banner 728x250

Inovasi Monopoli – Sebagai Alternatif Pembelajaran Anak Usia Dini di Abad 21

Artikel Ilmiah yang sudah di terbitkan dan Ber ISBN

banner 120x600
1,560 Kali Dibaca

SUARA UTAMA – Inovasi Monopoli – Sebagai Alternatif Pembelajaran Anak Usia Dini di Abad 21

Oleh :  Yuli Fitriya, S.PdFLYER Paud dan Pembelajaran Inovatif pada Era Abad 21 scaled Inovasi Monopoli - Sebagai Alternatif Pembelajaran Anak Usia Dini di Abad 21 Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

A.   Pendahuluan

Abad XXI adalah abad industri yang menyuguhkan teknologi informasi yang semakin canggih. Kemajuan tersebut menuntut dukungan budaya baca tulis, yaitu perwujudan perilaku yang mencukupi kemampuan, kebiasaan, kegemaran, dan kebutuhan baca tulis. Namun, budaya tersebut sampai penggal pertama dekade terakhir abad ke-20 belum berkembang di masyarakat Indonesia. Banyak penelitian mutakhir membuktikan bahwa anak dapat diajar membaca sebelum dia mencapai usia sekolah..

Menurut Durkin yang telah mengadakan penelitian tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negative pada anak-anak dari membaca dini. Anak-anak yang telah diajar membaca sebelum masuk SD pada umumnya lebih maju di sekolah dari anak-anak yang belum pernah memperoleh membaca dini. Ahli lain yaitu steinberg telah berhasil dalam eksperimennya tentang mengajar membaca dini untuk anak-anak berusia antara 1-4 tahun. Dia juga menemukan bahwa anak-anak yang telah mendapat  pelajaran membaca dini pada umumnya lebih maju di sekolah. (Yarmi dan Dhieni, 2011).

Pada kenyataannya, anak-anak yang telah mengalami belajar di kelompok bermain dan yang belum pernah belajar di kelompok bermain terdapat perbedaan perkembangan dalam mengenal symbol-simbol huruf. Hal itu terjadi karena anak yang telah masuk ke dalam kelas kelompok bermain, dia akan sering berlatih mengenal symbol-simbol huruf apalagi jika orang tuanya juga aktif mnegenalkan berbagai macam huruf. Sebaliknya anak yang tidak mengalami kelas kelompok bermain atau orang tua yang tidak aktif mengenalkan huruf di usia 3-4 tahun, maka anak akan mengalami kesulitan dalam mengenal symbol huruf.

Berpegang pada Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (PERMENDIKBUD) Republik Indonesia Nomor 137, bahwa Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) usia 4-5 Tahun dalam lingkup perkembangan Keaksaraan, meliputi: (1) mengenal simbol-simbol, (2) mengenal suara-suara hewan/benda di sekitarnya, (3) membuat coretan yang bermakna, (4) meniru (menuliskan dan mengucapkan) huruf A-Z sehingga dapat diartikan bahwa kemampuan mengenal huruf itu sangat penting.

 

B.    Definisi Media  Monopoli Huruf

Secara harfiah media berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran pada dasarnya merupakan wahana dari pesan yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima pesan (anak). Pesan yang disampaikan adalah isi pembelajaran dalam bentuk tema/topic pembelajaran dengan tujuan agar terjadi proses belajar pada diri anak. Media Monopoli huruf adalah media yang terdiri dari papan/lembaran yang berisi huruf dan gambar.  Penggunaannya digabungkan dengan dadu  dan kepingan huruf serta dimainkan hampir seperti mainan monopoli. Monopoli  adalah  salah satu permainan papan yang paling terkenal di dunia. Tujuan permainan ini untuk menguasai semua petak di atas papan melalui pembelian, penyewaan dan pertukaran property dalam sistem ekonomi yang disederhanakan. (Wikipedia.org-permainan) Media Monopoli huruf ini merupakan kreasi dari penulis yang memanfaatkan bahan bekas kalender yang dimodifikasi dengan tujuan agar anak menguasai huruf-huruf yang ada dipetak untuk meningkatkan membacanya di tahap permulaan dalam bentuk permainan.

Adapun bentuk dari media monopoli huruf dapat dilihat pada gambar  di bawah ini :

Gambar 2. 1 Media Monopoli Huruf

 

C.   Teori Permainan Monopoli Huruf

Menurut Suparman dan Agustini, (2017) Salah satu karakteristik belajar anak TK, yakni anak belajar melalui bermain secara professional. Bermain membantu mengembangkan berbagai potensi anak, melalui bermain anak diajak bereksplorasi, dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Sedangkan menurut Masitoh, dkk (2011) anak belajar melalui bermain dimana pada intinya bermain adalah suatu kegiatan yang bersifat volunter, spontan, terfokus pada proses, memberi ganjaran secara intrinsik, menyenangkan, aktif dan fleksibel. Dari uraian di atas sudah sepatutnya pembelajaran anak-anak dilakukan dengan cara bermain sehingga anak merasa senang, tidak tertekan dalam belajar  dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Kelebihan bermain monopoli huruf, yaitu anak bisa mengenal symbol huruf bahkan membaca kata dalam tahap permulaan. Ada lagi kelebihan yang terdapat bermian monopoli huruf, diantaranya: media permianan mudah di dapat, murni bermain, anak tidak jenuh,  bermain dan media multi guna. Kemampuan membaca seseorang melalui beberapa proses. Proses yang paling dasar dalam membaca yakni mengenal huruf atau aksara. Menurut Dhieni, dkk (2011) Membaca adalah tindakan menyesuaikan kata dengan simbol-simbol verbal yang tertulis/tercetak.  Sedangkan kegiatan membaca mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Proses yang dialami dalam membaca adalah berupa penyajian kembali dan penafsiran suatu kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frase, kalimat, dan wacana serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca terkait dengan : (1) pengenalan huruf atau aksara, (2) bunyi dari huruf dan rangkaian huruf-huruf, (3) makna atau maksud, dan (4) pemahaman terhadap makna atau maksud berdasarkan konteks wacana. Adapun dalam kegiatan bermain mengenal huruf dan kata pada contoh kartu  di bawah ini:

Gambar 2. 2 Contoh Kartu monopoli Huruf

Dari sini bisa tergambar, jika anak mendapatkan satu huruf, maka dia akan  mengenal kata yang ada di bagian belakang. Kartu huruf dipadu dengan  papan monopoli, dadu dan bidak untuk bermain.

Cara membuat monopoli huruf, adalah :

  1. Siapkan kalender dinding bekas yang kertasnya agak tebal
  2. Formatlah kotak-kotak pada tepi kalender hingga menjadi 26 kotak yang nanti ditempeli gambar yang mewakili huruf a sampai
  3. Siapkan dadu dari kardus kecil atau yang lain yang dibungkus dengan kertas dan diberi mata dadu 1 sampai 6.
  4. Siapkan bidak sebagai wakil pemain dalam melakukan perjalanan di papan monopoli huruf.

 

D.   Desain Permainan Monopoli Huruf

Dalam suatu permainan,  pasti terdapat aturan  yang harus disepakati bersama. Begitu pula dengan monopoli huruf ini. Mengacu pada kurikulum 2013 pelaksanaan pembelajaran di terapkan melalui kegiatan pembukaan, kegiatan Inti, Kegiatan Penutup. Adapun implikasi penerapan permainan monopoli huruf adalah sebagai berikut :

  1. Kegaitan pembukaan : kegiatan pengembangan menyanyikan lagu “Huruf Alpabet”
  2. Kegaitan Inti : lebih banyak pada bermain monopoli huruf
  3. Cara bermain: jumlah perserta minimal 3 anak. 1 anak menjadi penjaga bank huruf dan 2 anak bermain. Dadu dilempar lalu dihitung berapa jumlah pentol merah yang tampak di atas. Kemudian anak menjalankan bidaknya di atas petak huruf secara urut sepanjang jumlah pentol yang diperoleh. Selanjutnya anak menyebutkan huruf yang ditempati bidaknya lalu meminta kepingan huruf yang sama dengan yang ditempati bidaknya di bank huruf untuk dikumpulkan. Jika bidak menempati huruf  kunci, maka berhak mendapatkan reward tambahan sebanyak huruf yang ada pada kata di balik kepingan huruf kunci dari bank huruf. Adapun huruf kuncinya yaitu  ( a,i, u, e, o). Selesai bermain, anak menyebutkan huruf yang diperoleh dan membaca kata di  kartu huruf.
  4. Kegiatan penutup : penguatan konsep huruf dan kata hari ini

Adapun implikasinya pada pembelajaran abad 21, yakni: jelaskan cara/aturan bermainnya menggunakan teknologi modern seperti PPT atau video. Menurut Sutrisno (2011), perkembangan teknologi perangkat komputer beserta koneksinya di era globalisasi ini akan mampu menghantarkan peserta didik belajar secara cepat dan akurat, apabila dapat dimanfaatkan secara benar dan tepat. Untuk itu dibutuhkan sumber daya manusia yang tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mengapa demikian? Hal ini karena pengembangan pembelajaran berbasis TIK akan memiliki banyak keunggulan, diantaranya yaitu: bahan materi pelajaran menjadi lebih mudah diakses dari manapun, lebih menarik, lebih murah biayanya, dan lebih menghemat waktu belajar peserta didik (Alessi dan Trollip, 2001).

Dengan kemasan pembelajaran yang demikian, diharapkan anak sudah bisa maenganalisa terlebih dahulu tentang cara bermainnya sehingga merangsang anak untuk berfikir tingkat tinggi.

Kartu Huruf  dalam permainan Monopoli Huruf

Gambar 2. 3 Kartu monopoli Huruf  a

Gambar 2. 4 Kartu monopoli Huruf  b

 

Gambar 2. 5 Kartu monopoli Huruf  c

 

Gambar 2. 6 Kartu monopoli Huruf  d

Gambar 2. 7 Kartu monopoli Huruf  e

 

Gambar 2. 8 Kartu monopoli Huruf  f

 

Gambar 2. 9 Kartu monopoli Huruf   g

Gambar 2. 10 Kartu monopoli Huruf  h

 

Gambar 2. 11 Kartu monopoli Huruf  i

 

Gambar 2. 12 Kartu monopoli Huruf  j

Gambar 2. 13 Kartu monopoli Huruf  k

 

Gambar 2. 14 Kartu monopoli Huruf  l

 

Gambar 2. 15 Kartu monopoli Huruf  m

Gambar 2. 16 Kartu monopoli Huruf  n

 

Gambar 2. 17 Kartu monopoli Huruf  o

 

Gambar 2. 18 Kartu monopoli Huruf  p

Gambar 2. 19 Kartu monopoli Huruf  q

 

Gambar 2. 20 Kartu monopoli Huruf  r

 

Gambar 2. 21 Kartu monopoli Huruf  s

Gambar 2. 22 Kartu monopoli Huruf  t

 

Gambar 2. 23 Kartu monopoli Huruf U

 

Gambar 2. 24 Kartu monopoli Huruf V

Gambar 2. 25 Kartu monopoli Huruf  W

 

Gambar 2. 26 Kartu monopoli Huruf  X

 

Gambar 2. 27 Kartu monopoli Huruf  Y

Gambar 2. 28 Kartu monopoli Huruf  Z

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. (2011). Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Eiyawati, Cucu  (2011). Media dan Sumber Belajar TK. Jakarta : Universitas Terbuka

Iskandar,Beni dan Rahmat hidayat (2017). Modul pengembangan keprofesian Berkelanjutan Kompetensi I. PPPPTK dan PLB Bandung.

Masitoh, dkk. 2011. Strategi Pembelajaran TK. Jakarta Universitas Terbuka

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI. (2014) Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 146 : Jakarta

Muhtadi, Ali (2019) Pembelajarn inovatif . Jakarta.

Suparman, Eman dan Dewi Agustini (2017). Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kompetensi B. PPPPTK TK Dan PLB Bandung

https://www.google.com/search?q=permainan+monopoli&oq=permainan+monopoli&aqs=chrome..69i57j35i39j0i512l8.12806j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8

.

banner 468x60
Penulis: Yuli Fitriya, S.Pd.,Gr.Editor: Mohamad Anggi Samukroni, S.Pd.,Gr.
banner 468x60

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90