Butuh Hikmat Bukan Nikmat

- Jurnalis

Senin, 19 Desember 2022 - 20:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA, Meepago- Butuh Hikmat Bukan Nikmat

Oleh: Aleks Giyai 

Pada suatu sore; ada engkau, dulu, dulu sekali. Sekali bagian daun bibir! aku mencium sajak-sajakmu yang bertoreh tentang keringkihan hati. Di sebelah bagian dagu! Aku kecup cerita-ceritamu yang mengurai tentang jiwa yang terkulai di persada tanah air atau cerita kisahmu.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Butuh Hikmat Bukan Nikmat Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku ingin jadi apa saja bagimu, saat-saat itu; angin kecil berdiam di alismu, atau sebutir peluh dalam keluhmu. Aku ingin menjadi sesuatu yang melekat dalam ceritamu, sehingga ketika orang melihat kau pun melihat aku atau ketika kau berkisah selalu ada cerita tentangku.

BACA :  SAJAK SE'I TEMIANG

Perempuan itu selalu menggenggam erat tangannya, meski penuh bercak-bercak pilu. Ia memeluk air mata, walaupun isak tangis tak merinai di pipi. Menemanimu duduk, mengurai kata-kata getir di secangkir imajinya dan bisa menawar perih untuk melepaskannya.

Aku sengaja menyamarkan diriku agar kamu tak mengenaliku. Jika sudah seperti itu, semoga rindu tak bersuara di hatimu. Mencintaimu membuatku semakin menderita, itu lebih baik daripada memilikimu tanpa rasa cinta.

BACA :  Puisi: Tanya

Siapakah gerangan yang telah mengiris bibirmu setipis ini? Aku yang tersayat bahkan tak merasakan pedihnya. Berbekal rindu bergemuruh, menuju padamu dan kugenggam sungguh eratnya, bahwa kau hanya bayangan bukan nyata. Menjemukan tapi selalu ingin dipertemukan.

Kini, senyap dan tak tampak. Tiada suara, tinggal malam dalam hening yang senyap. Aku ingin menikmati matahari terbenam denganmu, bersandar di pundakmu, dengan dua cangkir kopi manis. Sambil melempar tawa dan membagi cerita-cerita.

BACA :  PULANG

Wahai kekasih, cintailah kepada yang memberi hikmat bukanlah terlalu terlena mencintai pada yang memberikan nikmat. Karena kehidupan membutuhkan hikmat bukan nikmat. Teruslah berpuisi tentang cinta. Selama ‘cinta’ yang kau tunjukkan adalah hikmah bukan nikmat bagi sesama terutama tanah air.

Meepago, 12/12/2022
Oleh: Aleks Giyai

Berita Terkait

Pasraman Kilat Spesial Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun 2024
Ratusan Umat Hindu di Bandung Raya Saksikan Pertemuan Mengharukan 2 Orang Sulinggih Kebanggaan Warga Jawa Barat
Peringatan Hari Santri, SMK Marif 1 Semaka Raih Sejumlah Penghargaan
Siswi SMK Maarif 1 Semaka Juara 2 Semarak Bahasa dan Seni (SBS) Universitas Lampung
Toko Buku Indie di Jogja Yang AmoYatt kenal
BP3OKP-RI Kesin Barunya UP4B di Papua oleh Jakarta
Puisi Rindu Keadilan Dina Loren
HIDUP BAGAIKAN AIR TANPA WARNA PART 1
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 15:44 WIB

Pasraman Kilat Spesial Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun 2024

Sabtu, 10 Februari 2024 - 20:01 WIB

Ratusan Umat Hindu di Bandung Raya Saksikan Pertemuan Mengharukan 2 Orang Sulinggih Kebanggaan Warga Jawa Barat

Rabu, 18 Oktober 2023 - 17:25 WIB

Peringatan Hari Santri, SMK Marif 1 Semaka Raih Sejumlah Penghargaan

Senin, 9 Oktober 2023 - 11:58 WIB

Siswi SMK Maarif 1 Semaka Juara 2 Semarak Bahasa dan Seni (SBS) Universitas Lampung

Sabtu, 19 Agustus 2023 - 19:53 WIB

Toko Buku Indie di Jogja Yang AmoYatt kenal

Rabu, 31 Mei 2023 - 09:28 WIB

BP3OKP-RI Kesin Barunya UP4B di Papua oleh Jakarta

Kamis, 18 Mei 2023 - 05:10 WIB

Puisi Rindu Keadilan Dina Loren

Selasa, 25 April 2023 - 07:54 WIB

HIDUP BAGAIKAN AIR TANPA WARNA PART 1

Berita Terbaru