banner 728x250

Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap

Kajian Bulan Ramadhan 1444H

Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap. Foto/Gambar; Mas Andre Hariyanto (SUARA UTAMA)
Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap. Foto/Gambar; Mas Andre Hariyanto (SUARA UTAMA)
banner 120x600
469 Kali Dibaca

Penulis Oleh: Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: 185. Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

BACA JUGA : Sambut Khataman Quran dan Nuzulul Quran, RT 08 Pucanganom Ajak Warga Merapat di Masjid Wahyun Asror Dua

Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Masjid Wahyun Asror Dua Yogyakarta. Foto/Gambar: Mas Andre H & Fikri (SUARA UTAMA)
Masjid Wahyun Asror Dua Yogyakarta. Foto/Gambar: Mas Andre H & Fikri (SUARA UTAMA)

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah SWT atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 185)
Selayang pandang bulan Ramadan menurut para mufasir.

Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap

BACA JUGA : Redaksi Suara Utama Kembali Buka Kesempatan Bergabung Menjadi Jurnalis

– Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah disebutkan bahwa surah Al-Baqarah ayat 185: Allah mengabarkan bahwasannya bulan ramadan adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an.

– Imam Ath-Thabari menyebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari, “kata ramadan sebagian ahli balaghah menyatakan bahwa dinamakan demikian karena begitu menyengat panasnya di bulan itu, hingga bayi pun merasa kepanasan”
– Imam Ibnu Katsir memaparkan, “Allah SWT memuji bulan Ramadan di antara bulan-bulan lainnya.

Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama
Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama

Yaitu dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an Al Azhim”
Lafaz terakhir dari ayat diatas adalah ditutup dengan “la’allakum tasykurun” di mana dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa apabila telah menegakkan perintah-perintah Allah dengan menunaikan ketaatan maupun kewajiban-kewajiban.

Serta meninggalkan yang haram dan menjaga batas-batas agama, maka semoga termasuk menjadi golongan orang yang bersyukur
Nilai-Nilai Pendidikan

Pertama : Mendidik menjadi insan yang bertakwa dan bertanggungjawab atas syariat Allah.

Kedua : Senantiasa mengajarkan kita agar dekat dengan Al-Qur’an dan senantiasa mentadabburinya agar hati tenang dan tentram.

Ketiga : Mendidik menjadi seorang yang disiplin, menjaga amarah, pandangan, dan menyembuhkan dari segala penyakit hati yang membahayakan.

Keempat : Menjadi insan yang bersyukur dan pandai membagi waktu serta taat kepada Allah.
Makna Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an merujuk pada peristiwa diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Nuzulul Qur’an terdiri dari 2 kata yaitu Nuzul dan Al-Qur’an.

– Nuzul berarti bergeraknya sesuatu dari suatu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

– Sedangkan Al-Qur’an, menurut istilah para ulama, ialah kalam Allah yang menjadi mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. pada 17 Ramadan dengan lafaz dan maknanya lewat perantaraan malaikat Jibril.

Malam turunnya Al-Qur’an itu disebut dengan lailatul qadar

Pendapat yang mengatakan Al-Qur’an diturunkan pada malam 17 Ramadan didasarkan pada hadis berikut:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : مَا أَشُكُّ وَلاَ أَمْتَرِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ

Dari Zaid bin Arqam radhiyallahuanhu berkata, ”Aku tidak ragu bahwa malam 17 Ramadan adalah malam turunnya Al-Quran.” (HR. Ath-Thabarani dan Abu Syaibah)

Tujuan Utama Memperingati Nuzulul Qur’an
Al-Qur’an pun diturunkan bukan untuk diperingati setiap tahunnya.

Namun tujuan utama adalah Al-Qur’an tersebut dibaca dan direnungkan maknanya agar menjadi penerang hidup dalam kegelapan dan menjadikan hati bersih dari berbagai kotoran hati. Allah Ta’ala berfirman,

الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

1. Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.(QS. Ibrahim : 1).

Peristiwa Nuzulquran telah menguatkan hati Rasulullah dan para sahabat untuk berjuang dan berdakwah dalam menyiarkan agama islam kepada suluruh umat manusia walaupun perjuangan tersebut tidak mudah karena Rasulullah dan para sahabat banyak mendapatkan cemoohan, ejekan serta hinaan dari para kaum pembenci islam.

Nuzulquran menjadi peristiwa yang sangat penting karena Allah SWT Menurunkan Wahyu berupa Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan petunjuk hidup bagi seluruh umat islam di dunia.

Allah berfirman :
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ
257.

Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.

Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 257)

Hati : Syekh Ali Baras di dalam Syarah Al-Hikam-nya mengibaratkan hati dan batin laksana bumi yang dapat tumbuh dan hidup, dan juga dapat kering atau mati serta terang dan gelap.

Sedangkan air kehidupan yang turun dari langit adalah makrifat dan keimanan yang akan menghidupi bumi tersebut. Hati yang mati, kering, dan gelap tidak akan merasakan apapun.

Hati yang mati, kering, dan gelap tidak memiliki sensitivitas spiritual. Ia tidak akan merasakan manis, pahit, asamnya spiritualitas sehingga hatinya tidak merasakan kelezatan ibadah dan kepedihan atas kesempatan ibadah yang luput.

Imam Ibnu Athaillah dalam Matan Al-Hikam-nya menyebut semua itu sebagai tanda kematian hati: “Salah satu kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kehilafan yang pernah dilakukan.”

Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari RA meriwayatkan sebuah hadis Nabi Muhammad saw perilah perbedaan orang yang hatinya hidup, segar, dan terang; dan orang yang hatinya mati, kering, dan gelap.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang merasa senang oleh kebaikannya dan merasa susah oleh keburukannya, maka ia adalah orang yang beriman.” (HR At-Thabarani).

Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA menjelaskan bahwa orang yang hatinya mati, kering, dan gelap akan menganggap remeh dosa, kesalahan, dan kekhilafannya. Karena itu, penyesalan atas dosa dan kesalahan tidak akan pernah hinggap pada orang yang hatinya mati, kering, dan gelap.

Nuzulquran adalah moment untuk kembali Alhamdulillah kita berada di bulan madrasah amal perbuatan. Ada hal luar biasa salah satunya malam nuzululquran untuk kita kembali kepada Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu obat bagi penyakit dalam dada. Allah berfirman :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
57.

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Yunus : 57) Allah mengingatkan kepada manusia ketika mereka jauh dari Al-Qur’an tidak mau memperhatikan Al-Qur’an maka hati mereka dapat terkunci.
Allah berfirman :
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
24.

Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?(QS. Muhammad : 24)

Hati yang terkunci, menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Kitab Miftah Daris Sa’adah, tak sekadar menutup masuknya ilmu dan kebaikan dari luar, namun juga bisa membuat ilmu yang berada di dalamnya menjadi gelap. Bekasnya pun mungkin sudah tak ada. Akibatnya, apa-apa yang seharusnya membuat seseorang mendapat petunjuk kebenaran, justru menjadi sebab kesesatan.

Allah juga berfirman :
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
29. Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (QS. Sad : 29)

Syaikh as-Sa’dîy –rahimahullah– berkata:
“Maksudnya adalah hati yang tidak bisa luluh lembut dengan Al-Qur’an, tidak bisa mengambil peringatan dari ayat-ayat Allah, dialah hati yang tidak bisa tenang dengan dzikir kepada Allah, bahkan dia adalah hati yang berpaling dari tuhannya kepada selainNya. Merekalah yang mendapat ancaman kecelakaan yang parah dan keburukan yang besar”
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (qalb)” (HR: Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad menjelaskan bahwa terdapat empat penyebab gelapnya hati manusia. Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah berkata:
أَرْبَعَةٌ مِنْ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ بَطْنٌ شَبْعَانٌ مِنْ غَيْرِ مُبَالَاةٍ وَ صُحْبَةُ الظَّالِمِيْنَ وَ نِسْيَانُ الذُّنُوْبِ الْمَاضِيَةِ وَ طُوْلُ الْأَمَلِ

“Empat yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu: perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orag dzalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan panjang angan-angan.

Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap. Foto/Gambar; Mas Andre Hariyanto (SUARA UTAMA)
Surah Albaqarah ayat 185: Makna Nuzulul Quran sebagai Pembuka Hati yang Gelap. Foto/Gambar; Mas Andre Hariyanto (SUARA UTAMA)
banner 468x60
banner 468x60

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90