banner 728x250

Hati-Hati dengan “Sejuta Mulut” Calon Pemimpin Saat Ini

Hati-Hati dengan "Sejuta Mulut" Calon Pemimpin Saat Ini

IMG 20230103 WA0011 Hati-Hati dengan "Sejuta Mulut" Calon Pemimpin Saat Ini Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama
banner 120x600
319 Kali Dibaca

SUARA UTAMA, CIREBON – Demokrasi dan demokrasi yang selalu menggaung pada telinga kita sudah tentu itu oleh para politisi tiap-tiap partai politik. Tidak kalah ramainya seperti jual beli pada pasar tradisional.

“Transaksi” sana-sini, lobi-lobi hingga planing dari A sampai Z demi untuk mensukseskan calon pemimpin yang akan menjadi panutannya. Luar biasa cerdik dan pintar para ajudan partai hingga calon pemimpinnya dalam mengumbar mulut manis dengan janji-janji sehingga itu akan mendulang suara rakyat yang banyak.

Mulut dan lidah calon pemimpin selalu mengeluarkan aroma wangi janji yang kian manis dan tetap berkoar tentang kesejahteraan bagi rakyat. Namun buktinya apa? Coba kita renungkan. Sebagaimana kita rakyat kecil yang terus-menerus menelan pahitnya janji manis. Bukan hanya pada saat ini saja, sebelumnya pun tidak jauh berbeda.

Calon Pemimpin yang sudah menjadi pemimpin itu seperti penguasa. Padahal pemimpin dan penguasa jelas jauh berbeda.

Menurut Ghofur (2018), menyatakan bahwa “janji kampanye para kontestan pemilu seolah-olah hanya menjadi pemanis bibir semata untuk mengelabui rakyat agar tertarik memilih dirinya padahal dari semula janji tersebut (mungkin) telah direncanakan untuk tidak dipenuhi.

Maka tidak heran bila sebagian besar rakyat menganggap janji politik sangat identik dengan kebohongan. Pemilu di mata rakyat tidak lebih dari sekadar sebuah ajang tempat orang memberikan janji-janji untuk diingkari.

Akibatnya, demokrasi perwakilan di Indonesia saat ini mengalami masalah disconnected electoral yaitu adanya keterputusan relasi antara wakil dengan yang diwakili. Sehingga seringkali tindakan yang dilakukan oleh para wakil tidak linier dengan apa yang menjadi aspirasi dan keinginan dari orang-orang yang diwakili (publik)”.

Maka dari itu, kita sebagai rakyat yang bijak sudah seharusnya memilih calon pemimpin yang baik, adil, dan bijaksana. Tidak hanya senang sementara karena iming-iming hanya beberapa ratus ribu rupiah saja, tetapi kita berpikir panjang untuk tahun-tahun ke depan.

Semoga bermanfaat dan berpikir dengan akal sehat.

banner 468x60
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90