan air dengan efektif.

banner 468x60
Penulis: Markhaban Siswanto (dosen SDA Undar jombang)Editor: Khoiruddin Anas
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90