Artikel : Pikiran dan Bahasa

- Jurnalis

Rabu, 31 Mei 2023 - 03:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Maikel Gobai

SUARAUTAMA.ID -Artikel —   bahasa merupakan  objek  pikiran.

Maka, Sebelum kita di ulaskan secara kolektif tentang pikiran  dalam  fenomena dan fakta ;  Insan haruskan dan mempu mengkategorikan   perbedaan perbedaan antara pemikiran , Pikiran, serta Pikir  dan  bahasa untuk mengetahui kerangkaan Nya.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Artikel : Pikiran dan Bahasa Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh sebab itu, secara etimologi pemikiran adalah sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman sebagaimana diterima dari masyarakat sekeliling.

Sedangkan  Pikiran adalah gagasan dan proses mental.
Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan. Kata yang merujuk pada konsep dan proses yang sama diantaranya kognisi, pemahaman, kesadaran, gagasan, dan imajinasi.

Maka dengan itu, Bahasa merupakan dimana Ruang kepastian   dan penempatan untuk menciptakan  sebuah perangkat lunak yang  dapat di  dengar  oleh indrah manusia secara lisan dan dapat di rasahkan melalui perumusan sesuatu dalam fikrum yang terbatas.

Sehingga ,  Jika kita menahan pikiran pada semua hal penting dalam hasrat untuk berekspresi, kita mendapatkan gambaran baru tentang perilaku manusia.

bergulat dengan sekadar penyajian kenyataan  “fakta” sebelum ia dapat bernalar tentang objeknya. Proses membayangkan fakta , nilai, harapan, dan ketakutan telah mendasari seluruh pola perilaku kita; dan proses ini tercermin dalam evolusi fenomena yang selalu luar biasa, dan hanya dalam masyarakat manusia –  ialah fenomena bahasa.

Bahasa adalah pencapaian tertinggi dan paling menakjubkan dari pikiran manusia simbolis. Kekuatan yang dianugerahkannya hampir tak ternilai, karena tanpanya apa pun yang disebut “pikiran” menjadi tidak mungkin. Garis antara manusia dan binatang – antara kera tertinggi dan yang paling liar – adalah garis bahasa. Permasalahannya bukan pada apakah misalnya manusia primitif Neanderthal merupakan sosok antropoid atau manusia yang tidak terlalu bergantung pada kapasitas tengkoraknya, postur, ketegakan tubuhnya, atau bahkan penggunaan alat dan apinya. Pada satu masalah yang mungkin tidak akan pernah bisa kita selesaikan – melainkan apakah ia berbicara atau tidak.

Dalam semua ciri fisik dan tanggapan praktis, seperti keterampilan dan penilaian visual, kita dapat menemukan kesinambungan tertentu antara mentalitas binatang dan manusia. Penggunaan tanda adalah fungsi yang terus berkembang dan terus meningkat di seluruh kerajaan binatang, dari cacing bertingkat rendah yang menyusut ke dalam lubang karena suara kaki yang mendekat, hingga anjing yang mematuhi perintah tuannya, dan bahkan hingga ilmuwan terpelajar yang mengawasi pergerakan jarum indeks.

Kesinambungan kemampuan manusia menggunakan tanda telah membawa para psikolog pada keyakinan bahwa bahasa berevolusi dari ekspresi vokal, gerutuan, dengusan, dan tangisan, di mana binatang melampiaskan perasaan mereka atau memberi isyarat kepada sesamanya; hal yang mana manusia telah mengembangkan persekutuan semacam ini hingga pada titik di mana yang memungkinkan pertukaran ide sempurna.

Saya tidak percaya bahwa doktrin asal mula bahasa ini benar. Esensi bahasa adalah simbolik, bukan signifikansi; kita menggunakannya pertama-tama dan paling vital guna merumuskan dan menyimpan ide-ide dalam pikiran kita sendiri. Konsepsi, bukan kontrol sosial, adalah keuntungan pertama dan yang paling utama.

BACA JUGA :  Kelola THR, Rayakan Lebaran tanpa Beban

Perhatikan seorang anak kecil yang baru belajar bermain percakapan dengan mainannya; dia mengatakan nama objek, misalnya: “Kuda ! Kuda! Kuda !” terus menerus, ia melihat objek, memindahkannya, selalu menyebut nama tersebut bagi dirinya sendiri atau dunia yang lebih luas.

Cukup lama sebelum dia berbicara dengan seseorang secara khusus; dia berbicara pertama-tama kepada dirinya sendiri. Ini adalah cara untuk membentuk dan menetapkan konsepsi objek dalam pikirannya, dan membuang reaksi praktis kita di masa depan atas dunia sekitar kita, sekaligus menjadi simbol, gambar yang mewakili ide-ide kita tentang hal-hal; dan kecenderungan untuk memanipulasi ide, untuk menggabungkan dan mengabstraksikan, mencampur dan memperluasnya dengan bermain dengan simbol, seluruhnya adalah karakteristik manusia yang luar biasa. Tampaknya itulah yang dilakukan otak manusia secara paling alami dan spontan. Karenanya, fungsi mental primitif manusia tidak menilai kenyataan, tetapi memimpikan keinginannya.

Untuk tujuan ini, bayi atau anak kecil menggunakan kata jauh sebelum ia meminta kehadiran objek; ketika ia menginginkan kudanya, ia cenderung menangis dan resah, karena ia bereaksi terhadap lingkungan yang sebenarnya tidak membentuk ide. Ia menggunakan tanda­-bahasa binatang untuk keinginannya; karena berbicara merupakan proses simbolis yang murni – nilai praktisnya belum benar-benar membuat si bayi terkesan.

Bahasa tidak perlu vokal; mungkin bahkan murni visual, seperti bahasa tertulis, atau bahkan taktual (informasi meruang) seperti sistem bicara bisu-tuli; tetapi semuanya harus denotatif. Bunyi yang dimaksudkan atau tidak dimaksudkan, di mana binatang menggunakannya untuk berkomunikasi bukan merupakan bahasa karena hal tersebut adalah tanda, tidak menjadi nama. Mereka tidak pernah jatuh ke dalam pola organik, sintaks yang bermakna bahkan dari tipe yang paling mendasar sekalipun, karena semua bahasa tampaknya digunakan sebagai semacam kebutuhan yang mendorong. Itu karena tanda mengacu pada situasi aktual, di mana hal-hal memiliki hubungan yang jelas satu sama lain, ialah yang hanya perlu diperhatikan oleh manusia; tetapi simbol merujuk pada ide, yang secara fisik tidak ada, tidak dapat diperiksa, sehingga koneksi dan fiturnya harus diwakili. Hal ini mendorong semua bahasa sejati memiliki kecenderungan alami menuju pertumbuhan dan perkembangan, yang tampaknya hampir seperti kehidupan manusia sendiri. Bahasa tidak ditemukan; mereka tumbuh dengan kebutuhan kita untuk berekspresi.

Sebaliknya, “ucapan” binatang tidak pernah memiliki struktur. Hal tersebut hanyalah tanggapan emosional. Kera mungkin menyambut jatah ubi mereka dengan teriakan “ Tidak ” Tapi mereka tidak mengatakan “ tidak ” di antara waktu makan. Jika mereka bisa berbicara tentang ubi mereka alih-alih menyambut ubi-ubi tersebut, mereka akan menjadi manusia paling primitif dibanding menjadi binatang yang paling antropoid. Mereka akan memiliki ide, dan saling menceritakan hal-hal yang benar dan salah, yang rasional atau irasional; mereka akan membuat rencana, menciptakan hukum serta menyanyikan pujian mereka sendiri, seperti yang dilakukan manusia.

Berita Terkait

Perjuangan Pendamping Proses Produk Halal (P3H): Tantangan dan Kontribusi dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia
Sertifikasi Halal Self Declare Program Sehati BPJPH : Tantangan dan Upaya Pemerintah dalam Mendukung UMKM di Indonesia
Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?
Kepengasuhan Orangtua kepada Anak adalah Nomor 1 dari Pendidikan Sekolah
Panutan!! Feby Anazmi Gadis Cantik Kepala Desa Banjar Berhasil Memperjuangkan Kesejahteraan Rakyat
Surat balasan kepada Santri
Seorang Pejuang Harus Percaya Diri, Jangan  Pernah Ada Kata Tidak Pede
Yuk Mendoakan Kebaikan Saudara Kita, Bukan Mencaci Maki Saat Bersalah
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 06:58 WIB

Perjuangan Pendamping Proses Produk Halal (P3H): Tantangan dan Kontribusi dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia

Selasa, 11 Juni 2024 - 08:50 WIB

Sertifikasi Halal Self Declare Program Sehati BPJPH : Tantangan dan Upaya Pemerintah dalam Mendukung UMKM di Indonesia

Senin, 10 Juni 2024 - 21:50 WIB

Juru Parkir Liar : Ikhlas atau Terpaksa ?

Jumat, 7 Juni 2024 - 20:04 WIB

Kepengasuhan Orangtua kepada Anak adalah Nomor 1 dari Pendidikan Sekolah

Jumat, 7 Juni 2024 - 07:56 WIB

Panutan!! Feby Anazmi Gadis Cantik Kepala Desa Banjar Berhasil Memperjuangkan Kesejahteraan Rakyat

Jumat, 7 Juni 2024 - 06:37 WIB

Surat balasan kepada Santri

Kamis, 6 Juni 2024 - 16:34 WIB

Seorang Pejuang Harus Percaya Diri, Jangan  Pernah Ada Kata Tidak Pede

Rabu, 5 Juni 2024 - 20:46 WIB

Yuk Mendoakan Kebaikan Saudara Kita, Bukan Mencaci Maki Saat Bersalah

Berita Terbaru

Berita Utama

Antusias Pengunjung Hotel Grand Verona Naik Jelang Iduladha

Rabu, 12 Jun 2024 - 07:29 WIB