Esensi Alam Semesta

- Jurnalis

Selasa, 30 Mei 2023 - 18:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto Dokumentasi Suhardi, Nur Hasana, Dwi Padhila, Khotijah, Imanuddin Lubis, Esensi Alam Semesta

foto Dokumentasi Suhardi, Nur Hasana, Dwi Padhila, Khotijah, Imanuddin Lubis, Esensi Alam Semesta

Penulis Oleh: Nur Hasana, Dwi Padhila, Khotizah, Imanuddin Lubis, Suhardi

Prodi Pendidikan Agama Islam, FTIK, IAIDU Asahan Kisaran

SUARA UTAMA,Alam semesta perlu dibahas karena Alam begitu istimewa, dan banyak yang bisa di pelajari didalamnya. Semakin jauh manusia mengungkap alam semesta beserta skala ruang dan waktunya yang luas serta keaneragaman objeknya yang tak terkira, semakin mereka sadar bahwa manusia sama sekali tidak istimewa dan hanya merupakan sebutir debu dalam lingkup semesta.

Esensi Alam Semesta

Wujud Silaturahmi, Ratusan Sahabat Mas Andre Hariyanto - SMAH Semarakan Milad Mubarak Dibalut Sharing Santai. Foto: Panitia dan Pengurus (SUARA UTAMA)

Wujud Silaturahmi, Ratusan Sahabat Mas Andre Hariyanto – SMAH Semarakan Milad Mubarak Dibalut Sharing Santai. Foto: Panitia dan Pengurus (SUARA UTAMA)

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Esensi Alam Semesta Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Osman Bakar dalam bukunya yang berjudul Tauhid dan Sains mengatakan bahwa alam adalah sumber berbagai jenis pengetahuan, matematika, fisika, metafisika, ilmiah dan spiritual, kualitatif dan kuantitatif, praktek dan estesis. Alam semesta merupakan realitas yang dihadapi oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta, akan tetapi menjadikannya sebagai fasilitas dan sarana ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan oleh manusia.

Banyak pandangan-pandangan tentang alam semesta menurut beberapa para ahli dan filsuf. Allah juga telah banyak menerangkanya di kitab Al-Qur’an. Namun terjadinya alam semesta hanya Allah SWT yang tahu. Bagi manusia alam semesta masih merupakan misteri, masih merupakan peristiwa yang gaib dan penuh rahasia. Meskipun demikian, para ahli ilmu pengetahuan alam masih terus mengadakan penelitian-penelitian untuk mengungkapkan misteri tersebut.

Alam semesta adalah ciptaan Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk menjaga dan memeliharaan alam semesta ini, selain itu alam semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses melalui pendidikan. (Siti Maunah, 9(1), 2019:2).

Dalam pemahaman dan penghayatan alam semesta secara ekologis, maka pola relasi antara manusia dan alam adalah pola relasi yang saling merawat, saling membutuhkan, dan saling menunjang satu sama lain. Apalagi ekologi merupakan daya cipta kehidupan dari alam semesta yang pada gilirannya bisa dipulihkan dengan pengetahuan, peradaban, dan teknologi yang ramah lingkungan, kenyataan itu lebih dianggap meningkatkan daripada menghalangi atau menghambat, melengkapi ketimbang melawan, dan terbentuknya keselarasan atau keseimbangan yang menjadi ajaran setiap agama. Dalam kebijaksanaan ini terdapat prinsip yang paling mendasar dari ekologi mendalam dan etika tentang lingkungan atau alam semesta yang bisa saling mendukung satu sama lain. Kearifan alam di sini merupakan hakikat dari ekoliterasi atau melek lingkungan hidup.

Pandangan yang serupa juga dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr yang memiliki perhatian pada masalah lingkungan sebagai tempat alam semesta. Nasr memandang bahwa berbagai krisis yang menimpa manusia modern, disebabkan oleh sikap egosentrisme manusia terhadap alam semesta yang dilihatnya hanya bernilai ekonomis. Akibatnya, alam diposisikan sebagai objek yang harus ditaklukkan dan terpisah dengan ekosistem yang lain, termasuk manusia sendiri. Sementara manusia dengan bebas melakukan tindakan tanpa batas terhadap alam dan lingkungan hanya demi memperoleh keuntungan yang besar. Pandangan tentang alam ditentang langsung oleh Nasr yang tidak setaju dengan beberapa pandangan sekuler yang mengatakan bahwa agama seolah-olah tidak perhatian terhadap masalah lingkungan yang terjadi di alam semesta ini. (Suryo Adi Sahfutra, 2021: 132).

Jadi diharapkan bagi manusia untuk kedepannya lebih menghargai dan merawat alam semesta agar tidak terjadi kerusakan dan menjadi masalah maupun berdampak buruk bagi manusia itu sendiri.

BACA : Ratusan Sahabat PJS dan KSA Sukseskan Milad Mas Andre Hariyanto dan Sharing Santai

Esensi Alam Semesta dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

Alam adalah segala yang ada di langit dan di bumi. Alam juga di definisikan sebagai “The universe; world; condition, state of being”, yang berarti “alam semesta; dunia; keadaan, wujud dari Negara bagian”. Alam berasal dari bahasa Arab al-‘alam,. Satu akar kata dengan ilmu (al-‘ilm, pengetahuan dan al-‘alamah pertanda). Disebut demikian karena jagad raya ini adalah pertanda adanya sang Maha Pencipta yaitu Tuhan yang Maha Esa. Alam dalam bahasa Yunani disebut dengan cosmos yang berarti “serasi, harmonis”, karena alam ini ada dalam keserasian dan keharmonian berdasarkan hukum-hukum yang teratur.

Menurut Al-Syaibani alam jagad atau natura ialah apapun selain dari Allah Swt. Demikian juga menurut Quraish Shihab semua yang maujud selain Allah Swt, baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia disebut alam. Karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam perspektif Islam, alam semesta ini tidak hanya mencakup hal-hal yang konkrit atau dapat diamati melalui pengindraan manusia saja, tetapi mencakup juga segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh pengindraan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu selain Allah Swt, yang dapat diamati atau didekati melalui pengindraan manusia disebut sebagai ‘alam syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu, segala sesuatu selain Allah, yang tidak dapat diamati atau didekati melalu pengindraan manusia disebut sebagai ‘alam ghaib. Karenanya, dia adalah fenomena.

Dalam Al-qur’an, terma alam hanya ditemukan dalam bentuk plural, yaitu ‘alamin. Kata ini terulang sebanyak 73 kali dan tersebar pada 30 surah. Penggunaan bentuk plural mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak atau beraneka ragam. Pemaknaan ini konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad (Satu/Esa), maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Disamping itu, hal ini juga merupakan penegasan terhadap konsep Islam tentang alam semesta, yaitu segala sesuatu selain Allah Swt. Dari sisi ini, penalaran kita mengharuskan eksisnya pluralitas atau kejamakan alam semesta ini. Karenanya dari satu sisi, alam semesta bisa didefinisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk) yang bisa diklasifikasikan kedalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud abstrak (ghaib).

Kemudian dari sisi lain, alam semesta bisa pula dibagi-bagi kedalam beberapa jenis. Seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayawanat), dan manusia. Kemudian alam ini terbagi lagi menjadi bermacam-macam, yaitu: 1. ‘Alamularwah (alam arwah), 2. ‘Alamulikhalaq (alam kehidupan ini), 3. ‘Alamulbaqi (alam akan datang), 4. ‘Alamula’zamah (alam surga), 5. ‘Alamus syahadah (alam yang tampak), 6. ‘Alamul ghaib (alam yang tidak tampak), 7. ‘Alamulma’qul (Alam rasional).

Sedangkan alam menurut kajian para sufi adalah Alamun nasut (alam saat ini), ‘Alamulmalakut (alam malaikat), ‘Alamuljabarut(alam kekuasaan), ‘Alamullahut (alam ketuhanan). (Dedi Syahputra Napitupulu, 6(1), 2017: 2-4).

Esensi Alam Semesta

foto Dokumentasi Suhardi, Nur Hasana, Dwi Fadhillah, Khotijah, Imnauddin, Esensi Alam Semesta

Foto Dokumentasi Suhardi, Nur Hasana, Dwi Padhila, Khotijah, Imanuddin Lubis, Esensi Alam Semesta

Agama mengajak insan kearah menghayati alam ini. Agama menganggapnya sebagai alam penuh kebaikan. Kebaikan ini lebih tinggi nilainya atau artinya dan seluruh yang ada dialam benda ini. Kendatipun demikian, agama tidak pula menganjurkan manusia mengabaikan alam realitas atau alam benda. Tapi ia malah menegaskan bahwa perlunya diperhatikan kedua alam ini. Justru kehidupan tidak akan terlaksana kecuali dengan materil dan spiritual.

Alam merupakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Secara filosofis, alam merupakan kumpulan substansi yang tersusun dari materi dan bentuk yang ada di langit dan bumi. Alam dalam pengertian ini adalah alam jagad raya, yang dalam bahasa Inggris disebut Universe.

Menurut Muhamad Abdu, orang Arab sepakat bahwa kata “alamin” tidak digunakan untuk merujuk kepada segala sesuatu yang ada, seperti alam, batu dan tanah, tetapi mereka memakai kata alamin untuk merujuk kepada semua makhluk Tuhan yang berakal, seperti alam manusia, hewan dan tumbuhan. Dan alam non fisik atau alam gaib, seperti alam malaikat, alam jin dan alam ruh. (Siti Munah, 9(1), 2019: 4).

BACA : Selamat Ulang Tahun Coach Andre Hariyanto Yang Ke 30 tahun

Terminologi Alam Semesta

Secara Etimologis kata kosmologi berasal dari dua kata Yunani yaitu kosmos yang berarti dunia atau ketertiban, dan logos yang berarti ilmu. Jadi kosmologi dunia, adalah susunan menurut peraturan dan bukan yang kacau tanpa aturan. Kosmos juga berarti alam semesta. Alam semesta juga berarti jagad raya. Kosmologi adalah ilmu yang membicarakan tentang realitas jagat raya, yakni keseluruhan system-sistem alam semesta. Kosmologi termasuk bagian dari filsafat alam yang didalamnya membicarakan inti alam, isi alam, dan hubunganya satu sama lain dan dengan keberadaanya dengan yang ada mutlak. Dahulu ilmu yang mempelajari alam semesta disebut kosmogani, sekarang oleh para ahli astronomi modern, kosmogani yang mempelajari asal-usul dan evolusi alam semesta telah diperluas menjadi kosmologi.

Esensi Alam Semesta

Ketum Pemerhati Jurnalis Siber dan CEO Kak Sam Academy Rayakan HUT Sahabat Mas Andre Hariyanto/SMAH. Foto: Dok. Pribadi SMAH (SUARA UTAMA)

Ketum Pemerhati Jurnalis Siber dan CEO Kak Sam Academy Rayakan HUT Sahabat Mas Andre Hariyanto/SMAH. Foto: Dok. Pribadi SMAH (SUARA UTAMA)

Kosmologi terbatas pada realitas yang lebih nyata, yaitu alam fisik yang sifatnya material. Naturalisme materialistik berpandangan bahwa kosmos dan segala isinya terjadi secara alamiah, semua terjadi secara evolusi. Mereka tidak percaya bahwa kosmos ada yang menciptakan. Sedangkan menurut Idealisme absolut dari Plato dan filsafat yang bersumber pada religi bahwa jagat raya diciptakan oleh ide mutlak, yaitu Tuhan. Dasar pandangan diatas akan mewarnai dan mempengaruhi konsep pendidikan yang akan dilakukan manusia. Menurut naturalisme materialistis, pendidikan sekadar untuk kehidupan di alam dunia. Bagi Idealisme absolut dan filsafat yang bersumber pada religi, pendidikan akan memiliki tujuan yang lebih universal, yaitu ketertiban hidup manusia dengan alam semesta dan dengan maha pencipta. Alam semesta diciptakan oleh Allah sang Maha pencipta dan secara mutlak dalam pengaturan, pemeliharaan, dan pengawasan-Nya. Kajian kosmos alam semesta dan benda-benda yang terdapat di dalamnya yang ada hubunganya mencangkup integrasi dan relasi. (Siti Maunah, 9(1), 2019: 3).

BACA : Kebijakan Dalam Pendidikan Islam

Proses Terbentuknya Alam Semesta

  1. Proses Terbentuknya Alam Semesta Menurut Sains

Menurut teori Big Bang, alam diciptakan dari tiada meskipun ketiadaan ini tidak harus dipahami dalam arti ketiadaan yang mutlak, tetapi ada sebagai potensi atau kemungkinan. Adapun tentang awal mula terbentuknya alam semesta didukung oleh penemuan teori astrofisika modern, menurut teori ini alam semesta berkembang secara evolutif. Semua massa atau benda-benda yang akan membentuk alam semesta seperti galaksi, bintang, semua nebula, gas, matahari, seluruh planet, satelit maupun zat-zat kosmos lainya berkumpul menjadi satu di bawah tekanan yang paling tinggi dan sangat kuat. Sehingga menyebabkan pecah dan runtuh berantakan jadi berkeping-keping. Kepingan tersebut akhirnya menjadi bintang-bintang, matahari, planet, satelit, galaksi nebula dan benda-benda semesta lainya bertaburan memenuhi ruang kosong. (Toto Suharto, 2006: 61).

Teori Big Bang juga menjelaskan bahwa alam semesta berkembang dengan sangat cepat dalam beberapa mikro detik yang pertama. Dimulai dengan kabut hidrogen yang berputar melanda dan alam semesta berkembang dari suatu materi yang terdiri atas proton, elektron dan neutron yang berada dalam lautan radiasi dengan suhu yang sangat tinggi. Ketika alam mengembang, suhu materi semakin turun sehingga terbentuk banyak helium, deuterium, dan unsur ringan lainya di alam semesta. Kondisi ini sesuai dengan kenyataan yang terjadi di jagat raya.

Alam dengan asap yang melimpah yang merupakan 90% dari semua materi kosmos ini. Dengan gerak acak awan seperti itu, atom-atom kadang bergabung secara kebetulan untuk membentuk kantong-kantong gas yang padat. Dari peristiwa ini muncul bintang-bintang, demikianlah secara perlahan setelah melalui kira-kira dua puluh miliar tahun. (Jamali Sahroni, 2011: 40-41).

  1. Proses Terbentuknya Alam Semesta Menurut Islam

Alam semesta yang diciptakan Allah SWT telah diteliti oleh ilmuwan dari berbagai belahan bumi ini. Sejak Morley dan Michelson pada tahun 1905, yang mendorong Einstein melahirkan teori “Relativitasnya”. Demikian Juga, Gamow pada tahun 1952, yang menurutnya suatu ketika seluruh alam ini akan semakin mengecil volumenya akibat ledakan maha dahsyat dari suatu titik dan mengembang sebagaimana diteliti oleh Hubble. Ledakan dahsyat memancarkan radiasi sebagai akibat adanya kilatan dan ledakan tersebut. Sebagai akibat dari ledakan itu, ekspansi dari radiasi berakibat alam semesta mendingin yang mengubah radiasi menjadi gelombang mikro.

Esensi Alam Semesta

Foto: Program Kelas Pelatihan/AR Learning Center adalah Pusat Pembelajaran, Pendidikan dan Pengkaderan. Lembaga AR Learning Center/Suara Utama-081232729720/Suara Utama ID

Foto: Program Kelas Pelatihan/AR Learning Center adalah Pusat Pembelajaran, Pendidikan dan Pengkaderan. Lembaga AR Learning Center/Suara Utama-081232729720/Suara Utama ID

Peristiwa penciptaan alam semesta menurut sains dinyatakan dalam enam tahap yaitu sebagai berikut:

  1. Tahap pertama, sejak penciptaan sampai suhu kosmos turun menjadi seratus juta-juta-juta-juta-juta derajat. Dalam tahap ini, seluruh kosmos yang terdiri atas ruang, materi dan nadiasi telah ditentukan interaksinya, sifat, serta kelakuannya. Pada waktu itu, segala macam interaksi antara materi dan radiasi sama kuatnya, yang menurut pengamatan Abdus Salam menampakkan diri sebagi simetri. Dalam tahap ini, kandungan energi dan materi dalam alam semesta ditentukan jumlahnya.
  2. Tahap kedua, sejak berakhirnya tahap pertama sampai suhu kosmos turun hingga mencapai 100.000 juta derajat. Kerapatan materi dalam alam semesta adalah empat juta ton tiap liter. Dalam tahap ini, bahan penyun nuklir, yaitu penyusun inti -inti atom telah tertentu jumlahnya.
  3. Tahap ketiga, sejak berakhirnya tahap kedua sampai suhu kosmos tinggal 1.000.000.000 derajat dan kerapatan materinya tinggal 20 kilogram tiap liter. Dalam tahap ini muatan kelistrikan di alam semesta telah ditetapkan.
  4. Tahap keempat, sejak berakhirnya tahap ketiga sampai suhu kosmos berada di bawah 100.000.000 derajat, kerapatan materinya tinggal sepersepuluh kilogram tiap liter. Dalam tahap ini telah dimulai penyusunan inti-inti atom. Pada waktu itu, terjadi pengelompokan materi sebagal akibat dari adanya ketidakseragaman lokal, yang nantinya akan berevolusi menjadi galaksi-galaksi.
  5. Tahap kelima sejak berakhirnya tahap keempat sampai mulainya terbentuk atom-atom sehingga elektron bebas dalam kosmos menjadi sangat berkurang jumlahnya. Dalam tahap ini, cahaya mengisi seluruh ruang kosmos.
  6. Tahap keenam, ketika kabut materi yang diri atas atom-atom mulai mengumpul dan membentuk bintang-bintang dan galaksi-galasi. Diantara bintang-bintang ini terdapat matahari yang dikelilingi oleh bumi dan planet-planet.(Anas Salahuddin, 2011: 100-102).

Terbentuknya alam semesta menurut agama islam, terdapat perbedaan pandangan di kalangan muslim tentang asal mula penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan menjadi ada. Sementara itu, ada pula yang berpendapat bahwa alam semesta ini diciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada.

Terlepas dari perbedaan pandangan di atas, Al-Qur’an menginformasikan bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan tidak secara sekaligus atau sekali jadi, tetapi melalui serangkaian tahapan, masa, atau proses. Dalam Al- Qur’an, ditemukan pula ayat yang menyatakan bahwa Allah Swt menciptakan bumi dalam dua hari atau dua masa (yaumayn), dan menentukan kadar makanan penghuninya dalam empat hari atau empat masa (arba’a ayyam), dan menjadikan tujuh langit dalam dua hari (yaumayn). (Mahdi Ghulsyani: 2001, 62).

BACA JUGA :  Tripusat Pendidikan Embrio Membentuk Ketahanan Keluarga di Era Disrupsi

Ketika menjelaskan iradah Allah dalam kaitannya dengan penciptaan sesuatu pun, al-Qur’an menggunakan ungkapan “kun Fayakun”, yang seringkali diterjemahkan dalam arti “jadi, maka jadilah”. Dalam ungkapan ini, kata kerja yang digunakan adalah fi’il mudhari. Dalam gramatika bahasa Arab, bila suatu perbuatan diungkapkan dalam bentuk mudhari, maka itu berarti bahwa suatu perbuatan yang dilakukan itu adalah perbuatan yang sedang dan akan terus dilakukan di masa mendatang. Artinya, kata kerja fi’il mudhari mengandung makna bahwa terjadi kontinuitas dalam melakukan pekerjaan itu.

Karenanya, dari sisi ini, dapat dipahami bahwa penciptaan sesuatu itu, termasuk alam semesta, terjadi melalu tahapan atau proses, dan proses itu berlangsung secara kontinum atau sepanjang masa. Itu berarti bahwa, sebagai Khaliq atau Maha Pencipta, dalam tiap masa, tiap detik, bahkan tiap detak nafas manusia, Allah Swt senantiasa mencipta. Tidak ada kondisi di mana Allah Swt sedang dalam keadaan mencipta, istirahat atau berhenti mencipta atau memulai kembali perbuatan mencipta, mustahil Allah Swt seperti itu, sebab kondisi seperti itu hanya mungkin terjadi pada makhluk atau ciptaan. Hal inilah yang ditegaskan Allah Swt melalui firman-Nya: “Allah menambah dalam suatu ciptaan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (Al Rasyidin, 2018: 6-7).

BACA : Semarak Milad 30thn Mas Andre Hariyanto bersama Sahabat Kak Sam Academy dan Pemerhati Jurnalis Siber

Tujuan Penciptaan Alam Semesta

Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keberadaan alam semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaan Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang menciptakan alam semesta.

Omar menjelaskan bahan alam semesta tercipta diperutukkan untuk manusia sebagai penerima amanah dengan menjadi khalifah di muka bumi ini. Al-Quran dalam hal ini menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta bertujuan bukan menjadi seteru bagi manusia, bukan menjadi penghambat manusia dalam berpikir dan berkembang, juga bukan menjadi musuh manusia, akan tetapi alam semesta diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bekerjasama dengan manusia dengan menggunakan alam sebagai sumber dan mediasi untuk mendapatkan respon ilmu yang dapat membantu mereka dalam menjalankan amanah yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah dalam menjalankan roda kehidupan dan serta dalam menjalankan kemaslahatan umat manusia seluruhnya.

Kemudian juga di terangkan bahwa alam semesta merupakan ladang ilmu bagi manusia yang darinya dapat diperoleh berbagai manfaat dalam memenuhi segala kebutuhan manusia yang pada akhirnya manusia itu akan dituntut untuk dapat mensyukuri atas apa-apa yang mereka peroleh dan mereka nikmati dari pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini terlihat dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat an-Nahl [16], ayat 14, yang berbunyi: “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.

Untuk lebih jelas bagaimana hakikat dari tujuan serta penciptaan alam semesta adalah sebagai berikut:

  1. Penciptaan alam semesta bertujuan untuk memperlihatkan kepada mamusia bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Pencipta seluruh alam dengan segala kemuliaanNya dan segala kekuasaan-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat al-Dukhan (44), ayat 38-39, yang berbunyi: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.
  2. Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan alam semesta ini adalah untuk memperlihatkan kepada mantisia akan tanda-tanda ayah atas keberadaan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Fushshilat (41), ayat 53 yang berbunyi: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
  3. Alam semesta diciptakan sebagai bahan dan sumber pelajaran serta pengamatan bagi manusia untuk menggali khazanah rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan akal dan pengamatan untuk dapat menyumbangkan suatu kebajikan dan faedah manusia seluruhnya yang pada akhirnya manusia akan memahami apa hakikat diciptakannya semesta ini. Hal ini tertera dalam Surat Yunus [10], ayat 4 yang berbunyi: “Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali sebagai janji yang benar daripada Allah. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit, agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka”.
  4. Alam semesta diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kepentingan manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia selama hidup di permukaan bumi ini. Oleh karenanya alam telah ditundukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka, sebagai tempat tinggal bagi manusia, ini dimaksudkan agar manusia mudah dalam memahami alam semesta dan tahu bagaimana cara memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Salah satu ayat yang menerangkan akan hal ini terdapat dalam Surat Ibrahim (14), ayat 33 yang berbunyi: “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya) dan menundukkan bagimu malam dan siang”.(Lilis Romdon Nurhasanah dan Redmon Windu Gumati, 2021: 64-69).

BACA : Konsep Pendidikan Islam

Peran Manusia dalam Alam Semesta

Hubungan Historis Asal usul manusia dikaitkan dengan keberadaan alam semesta ini dilandaskan pada adanya persamaan bentuk morfologis dan fisiologis (dan alasan yang bersifat ideologis). Pada abad ke 19 muncul suatu pemahaman asal usul manusia yang dikaitkan dengan primata. Penciptaan manusia pada awal kehidupan dari Ramapithecus-Oseopithecus-Australopithecus-Pitecanthropus-Erectus-Neandertal-Homo Sapien yang kini dikenal sebagai manusia modern seperti sekarang ini. Dari evolusi awal terciptanya manusia yang rumit inilah ada hubungan historis/sejarah antara manusia dan alam semesta.

Kerumitan yang ada pada persoalan asal usul manusia hampir sama dengan kerumitan asal usul alam semesta. Apalagi jika dihubungkan bahwa evolusi manusia dahulu sampai sekarang sesungguhnya menyangkut perubahan gejala-gejala jagat raya/ alam meliputi tingkah laku, unsure, atom, dan elemen. Dari hal itulah terdapat hubungan historis antara manusia dan alam semesta.

Dalam sisitem kosmos, manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena memiliki keunggulan dalam system kesadaran, maka alam semesta menjadi obyek yang penting dalam kehidupan manusia. Seiring dengan kemajuan pengetahuan terhadap alam dan teknologi yang diterapkannya, menempatkan alam semesta dalam posisi sebagai sumber kehidupan yang tidak terbatas bagi manusia. Maka wajarlah jika semakin dalam pengetahuan semakin teraasa hubungan antara fungsi manusia dan fungsi alam.

Salah satu teori yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan alam adalah teori anthroposentris yang menyebutkan bahwa manusia menjadi pusat alam. Maksudnya semua yang ada di alam adalah untuk manusia, seperti firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 29 yang artinya: “Dan Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.”Menurut pandangan Islam, manusia ditempatkan sebagai Rahmat bagi alam. Seperti disebutkan dalam Q.S. Al Anbiya ayat 107 yang artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat seluruh alam.”

Pada intinya, alam dan manusia saling bergantung, alam menyediakan segala sesuatu yang manusia butuhkan, dan alam membutuhkan manusia untuk menjaga kelestariannya. Alam diciptakan oleh Allah sebagai objek untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan yang dimiliki manusia agar mereka bisa berkembang dan memakmurkan alam, dan mengetahui tanda- tanda kebesaran penciptanya, yaitu Allah SWT.

Salah satu teori yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan alam adalah teori anthroposentris yang menyebutkan bahwa manusia menjadi pusat alam. Maksudnya semua yang ada di alam adalah untuk manusia, seperti firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 29 yang artinya: “Dan Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” Menurut pandangan Islam, manusia ditempatkan sebagai Rahmat bagi alam. Seperti disebutkan dalam Q.S. Al Anbiya ayat 107 yang artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat seluruh alam.”

Pada intinya, alam dan manusia saling bergantung, alam menyediakan segala sesuatu yang manusia butuhkan, dan alam membutuhkan manusia untuk menjaga kelestariannya. Alam diciptakan oleh Allah sebagai objek untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan yang dimiliki manusia agar mereka bisa berkembang dan memakmurkan alam, dan mengetahui tanda-tanda kebesaran penciptanya, yaitu Allah SWT. (Dodi Ilham Mustaring, 2021: 38-39).

BACA : Halal bi Halal dan Doa Selamat Ibadah Haji Kepada Keluarga Besar MUI Kabupaten Asahan Tahun 1444 H

Fungsi Alam Semesta

  1. Sebagai Institusi Pendidikan Islam

Dalam perspektif Islam, manusia harus merealisasikan tujuan kemanusiaannya di alam semesta, baik sebagai syahid Allah, ‘abd Allah, maupun khalifah Allah. Dalam konteks ini, Allah Swt menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan keberadaan dan Kemahakuasaan-Nya. Wujud nyata yang menandai syahadah itu adalah penunaian fungsi sebagai makhluk ‘ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai khalifah. Dalam hal ini, alam semesta merupakan institusi pendidikan, yakni tempat di mana manusia dididik, dibina, dilatih, dan dibimbing agar berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya sebagai ‘abd Allah dan khalifah (‘amal ‘ibadah dan ‘amal shalfh). Melalui proses pendidikan di alam semesta inilah, kelak Allah Swt akan menilai siapa di antara hamba-Nya yang mampu meraih ‘markah’ atau prestasi terbaik (ahsan ‘amal).

Pendidikan Islami, dalam penyusunan dan pengembangan kurikulumnya, harus mengacu kepada konsepsi Islam tentang alam semesta. Dalam konteks ini, selain sebagai institusi pendidikan, alam semesta ini juga merupakan wilayah studi yang menjadi objek telaah atau kajian pendidikan islami. Karena alam semesta ini terdiri dari alam syahadah dan alam ghaib, maka sebagai wilayah studi, objek telaah pendidikan islami tidak hanya berkaitan dengan gejala-gejala yang dapat diamati indera manusia (fenomena), tetapi juga mencakup segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera (noumena).

Karena menyangkut hal-hal yang konkrit, maka keberadaan alam syahadah sebagai objek kajian pendidikan Islami menghendaki aktivitas pengamatan inderawi, penalaran rasional, dan eksperimentasi ilmiah. Sementara itu, untuk memahami dan meraih pengetahuan tentang alam ghaib, maka dibutuhkan aktivitas supra inderawi dan supra rasional. Karenanya, dalam pendidikan islami, ilmu-ilmu pengetahuan yang akan ditransformasikan ke dalam diri peserta didik tidak hanya terbatas pada pengetahuan inderawi dan rasional, tetapi juga ilmu-ilmu laduny, isyraqi, iluminasi, dan kewahyuan. (Al Rasyidin, 2018: 12).

  1. Sebagai Sumber Pendidikan Islam

Lahirnya filsafat pendidikan tentang alam berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan alam yang dilandasi oleh hal-hal berikut: a) Sebelum manusia dilahirkan, Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya. b) Manusia adalah bagian dari alam. c) Manusia diberi akal untuk mengeksploitasi alam. d) Manusia memiliki nafsu untuk mengetahui semua yang dilihat dan darasakannya. e) Manusia tidak merasa puas dengan yang telah diperolehnya. f) Manusia memiliki fleksibilitas dengan kehidupan alam. g) Manusia berusaha menaklukkan alam dengan mempelajari berbagai gejala alamiah. h) Ilmu pengetahuan manusia semakin bertambah karena perubahan alam. i) Perubahan pada alam merangsang manusia untuk terus melanjutkan kehidupannya dari generasi ke generasi berikutnya. j) Komunikasi manusia dengan alam merupakan bagian dari ibadah kepada Allah karena Allah memerintahkan manusia agar memelihara alam dengan baik dan benar. k) Allah hanya mewariskan alam ini kepada manusia karena manusia adalah makhluk yang berfikir. (Anas Salahuddin, 2011: 99).

Kesimpulan 

Dalam pandangan Islam yang disebut alam adalah segala sesuatu selain Allah Swt. Alam bukan hanya apa yang tampak (syahadah) oleh indra saja, melainkan ada alam yang tidak tampak oleh indra (ghaib). Alam semesta yang diciptakan oleh Allah ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa bagi semua makhluk. Oleh karenanya setiap makhluk dituntut untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari ciptaanNya, dengan itu diharapkan keimanan dan ketakwaannya akan semakin bertambah.

Alam semesta diciptakan melalui proses yang sangat panjang, dari berbagai macam literatur bisa kita baca dan temukan bahwa banyak sekali teori-teori para ilmuan ternama yang telah mengungkap bagaimana sebenarnya proses terbentuknya alam raya ini teori Big bang misalnya dan masih baanyaak teori lainnya seperti yang telah diungkapkan pada bahagian terdahulu. Ternyata, semua hasil pengamatan tersebut tidak lari dari apa yang terdapat didalam ayat Alquran yang sejak 14 abad lalu telah dijelaskan.

Tujuan alam ini diciptakan pada dasarnya sebagai sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt. Adapun implikasi dari esensi alam semesta terhadap pendidikan Islam adalah untuk merealisasikan tujuan kemanusiaan di bumi ini, baik sebagai syahid Allah, ‘abd Allah maupun khalifah Allah.dalam konteks ini Allah menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan keberadaan dan kemahakuasaanNya.

Wujud nyata yang menandai syahadah itu adalah penunaian fungsi sebagai makhluk ‘ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai khalifah. Dalam hal ini alam semesta merupakan institusi pendidikan, yakni tempat dimana manusia dididik, dibina, dilatih dan dibimbing agar berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya.

Perlu pemahaman yang mendalam bagi setiap muslim tentang esensi alam semesta. Oleh karenanya bisa dimulai melalui pembiasaan mencintai lingkungan sekitar seperti membuang sampah pada tempat yang layak. Caranya dapat kita mulai dengan mengintegrasikan pendidikan Islam berbasis cinta lingkungan pada setiap lembaga pendidikan melalui kurikulum atau pembiasaan kepada siswa. Sekolah/Madrasah perlu menerapkan hal ini. Sehingga untuk bisa sampai kepada pemahaman esensi alam semesta yang utuh terlebih dahulu dimulai dari mencintai lingkungan sekitar.

Berita Terkait

Keunikan di Balik Menu Olahan Daging Kurban Idul Adha
Pendidikan Profesi Guru dalam Jebakan Kurikulum Pendidikan Indonesia
Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?
UU Penyiaran Mempermudah Sebagian Masyarakat
Efek Perlokusi Baliho Menjelang Pilkada
Pentingnya Penataan dan Regulasi yang Pro Tranportasi Publik dan Massal
PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI
Basis Nilai Sejarah PKO Bagi RS.PKU
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Juni 2024 - 19:25 WIB

Keunikan di Balik Menu Olahan Daging Kurban Idul Adha

Rabu, 12 Juni 2024 - 08:07 WIB

Pendidikan Profesi Guru dalam Jebakan Kurikulum Pendidikan Indonesia

Senin, 10 Juni 2024 - 21:50 WIB

Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?

Senin, 10 Juni 2024 - 16:47 WIB

UU Penyiaran Mempermudah Sebagian Masyarakat

Senin, 10 Juni 2024 - 00:28 WIB

Efek Perlokusi Baliho Menjelang Pilkada

Rabu, 22 Mei 2024 - 15:04 WIB

Pentingnya Penataan dan Regulasi yang Pro Tranportasi Publik dan Massal

Senin, 6 Mei 2024 - 17:38 WIB

PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI

Minggu, 5 Mei 2024 - 21:40 WIB

Basis Nilai Sejarah PKO Bagi RS.PKU

Berita Terbaru

Artikel

Qurban dan Makna Keikhlasan di Universitas Ibnu Chaldun

Selasa, 18 Jun 2024 - 15:26 WIB

Berita Utama

Polres Bengkayang Serahkan 5 Ekor Sapi dan 3 Kambing Kurban

Selasa, 18 Jun 2024 - 12:52 WIB