Esensi Pendidik Persepektif Falsafah Pendidikan Islam

- Jurnalis

Kamis, 16 Maret 2023 - 18:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Penulis di Perpustakaan IAIDU Asahan

Foto Penulis di Perpustakaan IAIDU Asahan

Esensi Pendidik Persepektif Falsafah Pendidikan Islam

Wardah Nisa Andini, Elvina, Sri Wulandari, Suhardi

PRODI PAI,FITK IAIDU Asahan

 

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Esensi Pendidik Persepektif Falsafah Pendidikan Islam Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendahuluan

Esensi pendidikan merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi multi krisis yang jamak ditemui setiap individu dalam kehidupannya. Keterbatasan kompetensi individu sebagai sumber daya manusia dalam mengatasi berbagai krisis tersebut dapat memberikan efek negatif dalam masyarakat untuk berkembang. Kompetensi setiap individu dalam menangani setiap permasalahan yang ditemui, sangat erat kaitannya dengan keberhasilan bidang pendidikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Permasalahan yang menjadi diskusi publik dan tidak pernah selesai serta terjawab pada saat ini adalah “ bagaimana menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan”. Segala macam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah dilakukan, baik perbaikan sarana dan prasarana, kurikulum, maupun tingkat kualitas tenaga kependidikan.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satu unsur penting yang paling menentukan adalah tenaga pendidik, menjadikan tenaga pendidik yang yang memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bustami (2009) di Kabupaten Aceh Timur menyimpulkan bahwa kompetensi profesional guru memiliki pengaruh yang signifikan (32 %) terhadap mutu pendidikan, sedangkan faktor lain sebanyak 68% mempengaruhi mutu pendidikan.(Abdul Ghani Bustami,1987:78).

Menurut Sardiman (2004:22), bahwa Belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep maupun teori. Artinya bahwa proses interaksi  itu adalah proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar dan dilakukan secara aktif dengan panca indera yang kemudian akan menghasilkan proses sosialisasi. Dalam proses sosialisasi inilah maka akan melahirkan suatu pengalaman yang akan menyebabkan proses perubahan pada diri seseorang.(Sardiman AM, 2004:71). Semestinya pendidikan harus di kembangkan karna untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satu nya tenaga pendidikan agar menjadikan tenaga pendidik yang memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi.

 

Esensi Pendidik Dalam Persepektif Filsafat Pendidikan Islam

Secara bahasa pendidik adalah orang yang mendidik. Dalam Bahasa Inggris disebut dengan teacher, instructor, tutor.(Hadi Podo, Josep  J Sulivan,2000:433).  Artinya Pendidik, pengajar.(Samsul Nizar,2011:105). Sedangkan menurut istilah terdapat sejumlah sebutan yang digunakan untuk menyebut guru. Dalam paradigma jawa, pendidik diidentikan dengan guru yang artinya “digugu” dan “ditiru”.(Imam Musbikin,2010:50).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi pendidik adalah “orang yang bekerja mata pencaharian atau profesinya mengajar.” (Dapartemen Pendidikan Nasional, 2008:469).  Pendidik adalah sosok yang rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan mendidik peserta didik. Pendidik merupakan sosok yang mengemban tugas mengajar, mendidik, dan membimbing. Jika ketiga sifat tersebut tidak melekat pada seseorang pendidikan, maka ia tidak dapat disebut sebagai pendidikan.(Ngainun Naim, 2011:1).

Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik disebut dengan murabbi, muallim, mudarris, muaddib, muzakki, mursyid, mutli. al-muzakki, al-ulama, al-rasikun fi al-„ilm, ahl-al-dzikr, almuaddib, al-mursyid, al-ustadz, asaatid, ulul al-bab, ulu al-nuha, al-faqi, dan al-muwai‟id.(Abuddin Nata,2010:159-160).

Kemudian kalau kita merujuk pada Al-Qur‟an dan Hadits akan ditemukan informasi bahwa yang menjadi pendidik itu secara garis besarnya ada empat yaitu : Allah swt, para Nabi, kedua orang tua, dan orang lain. Orang yang keempat inilah yang selanjutnya dikenal dengan sebutan pendidik. Pendidik adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik.

Menurut Maysaroh dalam penelitiannya yang berjudul Hakikat Pendidikan dalam Prespektif Falsafah Pendidikan Islami berdasarkan kajiannya dapat disimpulkan bahwa pendidik ideal adalah Allah Swt, pada Nabi dan Rosul,dan para ulama. Tugas pendidik muslim, dengan demikian, adalah meniru para pendidik ideal tersebut, terutama memiliki dan menerapkan kepribadian para pendidik  ideal tersebut. Para pendidik muslim, lebih lanjut, harus berakhlak dengan akhlak Allah, sehingga pendidik Muslim memiliki dan menampilkan sifat jamaliyah dan sifat jalaliyah Allah Swt. Sebagai Maha Pendidik. Demikian juga, para pendidik muslim harus meneladani sifat-sifat para Nabi dan Rosul. Secara teologis, ada empat sifat wajib Nabi: siddiq, amanah, tabligh dan fathanah, serta empat sifat mustahil yaitu kazib, khiyanat, kitman, dan jahil atau ghaflah (pelupa). Karenanya, pendidik muslim haruslah menjadi sosok yang siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Kemudian, para pendidik juga harus meneladani kepribadian para ulama di dunia muslim. Sekedar contoh, Imam Syafi’I selalu menjaga wudu’nya, sehingga pendiri mazhab Syafi’iyah ini selalu dalam keadaan suci dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Karena itu pula, para pendidik juga harus suci dengan menjaga wudu’. Dengan meneladani kepribadian Allah Swt, Nabi dan Rosul dan ulama, para pendidik muslim akan menjadi pendidik ideal dalam Islam.(Maysaroh, 2019:8).

Kata pendidik, mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, ketrampilan, atau pengalaman kepada orang lain. Pendidik berarti orang yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan mematuhi tingkat kedewasaannya, serta memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah Swt.

Menurut Tafsir, ada kesamaan antara teori Barat dengan Islam yang memandang bahwa guru adalah pendidik, yaitu siapa saja yang mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektif.(Ahmad Tafsir,2004:74).

Abdul Mujib menjelaskan bahwa pendidik adalah orangorang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotoriknya (karsa). (Abdul Mujib dan Yusuf Muzdakkir, 2010:91).

Sedangkan Al-Ghazali mengatakan bahwa pendidik adalah seseorang yang menyempurnakan, membersihkan, dan mengarahkan (anak didik) kepada Allah azza wajalla. Oleh karenanya, dalam hal ini kedudukan seorang pendidik di sejajarkan dalam barisan para nabi. Masih menurut Al-Ghazali mengingat tugas guru menuntut tanggung jawab yang besar, maka guru berhak atas anak didiknya. (Adri Efferi,2011:79).

Imam Barnadib menjelaskan bahwa pendidik adalah tiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan. Pendidik terdiri dari; 1) orang tua; dan 2) orang dewasa lain yang bertanggung jawab tentang kedewasaan anak. (Sutari Imam Barnadib, 1993:61). Selanjutnya, Ahmad Marimba memandang bahwa, “pendidik sebagai orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajiban bertanggungjawab tentang pendidikan si terdidik.

Secara umum istilah pendidikan dikenal dengan guru. Hadari Nawawi, mengatakan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/kelas. Secara khusus Hadari Nawawi mengatakan bahwa guru adalah orang yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak mencapai kedewasaan masing-masing.(Hadari Nawawi, 1989:123).

Guru bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa besar serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.

Menurut pendapat penulis, bahwasannya pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani peserta didik agar ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (baik sebagai khalifah fi al-ardh maupun „abd) sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Oleh karena itu pendidik dalam konteks ini bukan hanya terbatas pada orang-orang yang bertugas di sekolah tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai sejak alam kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai meninggal dunia.

 

Pengertian Mua’lim, Muaddib, Dan Murabbi

Pengertian Muallim berasal dari al-fiI al-madly „allama, mudhari‟-nya yu‟allimu dan mashdar-nya al-ta‟lim. Bermakna telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajar. Kata muallim memiliki arti pengajar atau orang yang mengajar. Istilah muallim sebagai pendidik dalam hadits Rasulullah adalah kata yang paling umum dikenal dan banyak ditemukan. Muallim merupakan al-isim al-fail dari „allama yang artinya orang mengajar.

Abdul Fattah Jalen mendefenisikan at-ta‟lim ialah sebagai proses pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan tidak diketahuinya. (Jamiluddin,2017:38).

Pengertian Muaddib artinya mendidik atau pendidik yang asal katanya adalah adaba. Adab dalam kehidupan sehari hari sering diartikan tata krama, sopan santun, akhlak, dan budi pekerti. Adapun hadis yang dikutip Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan yang artinya sebagai berikut: memberitakan kepada kami Muhammad, Dianya adalah ibn Salam, menceritakan kepada kam muharibbi, ia berkata menceritakan kepada kami Salih ibn Hayyan, ia berkata, telah berkata Amir Al-Syai‟ibi menceritakan kepadaku Abu Burdah, dari bapaknya berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tiga golongan mendapat dua pahala yaitu seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya kemudian beriman kepada Muhammad saw, dan hak tuannya dan dalam suatu riwayat: hamba sahaya yang beribadah kepada tuhannya dengan baik dan menunaikan kewajibannya terhadap tuhannya yang berupa hak kesetiaan, dan ketaatan, seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita yang dididiknya secara baik serta diajarkanya secara baik). dan dalam satu riwayat: lalu dipenuhinya kebutuhan- kebutuhannya dan diperlakukannya dengan baik, kemudian menentukannya maskawinnya, lalu dikawininnya, maka ia mendapat dua pahala. (Agung Baskoro,2017:140-141).

Pengertian Murobbi, Kata murobbi berasal dari akar kata rabb (sifat Allah swt), penyandaran kata ini disebut dengan rabbany. Kandungan kata rabbany memiliki beragam arti dan mengandung makna yang luas. Al-Murobbi ialah isim fail dari kata rabba yang mempunyai arti mendidik, mengasuh dan memelihara. Artinya seorang murobbi disyaratkan seorang guru agama yang harus memiliki sifat-sifat rabbany misalnya orang-orang yang bijaksana, terpelajar. (Chabib Thoha,1996:12).

Mu‟allim berasal dari al-fi‟al al-madhi „allama, mudhari‟nya yu‟allimu dan mashdarnya al-ta‟lim. Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajaran. Kata mu‟allim sebagai pendidik dalam Hadits Rasulullah adalah kata yang paling umum dikenal dan banyak ditemukan. Mu‟allim merupakan al-ism al fa‟il dari „allama yang artinya orang yang mengajar. Dalam bentuk tsulatsi mujarrad, mashdar dari „alima adalah „ilmun, yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia disebut ilmu. (Al jurjani,1891:82).

Dalam proses pendidikan istilah pendidikan yang kedua yang dikenal sesudah at-tarbiyyat adalah at-ta‟lim. Rasyid Rida, mengatakan at-ta‟lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada individu.

Firman Allah Swt.: “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan kami mensucikan kamu mengajarkan kepada kamu apa yang telah belum kamu ketahui.” (Q.S.Al-Baqarah: 251).

Berdasarkan ayat diatas, maka mu‟allim adalah orang yang mampu untuk merekonstruksi bangunan ilmu secara sistematis dalam pemikiran peserta didik dalam bentuk ide, wawasan, kecakapan, dan sebagainya, yang ada kaitannya dengan hakikat sesuatu. Mu‟allim adalah orang yang memiliki kemampuan unggul dibandingkan dengan peserta didik, yang dengannya ia dipercaya menghantarkan peserta didik kearah kesempurnaan dan kemandirian.

Menurut Pendapat penulis, bahwasannya Mu‟allim merupakan orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.

Mu‟addib merupakan al-ism al-fa‟il dari madhinya addaba. Addaba artinya mendidik, sementara Mu‟addib artinya orang yang mendidik atau pendidik. Dalam wazan fi‟il tsulatsi mujarrad, mashdar aduba adalah adaban artinya sopan, berbudi baik. Al- adabu artinya kesopanan, adapun mashdar dari addaba adalah ta‟dib, yang artinya pendidikan.( A,W Munawwir,1984:13).

Secara bahasa mu‟addib merupakan bentukan mashdar dari kata addaba yang berarti memberi adab, mendidik.(Mahmud Yunus,1990:37). Adab dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan tata krama, sopansantun, akhlak, budi pekerti. Anak yang beradab biasanya dipahami sebagai anak yang sopan yang mempunyai tingkah laku yang terpuji.

Dalam kamus bahasa Arab, Al-Mu‟jam al-wasith istilah mu‟addib mempunyai makna dasar sebagai berikut: 1) ta‟dib berasal dari kata “aduba – ya‟dubu” yang berarti melatih, mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan sopan santun; 2) kata dasarnya, adaba yadibu yang artinya mengadakan pesta atau perjamuan yang berarti berbuat dan berperilaku sopan; 3) addaba mengandung pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin, dan memberikan tindakan.(Al-Mu’jam Al-Wasith,1997:1).

Dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab lainnya tentang agama Islam, pengertian adab adalah etiket atau tata cara yang baik dalam melakukan suatu pekerjaan, baik ibadah maupun muamalah. Karena itu ulama menggariskan adab-adab tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan sesuai dengan tuntunan Alquran dan al-Hadits. Adab tertentu itu misalnya memberi salam dan minta izin sebelum memasuki sebuah rumah, adab berjabatan tangan dan berpelukan, adab hendak tidur, adab duduk, berbaring, dan berjalan, adab bersin dan menguap, adab makan dan minum, adab berdzikir, adab masuk kakus, adab mandi, adab wudhu, adab sebelum dan ketika melaksanakan shalat, adab imam dan makmum, adab menuju masjid, adab di dalam masjid, adab jum‟atan, adab puasa, adab berkumpul, adab guru, adab murid dan lain-lain.

BACA JUGA :  Luar Biasa! Pelatihan Sertifikasi C.FR Kembali Digelar AR Learning Center

Menurut pendapat penulis, bahwasammya mu‟addib adalah seorang pendidik yang bertugas untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta didik untuk berperilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila dan sopan-santun yang berlaku dalam masyarakat. Mu‟addib merupakan orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.

Murabbi merupakan bentuk (shigah) al-ism al fail yang berakar dari tiga kata. Pertama, berasal dari kata raba, yarbu yang artinya zad dan nama (bertambah dan tumbuh). Contoh kalimat dapat dikemukakan, artinya, saya menumbuhkannya.(Muhammad Muntahibun Nafis,2011:86).  Kedua, berasal dari kata rabiya, yarba yang mempunyai makna tumbuh (nasya‟) dan menjadi besar (tarara‟a). Ketiga berasal dari kata rabba yarubbu yang artinya memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Kata kerja rabba semenjak masa Rasulullah sudah dikenal dalam ayat Alquran dan Hadits Nabi. Firman Allah SWT: “Dan ucapkanlah Wahai Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana ia telah menyayangiku semenjak kecil.” (QS. Al-Isra‟:24).

Dalam bentuk kata benda, kata rabba digunakan untuk Tuhan, hal tersebut karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, dan bahkan menciptakan. Firman Allah SWT: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.” (Q.S.AlFatihah: 2). Oleh karena itu istilah murabbi sebagai pendidik mengandung makna yang luas, yaitu: 1) mendidik peserta didik agar kemampuannya terus meningkat; 2) memberikan bantuan terhadap peserta didik untuk mengembangkan potensinya; 3) meningkatkan kemampuan peserta didik dari keadaan yang kurang dewasa menjadi dewasa dalam po;a pikir, wawasan, dan sebagainya; 4) menghimpun semua komponen-komponen pendidikan yang dapat mensukseskan pendidikan; 5) memobilisasi pertumbuhan dan perkembagan anak; 6) bertanggung jawab terhadap proses pendidikan anak; 7) memperbaiki sikap dan tingkah laku anak dari yang tidak baik menjadi baik; 8) rasa kasih sayang mengasuh peserta didik, sebagaimana orang tua menyayangi anak kandungnya. 9) pendidik memiliki wewenang, kehormatan, kekuasaan, terhadap pengembangan kepribadian anak; 10) pendidik merupakan orang tua kedua setelah orang tuanya dirumah yang berhak atas perkembangan dan pertumbuhan si anak.(Ramayulis Dan Samsul, 2009:140).

Menurut Lailatul Maghfiroh dalam penelitiannya yang berjudul Hakikat Pendidik dan Peserta didik dalam Pendidikan Islam bahwasannya di dalam pendidikan, pihak yang melakukan tugas-tugas mendidik dikenal dengan dua predikat, yakni pendidik dan guru. Pendidik (murabbi) adalah oran yang berperan mendidik subjek didik atau melakukan tugas pendidikan (tarbiyah). Sedangkan guru adalah oranng yang melakukan tugas mengajar (ta’lim). Pendidikan mengandung makna pembinaan kepribadian, memimpin, dan memelihara, sedangkan pengajarann bermakna sekedar tahu atau memberi pengetahuan.(Lailatul Maghfiroh,2017:25).

Paparan diatas dapat disimpilkan bahwasannya Murabbi adalah orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.

 

Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam

Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.(Moh Asnawi,2012:46).

Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikan dengan (gudan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.

Seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan atau mentransfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi pendidik juga bertanggung jawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan perencanaan. Oleh karena itu, fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu 1).Sebagai instruksional (pengajar), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan. 2).Sebagai educator (pendidik), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.3).Sebagai managerial (pemimpin), yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan. (Roestyah NK,1982:86).

Tugas pendidik dalam perspektif pendidikan Islami mengacu kepada tiga hal berikut. 1) pendidik Muslim bertugas melanjutkan tugas-tugas para Nabi dan Rasul sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah ayat 151, Q.S. Ali ‘Imran ayat 164 dan Q.S. AlJumu‘ah ayat 2. Ketiga ayat ini menjelaskan bahwa Allah sebagai Maha Pendidik mengurus para Nabi dan Rasul untuk tiga tugas. Pertama, membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia. Kedua, mengajarkan hikmah kepada manusia. Ketiga, mengajarkan ilmu kepada manusia. Karena itu, tugas pendidik Muslim adalah melanjutkan tugas-tugas para Nabi dan Rasul yaitu mendidik peserta didik dalam hal ayat-ayat Allah, hikmah dan ilmu. 2) pendidik Muslim bertugas mengantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bersyahadah kepada Allah Swt. (Q.S. alA’raf ayat 172), menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya (Q.S. al-Dzariyat 53), dan mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah Swt. di bumi (Q.S. alBaqarah ayat 30). 3) pendidik bertugas untuk meneruskan tugas para ulama sebagai penyampai pesan-pesan agama kepada peserta didiknya, pemutus masalah peserta didiknya secara bijaksana, penjelas masalah agama kepada peserta didiknya berdasarkan kitab suci, dan pemberi teladan yang baik kepada peserta didiknya.(Al Rasyidin,2001:142-143).

Menurut Rosulullah pendidik berkedudukan sebagai orang tua. Sebagaimana terdapat didalam hadist Dari Abu Hurairhah dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya saya bagi kamu semua laksana ayah terhadap anaknya, saya mengajarkan kepada kamu semua ketika mendatangi wc, maka janganlah kamu semua menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya. (Nabi) memerintahkan untuk membersihkan (istinja) dengan menggunakan 3 batu, (Nabi) mencegah untuk tidak melakukannya dengan kotoran kering dan tulang. Dan (Nabi) mencegah seorang laki-laki membersihkan dengan tangan kanannya. (HR. Abu Daud dalam kitab bersuci).(M Indra Saputra,2015:84).

Hadist di atas dengan jelas mengatakan bahwa Rosullulah bagaikan orangtua dari para sahabatnya. Pengertian bagaikan orangtua adalah mengajar, membimbing, dan mendidik anak –anak seperti yang pada umumnya dilakukan oleh orang tua.

Dari ayat dan hadits di atas, menjelaskan betapa pentingnya menjadi seorang pendidik karena pendidik mempunyai tanggung jawab dalam menentukan arah pendidikannya. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu dan mau menyampaikan kepada orang lain.

 

Karakteristik Pendidik Muslim

Pendidikan Agama Islam (PAI) pada lembaga formal di madarasah yang terdiri atas empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendirisendiri. al-Qur’an-hadis, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Aspek akidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilainilai al-asma’ al-husna.

Aspek Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Aspek fikih menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Aspek sejarah kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwaperistiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan Iainlain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.(Ishak, 2021:172).

Untuk menjadi orang yang pantas ditaati dan diikuti, tidaklah salah apabila sebagai guru menengok kembali apa yang telah diungkapkan al-Zarnuji bahwa “Wa amma ikhtiyâru al-ustâdzi fayambaghî an yakhtâra al-„alam wa al-aura‟a wa al-asanna kamâ ikhtâra Abu Hanifah hînaidzin Hamad bin Abi Sulaiman ba‟da alta‟ammuli wa al-tafakkuri.(Al-Zarnuji,1996:13). “Sebaiknya dalam memilih guru, pilihlah orang yang lebih alim, wara‟, dan lebih tua usianya, sebagaimana Abu Hanifah di masa belajarnya memilih Syaekh Hamad bin Abi Sulaiman sebagai gurunya setelah beliau benarbenar merenung dan berpikir”.

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa „alim, wara‟, dan lebih tua usianya dibanding muridnya, menurut al-Zarnuji adalah syarat yang harus dipenuhi ketika menjadi guru. Sifat-sifat itulah yang dimiliki Hammad bin Abu Sulaiman, sehingga Abu Hanifah memilih menjadi gurunya, karena semata-mata seorang guru yang tua dan berwibawa, murah hati, serta penyabar, sehingga Abu Hanifah menetapkan untuk menimba ilmu kepadanya sampai “berkembang”. Kata berkembang, menurut Ibrahim bin Ismail mengandung arti bahwa Abu Hanifah tidak pernah berpindah guru dalam menimba ilmu hingga menjadi seorang Mujtahid kecuali hanya kepada Hammad bin Abu Sulaiman.

Mudjab menambahkan bahwa Abu Hanifah tumbuh dan berkembang ilmunya setiap hari dan bertambah pengetahuannya sebagaimana tumbuhnya tanam-tanaman yang disemai di tanah subur dan terpelihara dengan baik. Hal itu terjadi karena dia berguru kepada guru yang ahli dan memenuhi persyaratan, sehingga ilmu yang diterima ibarat air mengalir yang tak mengenal putus.

Muhammad Athiyah al-Abrasy menjelaskan karakteristik ideal yang harus dimiliki seorang pendidik, yaitu: Seorang guru harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak mengutamakan untuk mendapat materi dalam tugasnya, melainkan karena mengharap keridhaan Allah semata-mata. Ini tidak berarti bahwa seorang guru harus hidup miskin, melarat, dan sengsara. Melainkan ia boleh memiliki kekayaan sebagaimana lazimnya orang lain. Dan ini tidak pula berarti bahwa guru tidak boleh menerima pemberian atau upah dari muridnya, melainkan ia boleh saja menerima pemberian atau upah tersebut karena jasanya dalam mengajar. Tetapi semua ini jangan diniatkan dari awal tugasnya. Dengan niat demikian, maka tugas guru akan dilaksanakan dengan baik, apakah dalam keadaan ada uang atau tidak ada uang.(Muhammad Arthiyah Al-Abrasy,1768:140-142).

Menurut pendapat kami bahwasannya karakteristik ideal pendidik dalam pendidikan Islam menurut konsep Burhanuddin Az-Zarnunizi dan M. Athiyah Al-Abrasy. Kedua konsep pemikiran dua tokoh ini mewakili beberapa tokoh lainnya seperti Al-Ghazali, Ibn alQayyim al-Jauziah, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Konsep ini sudah cukup memadai untuk menjelaskan tentang konsep pendidik dalam konteks pendidikan Islam. Ditambah lagi dengan gagasan Pandangan-pandangan mereka tentang konsep pendidikan Islam (termasuk konsep pendidik) tentu merupakan hasil “ijtihad tarbawi” yang mengacu pada sumber utama yaitu Alquran dan Sunnah dengan sudut pandang masing-masing berlatar belakang keilmuan, situasi zaman dan tempat hidup yang mereka kuasai dan alami.

 

Penutup

Pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peserta didik. Mendidik yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang perananperanan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengerian bahwa mendidik bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong bagi umat manusia. Sementara mengajar hanya pada tataran transfer of knowledge..

Dalam Islam hakikat pendidik itu ada 4 yaitu; Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Orangtua dan Pendidik/pengajar. Sedangkan hakikat peserta didik adalah semua manusia dan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan menjadi manusia yang mempunyai ilmu, iman-takwa serta berakhlak mulia sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai pengabdi/beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya. Begitu juga sebaliknya, peserta didik dalam mencari ilmu juga harus memiliki etika dan akhlak yang baik serta mengharap ridho Allah SWT.

Berita Terkait

Pengaruh Media Sosial terhadap Hubungan Keluarga
Keren, Kacab Bank Danamon Surabaya Nimas Sukses Raih Predikat Certified Fundamental Tax
Tanah Rakyat Atau Tanah Negara
Perpisahan Peserta Didik IEP-PPT Kelas A dan Gurunya di IALF 
Dosen Perbankan Syariah Universitas Ibnu Chaldun Hadiri BSI International Expo 2024
TK Banemo: Pelepasan Peserta Didik Kelompok B ke-SD, Harapan Menjadi Bintang Masa Depan
7 Tips Mengenai Persiapan Masa Pensiun yang Sukses
Revolusi Penulisan Berita dan Artikel dengan Kecerdasan Buatan
Berita ini 114 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Juni 2024 - 07:20 WIB

Pengaruh Media Sosial terhadap Hubungan Keluarga

Sabtu, 22 Juni 2024 - 01:59 WIB

Keren, Kacab Bank Danamon Surabaya Nimas Sukses Raih Predikat Certified Fundamental Tax

Jumat, 21 Juni 2024 - 22:14 WIB

Tanah Rakyat Atau Tanah Negara

Kamis, 20 Juni 2024 - 19:43 WIB

Perpisahan Peserta Didik IEP-PPT Kelas A dan Gurunya di IALF 

Kamis, 20 Juni 2024 - 18:02 WIB

Dosen Perbankan Syariah Universitas Ibnu Chaldun Hadiri BSI International Expo 2024

Kamis, 20 Juni 2024 - 18:00 WIB

TK Banemo: Pelepasan Peserta Didik Kelompok B ke-SD, Harapan Menjadi Bintang Masa Depan

Rabu, 19 Juni 2024 - 16:48 WIB

7 Tips Mengenai Persiapan Masa Pensiun yang Sukses

Rabu, 19 Juni 2024 - 06:55 WIB

Revolusi Penulisan Berita dan Artikel dengan Kecerdasan Buatan

Berita Terbaru

Ilustrasi: Dampak Medsos Terhadap Hubungan Keluarga: Gambar AI (Suara Utama.id)

Artikel

Pengaruh Media Sosial terhadap Hubungan Keluarga

Sabtu, 22 Jun 2024 - 07:20 WIB